Rara Isti Wulandari Saat Bekerja Di Mandalika (Kapanlagi)
Dream – Sudah satu jam lebih hujan turun deras di Stadion Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, petang itu, Minggu 20 Maret 2022. Hujan deras itu membuat balapan MotoGP yang sedianya akan berlangsung pukul 15.00 WIT itu terpaksa ditunda. Namun, perlahan-lahan, hujan deras yang disertai petir menggelegar itu pun mulai mereda.
Saat itu seorang pawang hujan tertangkap kamera tengah duduk berjongkok menghadap singing bowl buatan Tibet yang terbuat dari perunggu berwarna kuning keemasan. Tak lama dia duduk berjongkok.
Ia pun kemudian memasuki areal paddock. Paddock merupakan tempat untuk tim balap MotoGp meletakkan perlengkapan hingga mempersiapkan motornya. Ini merupakan jalur masuk dan keluar pembalap dari garasi ke trek balapan. Tak semua bisa masuk ke sana, selain pembalap dan kru balap.
Tapi wanita yang mengenakan helm proyek berwarna putih itu bisa masuk ke sana. Ia pun berjalan di aspal depan paddock di tengah rinai gerimis. Sesekali membunyikan singing bowl-nya, seraya berteriak ke awan ketika hujan mulai mereda.
Aksi pawang hujan wanita yang diliput oleh stasiun televisi Dorna sebagai penyelenggara balapan MotoGP petang itu, sontak menarik perhatian. Termasuk dari para pembalap dan kru yang menunggu hujan reda di paddock. Tak terkecuali pembalap motor Yamaha, Fabio Quartararo.
Fabio Quartararo lalu ikut memutar sendok es krim di tempat es krim yang sudah kosong untuk menirukan aksi pawang hujan wanita itu. Tak pelak aksi pembalap Yamaha itu membuat para kru dan penonton terbahak.
Entah benar karena pawang hujan atau tidak, 20 menit kemudian hujan berhenti. Lalu balapan pun bisa dimulai, meski lapangan sirkuit masih tergenang air.
Pawang hujan wanita itu pun viral di media sosial karena dianggap benar-benar bisa menghentikan hujan.
Namun, menurut Guswanto, Deputi Meteorologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), pawang hujan merupakan kearifan lokal dan sulit dibuktikan sains.
" Sebenarnya kalau dilihat pawang hujan itu adalah suatu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Secara saintis itu sulit untuk dijelaskan," kata dia pada wartawan seperti dikutip Liputan6.
Guswanto menyebut berhentinya hujan saat perhelatan MotoGP berlangsung bukan karena pawang hujan, melainkan karena durasi hujan sudah waktunya selesai.
" Buktinya kan dari awal pawang itu sudah bekerja, tapi kan enggak berhenti juga. Artinya, kemarin waktu berhentinya itu bukan karena pawang hujan, tapi karena durasi waktu hujannya sudah selesai," kata dia.
Faktor durasi menurutnya sudah dijabarkan dalam prakiraan cuaca BMKG. " Kalau dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu memang selesai di jam tersebut. Kira-kira jam 16.15 WIT itu sudah selesai, tinggal rintik-rintik, sehingga bisa dilakukan balapan kalau dilihat dari prakiraan nasional analisis dampak BMKG yang kita miliki,” jelas Guswanto.
Namun, terlepas dari sanggahan BMKG, di media sosial pawang hujan itu sudah terlanjur viral. Pawang hujan itu adalah Rara Isti Wulandari atau biasa dipanggil Mbak Rara.
***
Rara adalah wanita asal Yogyakarta. Ia lahir tanggal 22 Oktober 1983 di Jayapura, Papua. Usianya kini 39 tahun.
Di Youtube Karni Ilyas, Rara mengungkapkan dia sudah bekerja di sirkuit Mandalika sejak pre-season atau pra musim. Termasuk juga saat pengaspalan ulang sirkuit Mandalika di beberapa bagian. “ Jadi saya kerja sejak persiapan aspal. Saya bekerja selama 21 hari,” katanya.
Dia sudah bekerja di Mandalika sejak 1 Maret 2022. Pengaspalan ulang di Sirkut Mandalika selesai tanggal 9 Maret. Pada saat pengaspalan ulang, sejak tanggal 2-9 Maret 2002, menurut Rara, cuaca harus kering 24 jam. Tidak boleh ada hujan sama sekali.
Tapi, setelah pengaspalan sudah selesai, Rara diminta untuk menurunkan hujan supaya pengaspalan sempurna. “ Jadi yang minta hujan itu bule-bule,” katanya.
Ia mengaku mengenal Mr Jefri, Mr Campbell, dan Mr Alan, karena setiap hari dia jalan-jalan di lokasi proyek pengaspalan dan lalu lalang di sana. Saat itu Rara selalu menggunakan helm proyek dan kartu identitas atau ID Card. Ia mendekat ke bule-bule itu untuk berdoa dengan memukul singing bowl.
Setelah pengaspalan selesai, hujan kemudian turun tanggal pada tanggal 9,10,11,dan 12 Maret. Lalu cuaca cerah terus.
Pada saat pertandingan MotoGP, Rara diminta panitia agar cuacanya grizzling, lembab. Jangan terlalu kering. Karena suhu diharapkan maksimal 50 derajat celcius. Karena kalau terlalu panas, kata Rara, ban pembalap akan cepat aus. “ Saya juga sempat diolok-olok pawang hujan kehujanan,” ujarnya.
Saat ditanya siapa yang meminta jasanya, Rara menjawab dia direferensikan banyak pihak karena dia memang sudah terbiasa jadi pawang hujan. “ Salah satunya dari Kementerian BUMN. Dari Pertamina, dari MGPA, dari ITDC semacam itu,” ujarnya.
Ia mengaku sudah menjadi pawang hujan sejak kampanye pemilihan Presiden Jokowi tahun 2014. Waktu kampanye Jokowi itu juga dia mengaku pernah ketemu dan salaman dengan Jokowi. Tapi karena standar operasional prosedur atau SOP, foto dia dan Jokowi tidak boleh diunggah ke media sosial. “ Karena nanti ada pro kontra pak Jokowi kok menggunakan pawang hujan,” ujarnya.
Padahal, kata Rara, pawang hujan adalah tradisi kejawen. Pawang hujan itu biasa menggunakan cabe dan bawang yang ditusuk lidi. Terus kalau saat kampanye di GBK, dia menulis di atas kertas doa Tionghoa, lalu kertas doa itu dia bakar. Menurutnya dupa itu bisa menahan panas.
Ia juga mengaku menjadi pawang hujan saat kampanye Jokowi tahun 2019.
Pada tahun 2019, setelah pelantikan Jokowi yang terpilih kembali sebagai presiden, malamnya Rara mengaku ikut makan malam di Istana. Ia ikut makan malam dengan Jokowi bersama 100 relawan Jokowi.
***
Untuk momen Sirkuit Mandalika, dia mengaku sudah terbiasa berdoa di dalam stadion.
Tapi saat even digelar, pihak Dorna tidak memberi dia ID Card untuk masuk ke paddock, karena awalnya Dorna tidak percaya pada pawang hujan.
" Saya sepanyol, separuh nyolong-nyolong. Saya sudah bilang kalau saya nggak doa, nanti hujan. Ternyata hujan benaran. Akhirnya mereka mencari saya,” katanya.
Bersama MDPA, ITDC, Dorna mencari Rara. Maka ketemulah Rara. Lalu pihak Dorna memperbolehkan dia masuk ke paddock. Dalam bahasa Inggris, Rara bilang ke mereka untuk memberi kesempatan Rara berdoa. Caranya membiarkan Rara berjalan, membiarkan Rara ngobrol dengan awan, bicara dengan angin dan elemen tanah.

Lalu dia memukul singing bowl di sisi Utara, Selatan, Barat dan Timur. Setelah dia selesai. dalam bahasa Inggris dia bilang: " Tuan tunggu 10-15 menit, nanti hujan akan berhenti,” katanya. Akhirnya setelah 20 menit, hujan mereda, cuma gerimis. Kata Rara, gara-gara itu pihak Dorna percaya pawang hujan.
Saat bekerja di Mandalika, Rara memiliki tim. Asistennya ada dua orang. Muslim. Dan penduduk asli Lombok.
Untuk honor, Rara lugas menjawab: “ Saya dibayar 105 juta. Honor saya Rp 5 juta per hari. Itu honor kerja selama 21 hari. Tapi penginapan, tiket pesawat gratis.”
***
Saat kampanye Jokowi, dia mengaku ada yang gratis dan ada yang bayar. Ini menurutnya amat memantang karena pada saat kampanye capres-cawapres, dia bisa berada di tiga-empat lokasi berbeda dalam sehari. Saat kampanye Jokowi, dia dimintai bantuan oleh Tjahyo Kumolo.
Rara mengaku lahir di Papua. Besar di Yogya, dan senang di Bali, tapi sekarang dia lebih banyak tinggal di Jakarta untuk bekerja.
“ Saya non muslim, jadi yang saya baca mantera-mantera kejawen. Saya juga belajar tentang agama Hindu, sehingga saya juga baca Gayatri Mantra,” ujarnya.
Di Instagramnya, Rara mengaku secara blak-blakan sebagai penganut kejawen. “ Sudah jelas Rara penganut kejawen,” tulisnya di Instagram.
Ia mengaku pernah menikah. Tapi sekarang menjadi orang tua tunggal setelah bercerai tahun 2013. Anaknya satu orang. Laki-laki.
“ Kalau bude saya itu paranormalnya ibu Tien Soeharto. Bude Sri namanya. Umurnya sekarang 76 tahun, dan penghasilannya lebih besar dia daripada saya,” ucapnya.

Meski asli orang Yogya, tapi dia belajar tentang pawang hujan di Bali. Kalau di Bali, ujarnya, pawang hujan katanya disebut tukang terang. “ Saya satu-satunya pawang hujan yang sering kehujanan di Mandalika, sehingga di-bully di medsos,” jelasnya.
Ia menghabiskan pendidikan di Yogya. Ia sempat kuliah D3 di Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA jurusan pariwisata.
Sesudah Mandalika selesai, ia kini bekerja jadi pawang hujan untuk membangun aspal di Bandara Halim Perdanakusuma. Selama dua bulan.
“ Komentar saya pawang hujan memalukan, pawang hujan kehujanan, yang berjasa bukan Rara, kembali lagi eling lan waspada. Saya hanya menyuarakan singing bowl, meminta kepada Tuhan supaya harapan bangsa Indonesia terjadi. Kalau yang suka sama saya, bilang itu hasil kerja pawang hujan. Tapi bila yang negatif, itu anggap saja sebagai bonus dari doa. Kalau soal polemik soal gaji, gaji pawang hujan cuma Rp 100 juta, tapi even ini penghasilannya triliunan,” kata Rara di akhir wawancara.
***
Walau Rara viral di media sosial, aksi Rara belakangan juga dihujat oleh pemuka agama. Salah satunya oleh Pendeta Gilbert Lumoindong. Ia terkenal sebagai pembawa acara " Penyegaran Rohani Agama Kristen" di RCTI pada tahun 1992-1997.
Video Pendeta Gilbert viral di Twitter ketika dia mengomentari aksi Rara, Senin 28 Maret 2022. Ia menyebut aksi Rara sebagai kuasa kegelapan setan.
" Saya hormati penjilat-penjilat politik yang bilang oh ini (pawang hujan) benar. Itu bagus. Itu kearifan lokal. Jujur pada dirimu sendiri pakai akal sehat. Tutup kalau begitu semua rumah sakit. Tutup semua rumah sakit. Kan dulu kearifan lokal kita pergi ke dukun. Tapi kita kan mau tinggalkan seperti itu,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bangsa Indonesia adalah bangsa yang sudah maju. Para ustadz, para kyai, para pendeta mengingatkan pada setiap orang berdoa atau pergi kepada ahlinya. Dan juga pergi ke ahli sambil berdoa.
“ Tapi bukan meminta tolong dengan mantra-mantra, tenungan-tenungan, roh-roh kegelapan seperti ini. Karena kita percaya the developer not work for free, setan itu nggak pernah kerja gratis,” kata Pendeta Gilbert.
Pendeta Gilbert juga mengetuk hati Menteri BUMN, seseorang yang dia anggap sangat berprestasi. “ Bapak Erick Thohir, pak, masa kapasitas seperti bapak masih percaya pada dukun-dukun, masih percaya dengan paranormal-paranormal, masih percaya dengan klenik-klenik seperti itu. Sungguh sangat memalukan. Maaf pak saya sungguh menghormati bapak tetapi sebagai seorang hamba Tuhan saya berbicara kebenaran dan ini sangat memalukan apalagi di depan internasional seperti ini. Bangsa kita dianggap bangsa primitif, Pak,” tegasnya
Pendeta Gilbert juga menyingung Presiden Jokowi. “ Yang terhormat bapak Presiden, bapak juga ada di sana Pak, hentikan perbuatan-perbuatan seperti ini Pak. Kutuk akan terus ada dan kutuk iblis itu selalu meminta darah. Jangan kaget kalau bangsa ini akan terus ada darah. ada darah, ada darah yang tertumpah. Kenapa? Karena ada kutuk di balik meminta tolong apalagi ini di satu bangsa, ya kan acara internasional seperti ini berarti bangsa yang meminta tolong," ujarnya.
Saat Dream.co.id menanyai Rara lewat pesan Whastapp di nomer teleponnya tentang kritik Pendeta Gilbert, Rara menjawab singkat: “ Ya tidak apa-apa. Semua orang bebas mengkritik dan memuji.”
Begitulah kisah Rara. Pawang hujan MotoGP Mandalika. Aksinya yang viral memang dipuja, tapi sekaligus juga dihujat. (eha)