Ustaz Marsudi Sedang Mengajar (Foto: Kitabisa.com)
Dream - Ini kisah mulia dari Ustaz Marsudin yang mengajar ngaji di pelosok Bali. Sudah 36 tahun mengabdi, dengan ikhlasnya ia tak mau mengambil upah.
Untuk bertahan hidup Ustaz Marsudin lebih memilih berjualan kangkung, jika dagangannya tak laku atau tak dapat pemasukan, ia rela makan nasi aking ataupun berpuasa.
Semua ini dijalaninya demi mensyiarkan agama Islam di Bali. Harapan Ustaz Marsudin, ia ingin anak-anak di desanya mengenal dan menjalankan ajaran agama dengan baik. Begini kisah perjuangan Ustaz Marsudin.
Untuk menuju tempatnya mengajar ngaji, setiap hari ia harus berjalan cukup jauh. Melintasi sungai besar yang kapan saja bisa meluap menghanyutkan dirinya. Sungai yang dilaluinya tersebut merupakan jalur lahar Gunung Agung, namun ia tak punya pilihan lain.

Walaupun kondisinya demikian, Ustaz Marsudin tak pernah berhenti mengajar ngaji. Dengan tekun, ia mengajar puluhan anak untuk membaca dan menghafal Alquran, serta ibadah-ibadah lainnya. Demi semua itu, ia rela tak diberi upah ataupun imbalan.

“ Puluhan tahun ia jalani namun tak pernah sedikit pun ia diberi ataupun mendapatkan imbalan atas upayanya,” dikutip dari keterangan informasi.
Demi bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya, Ustaz Marsudin mencari kangkung untuk ia jual agar hasil panennya dapat menghasilkan rupiah. Setelah lelah mencari kangkung, Ustaz langsung bersiap mengajar para santri di desanya.

Jika tidak ada pemasukan, Ustaz Marsudin akan menjemur sisa nasinya dan milik tetangga yang dikumpulkan, kemudian dijual ke orang yang mencari bahan pakan dan kerupuk. Pria paruh baya ini menjualnya dengan harga 1 kilogram senilai Rp2500.

“ Jauh dari kata cukup. Tapi bagi Ustad, yang penting ada lauk untuk keluarga. Ustad juga terbiasa berpuasa atau bahkan makan nasi aking. Jika memang tak ada uang sepeserpun,” dikutip dari keterangan informasi.
Sumber: kitabisa.com