Menlu Kecam Pengeboman Kedubes RI di Yaman

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 20 April 2015 19:23
Menlu Kecam Pengeboman Kedubes RI di Yaman
Menlu Retno menyatakan pengeboman ini merupakan bukti penyelesaian masalah dengan kekerasan hanya akan menimbulkan korban warga tidak bersalah.

Dream - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengecam pengeboman yang terjadi di Sana'a, Yaman. Pengeboman ini dianggap bukti penyelesaian konflik dengan kekerasan tidak akan efektif.

" Menlu RI mengecam keras serangan bom yang terjadi di Kota Sana'a, Yaman," ujar keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri yang diterima Dream.co.id, Senin, 20 April 2015.

Aksi serangan ini menimbulkan korban jiwa warga sekitar. Selain itu, serangan tersebut juga membuat sejumlah fasilitas umum rusak berat.

" Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa, pemboman ini merupakan bukti penyelesaian masalah melalui kekerasan hanya mengakibatkan korban warga yang tidak bersalah," katanya.

Atas hal itu, pemerintah mendesak agar para pihak yang bertikai dapat melakukan diplomasi. Hal ini untuk mencegah agar tidak lagi timbul korban yang semakin banyak.

" Indonesia juga meminta agar jeda kemanusiaan segera diterapkan sehingga warga sipil termasuk warga negara asing dapat segera keluar dari Yaman dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Yaman," jelasnya.

Lebih jauh, Retno mendesak kedua belah pihak yang terlibat konflik untuk mematuhi hukum internasional.

" Indonesia juga meminta agar semua pihak yang bertikai menghormati aturan dan hukum internasional khususnya terkait perlindungan warga sipil termasuk pelbagai resolusi PBB terkait," terangnya. Berikut detik-detik pengeboman itu. (Ism) 

 

1 dari 3 halaman

KBRI Yaman Dibom, 3 Orang Luka

KBRI Yaman Dibom, 3 Orang Luka

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Yaman yang berlokasi di Sanaa dibom hari ini pukul 10.45 waktu setempat. Sebanyak tiga orang mengalami luka ringan dalam insiden tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam konferensi pers di sela-sela penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Jakarta.

" Serangan tersebut telah mengakibatkan terlukanya beberapa staf diplomat dan rusaknya Gedung KBRI serta seluruh kendaraan milik KBRI yang berada di area tersebut," ujar Retno di JCC, Jakarta, Senin, 20 April 2015.

Retno mengatakan terdapat 17 orang yang berada di KBRI saat pengeboman terjadi. Mereka terdiri dari Staf KBRI Sana'a, tim relawan KBRI dari Jakarta, serta beberapa WNI yang mengungsi. Menurut dia, tidak ada korban yang mengalami luka serius.

" Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, namun terdapat dua orang staf diplomatik dan satu WNI mengalami luka ringan. Semua WNI sudah dievakuasi ke Wisma Duta di Sana'a," kata dia.

Berdasarkan informasi yang didapat, serangan ini ditujukan ke depot amunisi yang berada di sekitar kawasan. Serangan ini menyebabkan banyak korban dari warga sekitar dan merusak jalan-jalan di sekitar lokasi KBRI.

2 dari 3 halaman

MUI Desak Konflik Yaman Segera Diakhiri

MUI Desak Konflik Yaman Segera Diakhiri

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak konflik Yaman segera diakhiri. Jika semakin berlarut, konflik tersebut semakin memperbesar dampak yang merugikan bagi umat Islam Yaman maupun dunia.

" Dampak materil yakni kerusakan secara masif yang dialami umat Islam di Yaman bahkan umat Islam di dunia baik pihak yang menyerang atau yang diserang," ujar Ketua bidang Kerjasama dan Hubungan Internasional MUI Muhyiddin Junaidi di kantornya, Jakarta.

Meski demikian, Muhyiddin mengatakan MUI tetap mengambil sikap netral dan tidak membela siapapun pihak yang berkonflik. Menurut dia, MUI kini tengah mencari jalan tengah untuk mencegah agar Indonesia tidak terkena imbas dari konflik tersebut.

" Misi kita mengedepankan konsolidasi. MUI sebuah lembaga Islam yang menghimbau untuk segera mendamaikan agar tidak merugikan umat Islam dan merusak Islam di mata internasional," jelas Muhyiddin.

Selanjutnya, Muhyiddin meminta agar masyarakat tidak mudah terpancing dengan kabar yang beredar. Bahkan ia menghimbau sebisa mungkin umat Islam Indonesia menyaring secara ketat informasi yang diterima.

" Kita jangan sampai tereksploitasi untuk mengundang peperangan dan menimbulkan isu-isu. Kepada pemerintah kami minta untuk bisa berperan aktif menjadi juru damai. Kita harus menunjukkan high politic," terangnya.

Sementara Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menerangkan konflik Yaman mengandung efek domino yang bisa saja berdampak ke Indonesia. Atas hal itu, ia meminta peran pemerintah untuk melakukan mediasi antara dua belah pihak yang bertikai,

" Konflik di Yaman bisa melebar ke negara Arab bahkan ke Asia Tenggara. Kami hanya memberi pesan moral. Di sinilah melalui pemerintah Indonesia harus melakukan mediasi. Dan kami hanya bisa berupaya sebatas itu," terang Din.

Lebih lanjut, Din menerangkan MUI selalu berupaya untuk mencegah radikalisme. Secara tegas, ia menyatakan MUI menentang paham yang mengajarkan kekerasan.

" Ini adalah violence religious radicalism, ini yang kita bahas, dan kami sangat menentang. Tidak boleh lagi ada gaya kekerasan untuk menjaga kedamaian. Jangan mencoba memutuskan sendiri dan main hakim sendiri," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

2 Polwan Rela Masuk Wilayah Perang Yaman Demi Selamatkan WNI

2 Polwan Rela Masuk Wilayah Perang Yaman Demi Selamatkan WNI

Mabes Polri akan memberangkatkan satgas evakuasi yang terdiri dari tujuh anggota untuk membantu proses evakuasi WNI dari Yaman.

" Insya Allah besok tim akan diberangkatkan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Agus Rianto dikutip Dream.co.id dari akun Facebook Divisi Humas Polri, Rabu 1 April 2015.

Satgas evakuasi ini terdiri atas lima polisi pria dan dua polwan. Satgas ini merupakan personel gabungan dari beberapa fungsi di Mabes Polri seperti Divhubinter, Baharkam Polri, Badan Intelijen dan Keamanan, Lemdikpol serta Tim Kedokteran Kepolisian.

Kata Agus, mereka akan bertugas di Yaman selama minimal 14 hari. Dan akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di Yaman.

Ketujuh polisi ini akan dibagi dalam dua wilayah penugasan yakni Sana'a (Yaman) dan Salalah (Oman). Mereka akan membantu proses pengamanan dan pemulangan ratusan WNI tersebut.

" Mungkin untuk tahap pertama, para WNI akan ditampung di sejumlah kedutaan besar yang ada di sana," ujarnya.

Selanjutnya, Polri akan berkoordinasi dengan Kemlu dan Interpol terkait proses pemulangan WNI tersebut. Satgas tersebut akan bergabung dengan Tim Percepatan Evakuasi WNI dari Yaman yang dibentuk oleh Kementerian Luar Negeri.

Beri Komentar