© Pexels.com/Eclipse Chasers
DREAM.CO.ID - Sepintas keduanya sering dianggap sama saja, sama-sama peristiwa langit yang membuat orang berbondong-bondong keluar rumah untuk mendongak. Padahal gerhana matahari dan gerhana bulan adalah dua fenomena astronomis yang berbeda secara mendasar, mulai dari cara terjadinya, kapan bisa disaksikan, hingga berapa lama fenomena itu berlangsung.
Dilansir dari NASA Science, perbedaan paling mendasar terletak pada posisi ketiga benda langit ini: Matahari, Bumi, dan Bulan. Gerhana matahari terjadi ketika Bulan menghalangi pandangan terhadap Matahari, sementara gerhana bulan terjadi ketika bayangan Bumi menutupi Bulan.
Pada gerhana matahari, Bulan berada di antara Matahari dan Bumi, sehingga Bulan menutupi Matahari dari sudut pandang penduduk Bumi. Ini berarti Bumi berada di dalam bayangan Bulan. Sebaliknya pada gerhana bulan, posisinya justru terbalik: Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga Bulan yang tenggelam dalam bayangan Bumi. Dari permukaan Bulan, seandainya ada yang bisa menyaksikannya, akan tampak Bumi menghalangi Matahari.
Kapan Masing-Masing Terjadi
Gerhana matahari hanya bisa terjadi saat fase Bulan Baru, ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Sebaliknya, gerhana bulan hanya terjadi saat fase Bulan Purnama, ketika Bumi berada persis di antara Matahari dan Bulan.
Menariknya, meski Bulan mengelilingi Bumi setiap bulan dan melewati fase baru maupun purnama secara rutin, gerhana tidak terjadi setiap bulan. Dilansir dari NASA Space Place, alasannya karena orbit Bulan mengelilingi Bumi sedikit miring dibanding orbit Bumi mengelilingi Matahari, sekitar lima derajat kemiringannya. Karena kemiringan ini, Bulan biasanya " meleset" dari jalur lurus yang dibutuhkan untuk menciptakan gerhana, sehingga gerhana hanya terjadi saat kedua orbit ini benar-benar sejajar pada titik tertentu.
Salah satu perbedaan paling mencolok antara keduanya adalah durasi kejadian. Gerhana bulan total berlangsung selama beberapa jam, dengan fase totalitas itu sendiri biasanya rata-rata berkisar 30 menit hingga lebih dari satu jam. Ini terjadi karena ukuran Bumi jauh lebih besar dibanding Bulan, sehingga bayangan inti (umbra) yang dihasilkan Bumi juga jauh lebih besar dan menyelimuti Bulan lebih lama.
Sebaliknya, fase totalitas pada gerhana matahari total hanya berlangsung dalam hitungan menit di satu titik lokasi tertentu di Bumi. Ini karena ukuran bayangan yang dihasilkan Bulan jauh lebih kecil dibanding ukuran Bumi, sehingga bayangan itu bergerak cepat melintasi permukaan Bumi dan hanya menutupi area sempit dalam waktu singkat.
© Dream
Perbedaan cakupan wilayah pengamatan juga sangat signifikan. Dilansir dari Adler Planetarium, gerhana bulan selalu terjadi sekitar dua minggu sebelum atau sesudah gerhana matahari, namun wilayah Bumi yang bisa menyaksikan keduanya belum tentu sama.
Gerhana bulan bisa disaksikan oleh siapa pun yang berada di sisi malam Bumi saat peristiwa itu terjadi, mencakup hampir separuh planet sekaligus. Sebaliknya, gerhana matahari total hanya bisa disaksikan dari jalur sempit tertentu di permukaan Bumi yang dilintasi bayangan inti Bulan, membuat gerhana matahari jauh lebih jarang bisa disaksikan langsung oleh satu lokasi tertentu dibanding gerhana bulan.
Satu titik tertentu di Bumi hanya akan mengalami kegelapan sesaat akibat bayangan Bulan kira-kira sekali setiap 375 tahun, jauh lebih jarang dibanding kesempatan menyaksikan gerhana bulan di lokasi yang sama.
Kedua jenis gerhana ini juga menghasilkan efek visual yang sangat berbeda. Pada gerhana matahari total, langit yang tadinya terang di siang hari mendadak gelap gulita selama beberapa menit, memperlihatkan korona Matahari yang biasanya tidak terlihat karena kalah terang oleh cahaya Matahari itu sendiri.
Sementara pada gerhana bulan total, Bulan tidak benar-benar menghilang dari pandangan meski berada penuh dalam bayangan Bumi. Selama gerhana bulan total, Bulan justru bersinar dengan cahaya kemerahan, hasil dari cahaya matahari terbit dan terbenam di seluruh Bumi yang dibelokkan oleh atmosfer Bumi dan diteruskan ke permukaan Bulan. Fenomena inilah yang melahirkan julukan populer " bulan darah" atau blood moon untuk gerhana bulan total.
Karena mekanismenya yang berbeda, waktu terjadinya kedua gerhana ini pun berlawanan. Gerhana matahari hanya bisa diamati pada siang hari, sebab fenomena ini terjadi saat Matahari sedang berada di atas horizon dan Bulan menghalanginya. Sebaliknya, gerhana bulan hanya bisa disaksikan pada malam hari, ketika Bulan berada di atas horizon dan memasuki bayangan Bumi.
Gerhana bulan cenderung lebih sering terjadi dibanding gerhana matahari, dengan kemungkinan nol hingga tiga kali gerhana bulan (baik sebagian maupun total) dalam satu tahun, meski tidak semuanya bisa disaksikan dari lokasi yang sama di Bumi. Sementara itu, gerhana matahari total atau cincin diperkirakan hanya terjadi sekitar setiap satu setengah tahun sekali di suatu tempat di Bumi, menjadikannya peristiwa yang jauh lebih langka untuk disaksikan secara langsung dibanding gerhana bulan.
Meski sama-sama melibatkan keselarasan Matahari, Bumi, dan Bulan, gerhana matahari dan gerhana bulan pada dasarnya adalah dua fenomena yang berkebalikan. Satu terjadi karena Bulan menghalangi Matahari di siang hari dan hanya terlihat dari area sempit tertentu, satunya lagi terjadi karena Bumi menghalangi cahaya Matahari dari Bulan di malam hari dan bisa disaksikan oleh hampir separuh penduduk planet sekaligus. Perbedaan mendasar inilah yang menjelaskan mengapa gerhana matahari total sering dianggap peristiwa yang jauh lebih langka dan istimewa untuk disaksikan dibanding gerhana bulan.
Advertisement
5 Pekerjaan yang Paling Banyak Dicari di Bidang Sustainability

Menunggu Nasi Goreng Megawati, Pertemuan Prabowo Belum Usai

IHSG Rebound di Penutupan Sesi I, Indeks Bluechips Terpeleset

Mikroplastik Masuk Tubuh Ibu Hamil dan Plasenta Janin di Makassar

5 Persen Bisa Mengubah Wajah Senayan, Siapa Bertahan?


Dari Svarnadwipa, Andalas, Samudera, hingga Sumatera, Banyak Nama untuk Satu Pulau

12 Tanda Awal Gangguan Pendengaran yang Sering Diabaikan dan Kerap Tak Disadari

Dikenal Penggemar Ular, Ilmuwan Namai Spesies Baru dari Papua Nugini dengan Nama Slash Guns N’ Roses


5 Pekerjaan yang Paling Banyak Dicari di Bidang Sustainability


IHSG Rebound di Penutupan Sesi I, Indeks Bluechips Terpeleset