Matahari Bakar Bumi Lebih Cepat, Lautan Akan Mendidih

Reporter : Puri Yuanita
Rabu, 21 September 2016 08:01
Matahari Bakar Bumi Lebih Cepat, Lautan Akan Mendidih
Namun manusia mungkin sudah punah jauh sebelum hal itu terjadi.

Dream - Sekitar lima miliar tahun yang akan datang, Matahari akan membesar dan menelan planet Bumi, sehingga membunuh apa pun yang ada di permukaannya.

Itulah gambaran yang diutarakan oleh astrofisikawan Jillian Scudder. Namun manusia mungkin sudah punah jauh sebelum hal itu terjadi.

Scudder, ilmuwan dari University of Sussex mengatakan, Bumi akan terasa panas lebih cepat dari yang diperkirakan. Sebab Matahari bersinar lebih terang 10% setiap satu miliar tahun.

" Prediksi tentang apa yang sebenarnya akan terjadi pada Bumi ketika matahari bersinar lebih terang setiap satu miliar belum bisa diketahui dengan pasti," kata Scudder kepada Business Insider.

Namun, lanjut Scudder, meningkatnya panas dari Matahari akan menyebabkan lebih banyak air yang menguap dari permukaan Bumi dan tertahan di atmosfer.

1 dari 2 halaman

Lautan Mendidih

Lautan Mendidih © Dream

Air yang menguap tersebut kemudian bertindak sebagai gas rumah kaca, yang memerangkap lebih banyak panas yang masuk ke Bumi sehingga mempercepat proses penguapan.

" Pada saat sinar Matahari 40% lebih terang, panasnya akan mendidihkan lautan Bumi dan menghilangkan semua kelembaban di atmosfer," jelas Scudder.

Pada saat semua ini terjadi, apa pun yang ada di Bumi telah lama musnah. Jauh sebelum Matahari benar-benar membesar dan menelan Bumi miliaran tahun kemudian.

(Sumber: Metro.co.uk)

2 dari 2 halaman

Badai Matahari Super Ancam Bumi, Tinggal Tunggu Waktu

Badai Matahari Super Ancam Bumi, Tinggal Tunggu Waktu © Dream

Dream - Seorang ilmuwan memperingatkan terjadinya badai matahari super yang dapat mengancam kehidupan di muka bumi. Badai tersebut disebabkan oleh letusan luar biasa di permukaan matahari yang dampaknya bisa sampai ke bumi.

Badai matahari super ini akan mendatangkan malapetaka di muka bumi, terutama sistem komunikasi dan pasokan energi, termasuk listrik. Sarana transportasi terancam lumpuh. Demikian pula pasokan obat-obatan.

" Tanpa energi, masyarakat akan bersaing untuk mengisi bahan bakar di stasiun bahan bakar, mengambil uang cash atau membayar secara online," kata ilmuwan Ashley Dale dikutip Dream dari Daily Mail, Jumat 1 Agustus 2014.

" Air dan pembuangan kotoran akan terpengaruh juga, yang berarti epidemi kesehatan di wilayah perkotaan akan terancam dengan penyakit yang kita pikir telah hilang berabad silam akan kembali," tambah peneliti yang tergabung dalam Satuan Tugas Internasional yang disebut dengan nama Solarmax--bertugas mengidentifikasi risiko badai matahari. 

Badai matahari super ini disebabkan letusan yang disertai dengan coronal mass ejections atau CMEs. CMSe merupakan peristiwa paling enerjik dalam tata surya, termasuk gelembung raksasa yang mengandung medan plasma dan magnet yang dilontarkan dari permukaan matahari ke luar angkasa.

Peristiwa ini sering didahului oleh solar flare atau lidah matahari--pelepasan energi matahari dalam bentuk sinar gamma, sinar-X, proton dan elektron. Badai matahari super akan terjadi jika medan magnet yang terkandung dalam CME cukup untuk menyelubungi bumi.

Peristiwa itu akan menyebabkan lonjakan besar arus listrik di tanah dan jalur transmisi. Sehingga terjadi pemadaman listrik secara meluas dan merusak peralatan listrik. Peristiwa ini disebut blackout.

Dale, yang menempuh program doktor teknik kedirgantaraan di Universitas Bristol, mengatakan terjadinya badai matahari super itu tinggal menunggu waktu, sebelum badai matahari terdorong hingga ke bumi.

Badai matahari terbesar sepanjang sejarah terjadi pada tahun 1859 yang dikenal dengan peristiwa Carrington Event. Nama itu diambil dari astronot Inggris yang berhasil melihat lidah api sebelum terjadi badai matahari.

CME yang dilepaskan dalam peristiwa tersebut sekitar 1022 kJ atau setara dengan 10 miliar bom yang meledak di Kota Hiroshima. Peristiwa itu juga disertai lontaran partikel menuju ke arah bumi dengan kecepatan lebih dari 3.000 kilometer perdetik.

Namun, dampak terhadap manusia kala itu masih relatif ringan. Sebab, perangkat elektronik saat itu masih belum sebanyak sekarang. Kala itu, jaringan telegrap tidak lebih dari 200.000 kilometer.

Dale menyebut peristiwa seperti itu tidak bisa dihindarkan lagi. Ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, telah memprediksi bahwa bumi rata-rata berada pada situasi seperti peristiwa Carington setiap 150 tahun sekali.

Jika demikan prediksinya, peristiwa badai matahari super seperti Carington tersebut seharusnya terjadi lima tahun yang lalu. Dan kemungkinan peristiwa seperti itu akan terjadi pada dekade berikutnya.

 

Beri Komentar