Nota Keberatan Ferdy Sambo: Ungkap Detik-detik Pelecehan Seksual Brigadir J ke Putri Candrawathi

Reporter : Okti Nur Alifia
Senin, 17 Oktober 2022 16:16
Nota Keberatan Ferdy Sambo: Ungkap Detik-detik Pelecehan Seksual Brigadir J ke Putri Candrawathi
Ferdy Sambo menyesali kemarahan, kekalutan serta tak mampu berpikir jernih.

Dream - Ferdy Sambo melalui tim kuasa hukumnya membacakan nota keberatan atau eksepsi dari dakwaan kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Salah satunya terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J kepada istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

Tim pengacara Ferdy Sambo, Sarmauli Simangunsong menjelaskan dugaan pelecehan terjadi pada 7 Juli 2022 sekitar pukul 18.00 WIB.

Kejadian disebut terjadi setelah Ricky Rizal dan Richard Eliezer pergi meninggalkan rumah Magelang menuju SMA Taruna Nusantara untuk mengantar kebutuhan sekolah anak dari Ferdy Sambo. Sehingga dalam rumah tersebut hanya ada Kuat Ma’ruf dan asisten rumah tangga bernama Susi.

Kemudian Putri terbangun mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia melihat Brigadir J tiba-tiba masuk ke kamarnya. Brigadir J langsung melakukan pelecehan seksual terhadap Putri.

" Ricky Rizal dan Richard Eliezer sudah berangkat ke SMA Taruna Nusantara, Putri Candrawathi yang sedang tidur di kamarnya terbangun mendengar pintu kaca kamar miliknya terbuka (pintu kaca merupakan pintu yang memberi sekat antara tangga paling atas dengan lantai 2) dan mendapati Nofriansyah Yosua Hutabarat telah berada di dalam kamar. Tanpa mengucapkan kata apapun, Yosua membuka secara paksa pakaian yang dikenakan oleh Putri dan melakukan kekerasan seksual," kata Sarmauli di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 17 Oktober 2022.

1 dari 5 halaman

Menurut dia, kondisi Putri saat itu sedang sakit kepala dan tidak enak badan. Sementara, Brigadir J memegang tangan Putri dan membuatnya tidak berdaya.

“ Putri secara tidak berdaya hanya dapat menangis ketakutan dan dengan tenaga lemah berusaha memberontak,” jelas Sarmauli sambil menunjukkan bukti video BAP Putri Candrawathi Hal. 6 tertanggal 26 Agustus 2022.

Saat Brigadir J tengah melakukan pelecehan itu, terdapat suara dari bawah yang hendak mendekat kamarnya. Brigadir J yang panik menyuruh Putri untuk membukanya. Usai kondisi dirasa aman, pintu itu kembali ditutup.

" Lalu, Yosua menutup pintu kayu berwarna putih dan memaksa Saksi Putri untuk berdiri agar dapat menghalangi orang yang akan naik ke lantai 2 Rumah Magelang, namun Putri menolaknya dengan cara berusaha menahan badannya," urai Sarmauli.

 

2 dari 5 halaman

Sarmauli menilai, Yosua kesal dengan hal tersebut. Dia pun membanting tubuh Putri ke kasur dan kemudian kembali memaksa Putri untuk berdiri.

" Awas kalau kamu bilang sama Ferdy Sambo, saya tembak kamu, Ferdy Sambo dan anak-anak kamu!," ancam Yosua seperti ditirukan Sarmauli.

Usai ancaman itu, Brigadir J kembali membanting Putri ke kasur dan selanjutnya memaksa untuk keluar dari kamar. Putri yang melakukan perlawanan dengan sengaja menyenggol keranjang tumpukan pakaian yang terbuat dari plastik yang tidak memantulkan suara yang keras dan menendang-nendangkan kakinya ke pintu kasa dengan harapan ada seseorang yang dapat mendengarnya.

“ Namun sayangnya tidak ada orang yang dapat menghampiri sumber suara tersebut. sesuai dengan bukti vide BAP Putri CandrawathiHal. 6 tertanggal 26 Agustus 2022,” tutur Sarmauli.

3 dari 5 halaman

Tim Kuasa Hukum terdakwa Ferdy Sambo bakal berupaya membuktikan keterangan kliennya atas kesaksian tidak ikut menembak Brigadir J. Kuasa hukum membantah isi dakwaan yang telah dibacakan jaksa penuntut umum dalam perkara pembunuhan berencana.

" Saya pikir keterangan pak FS yang itu juga disampaikan ke kami beliau tidak pernah menembak langsung. Makanya nanti ini akan dikonfrontasikan antara apa yang disampaikan dakwaan JPU," kata Rasamala Aritonang Kuasa Hukum Ferddy Sambo kepada wartawan di PN Jakarta Selatan, Senin 17 Oktober 2022.

Dalil soal Ferdy Sambo ikut menembak Brigadir J usai ditembak lebih dulu oleh Bharada E, harus dibuktikan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dia berkukuh Ferdy Sambo tidak menembak Brigadir J.

" Pak FS tak pernah melakukan penembakan langsung. Tetapi itu dilakukan oleh Richard nah itu nanti akan kami sajikan faktanya sesuai yang kami terima," ucapnya.

Dia meyakini bakal ada saksi dan bukti yang menguatkan kliennya tidak menembak Brigadir J.

" Saya pikir kita mesti sabar menunggu sampai proses pembuktian nanti," tambahnya.

4 dari 5 halaman

Dalam eksepsi, tim kuasa hukum mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo menyebut kliennya berupaya menyelamatkan nyawa Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) dengan cara memanggil ambulans. Hal itu dilakukan usai Sambo meminta Bharada Richard Eliezer untuk menghajar Yosua.

" Ferdy Sambo yang kaget dan panik melihat penembakan Richard kemudian secara spontan megambil senjata jenis HS yang berada di belakang punggung Yosua. Di saat yang bersamaan, Sambo juga meminta untuk dipanggilkan ambulans, berharap Yosua segera mendapat pertolongan pertama," ujar tim kuasa hukum Ferdy Sambo.

Tim kuasa hukum menyebut, tembakan spontan ke tembok yang dilakukan Sambo semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan Richard Eliezer dari tuduhan pembunuhan.

5 dari 5 halaman

" Ferdy Sambo yang sedang kalut, merasa bahwa dengan membuat cerita seolah-olah terjadi tembak-menembak, maka nantinya Richard bisa lolos dari proses hukum," tutur kuasa hukum lagi.

Tim kuasa hukum menilai, kemarahan, kekalutan, dan ketidakmampuan berpikir jernih tidak perlu dilakukan Ferdy Sambo. Bahkan, Sambo diklaim masih menyesali sikapnya itu.

" Seharusnya ia lebih mampu mengontrol diri, sehingga aksi penembakan tersebut tidak perlu terjadi, meskipun memang di saat itu, sangat tidak mudah baginya untuk mampu mengontrol dan menguasai diri saat mengingat kejadian kekerasan seksual yang diceritakan istrinya beberapa saat sebelumnya," imbuhnya.

Beri Komentar