Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Peneliti sistem keamanan jaringan digital, Victor Gevers, mengungkap data keamanan 1,8 juta perempuan China yang berusia 15 hingga 39 tahun.
Data yang dibuka Victor tersebut mencangkup nomor telepon, koordinat GPS, foto profile, nomor identitas, dan status `breedready` atau dalam usia subur.
Sebanyak 89 persen data itu berasal dari perempuan yang tinggal di Beijing. Selain identitas, data yang ditemukan itu juga memuat status apakah si perempuan berada dalam pengawasan keamanan `HasVideo` atau apakah video mereka dapat diakses.
In China, they have a shortage of women. So an organization started to build a database to start registering over 1,8 million women with all kinds of details like phone numbers, addresses, education, location, ID number, marital status, and a ”BreedReady" status? ð�¤ï¿½ pic.twitter.com/fbRKsbNHPJ
— Victor Gevers (@0xDUDE)March 9, 2019
Menurut laman Bleeping Komputer, Victor menyebut sebagian besar perempuan yang ditemukan di data tersebut berstatus lajang dan berusia 15 tahun. " Ini tidak masuk akal," kata Victor, dikutip pada Selasa, 12 Maret 2019.
The youngest girl in this database is 15y old. The youngest woman with BreedReady:" 1" status is 18y. The average age is a bit above 32y, and the most aged woman with a BR:1 is 39 and with a BR:0 is 95y. All are single [89%], divorced [10%] or widow[1%]. About 82% lives in å��京å¸ï¿½. pic.twitter.com/qCP7FvFMB7
— Victor Gevers (@0xDUDE)March 9, 2019
Dalam unggahannya ke dunia maya, Victor tak menjelaskan secara detail pemilik data tersebut. Pada cuitan terakhirnya, dia menyebut database itu tak lagi dapat diakses melalui jaringan internet.
Dugaan Victor, data para perempuan itu berasal dari layanan kencan online di Beijing.
The unprotected database is not reachable anymore for the last 5 hrs. We will keep an eye on that IP address for a while to make sure it doesn't come back online. We still do not know how the owner was or what the database was actually designed for. When we do we will share this.
— Victor Gevers (@0xDUDE)March 11, 2019
Selain data itu, Victor juga menemukan penggalian data yang dia sebut `tidak bisa diabaikan`. Sepekan lalu, dia menemukan 18 database tanpa perlindungan dari enam platform media sosial di China.
Konten dari database tersebut berisi nama, nomor identitas, foto, lokasi GPS, info jaringan, percakapan publik dan pribadi, serta pertukaran data pribadi.