Foto Ilustrasi Wanita Muslim Di Inggris
Dream - Sumreen Farooq sering diperlakukan tidak sopan di jalanan London. Untuk itu saat berusia 18 tahun ia memutuskan mengambil sikap, yakni dengan mulai mengenakan hijab.
Farooq merupakan salah satu dari banyak perempuan muslim muda di Inggris yang memilih mengenakan hijab. Tujuannya tak lain untuk menunjukkan identitas agamanya di sekitar lingkungan mereka.
Meski akhir-akhir ini kekerasan terhadap umat Islam yang jelas-jelas menunjukkan identitas mereka meningkat.
Dalam berbagai studi dan wawancara, kaum perempuan di negara-negara minoritas muslim memakai hijab atas kehendak mereka sendiri. Sementara pada umumnya, media Barat selalu menggambarkan bahwa perempuan muslim dipaksa keluarga atau suami mereka untuk memakai hijab.
Tak lebih lima persen dari 63 juta penduduk Inggris merupakan muslim. Namun tidak ada angka resmi tentang berapa banyak perempuan muslim yang memakai hijab dan niqab.
Tapi tampaknya dalam beberapa tahun terakhir, perempuan Inggris yang memakai hijab untuk menegaskan identitas muslim mereka dan menampilkan keyakinan mereka secara terbuka, merasa diserang.
Shanza Ali, 25 tahun, mengatakan ibunya yang berasal dari Pakistan tak pernah memakai hijab. Namun Shanza dan adiknya, Sunda, memutuskan memakai hijab saat berusia 20 tahun.
" Saya memutuskan untuk membuat komitmen sebagai seorang muslim dan saya tidak pernah berhenti sejak itu," kata Shanza kepada Reuters dikutip Dream.co.id, Selasa 26 Agustus 2014.
" Kadang-kadang Anda lupa bahwa Anda menutupi rambut Anda, tetapi Anda tidak pernah lupa mengapa Anda memakainya. Yang perlu diingat, karakter harus lebih penting daripada penampilan."
Shaista Gohir, ketua Jaringan Perempuan Muslim Inggris, mengatakan lebih banyak perempuan memakai hijab sejak serangan di Amerika Serikat pada 11 September 2001 dan di London pada 7 Juli 2005. Meski mereka di bawah pengawasan politik dan publik yang lebih besar.
" Bagi beberapa perempuan muda itu adalah cara untuk menunjukkan mereka berbeda dan mereka adalah muslim," ujarnya. Perempuan yang secara terbuka menonjolkan identitas agama mereka dengan mengenakan atribut keagamaan akan menjadi target pengawasan publik.
Ada peningkatan dalam hal kejahatan yang didorong sikap anti-muslim yang mayoritas ditujukan kepada perempuan muslim. Meskipun demikian, semakin banyak perempuan muslim Inggris yang memilih untuk berhijab.
Menurut studi sebuah kelompok yang menamakan dirinya Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks), serangan terhadap perempuan muslim berhijab tidak bisa dikatakan sebagai situasional dan oportunistik. Masalahnya, serangan dilakukan dengan sengaja kepada perempuan muslim berhijab di jalanan. " Hal itulah yang menjadi masalah."
Sebuah studi tahun lalu oleh University of Birmingham menemukan, lebih dari 15 tahun perempuan muslim telah menjadi target anti-muslim berulang kali. Kendati demikian, tak satu pun dari perempuan yang diserang melepas hijabnya.
Sebuah studi internasional pada tahun 2012, yang dilakukan di Austria, India, Indonesia dan Inggris, menemukan bahwa mayoritas perempuan memakai hijab karena alasan kenyamanan, fashion, dan kesederhanaan.
Tapi dalam masyarakat minoritas, tanggapan perempuan lebih beragam. Mulai dari argumen agama untuk kenyamanan hingga melawan stereotip dan diskriminasi.
" Bagi perempuan di kelompok minoritas, hijab adalah cara untuk menegaskan identitas budaya mereka. Sebagai cara mengatasi pandangan negatif tentang komunitas muslim secara politik," kata peneliti Caroline Howarth, dari London School of Economics.
" Ini jelas-jelas bertentangan dengan pandangan negara-negara non-muslim di Barat bahwa hijab adalah simbol fundamentalisme agama dan penindasan patriarkal." (Ism)