Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Institut Virologi Wuhan akhirnya angkat bicara terkait banyaknya tudingan yang menyebut virus corona baru, Covid-19, sengaja dibuat oleh laboratoriumnya dan bocor sehingga menyebar.
Wakil Direktur Institut Virologi Wuhan, Yuan Zhiming, mengatakan, tudingan itu merupakan 'teori konspirasi' yang meresahkan masyarakat. Dia membantah virus tersebut buatan manusia.
Yuan menegaskan, laboratorium di institusinya memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Sehingga mustahil virus corona berasal dari laboratoriumnya.
Ditambah lagi, tidak ada satupun stafnya yang terinfeksi virus corona. Sehingga Yuan menyebut sangat tidak mungkin Covid-19 berasal dari lembaganya.
" Sebagai orang yang melakukan studi virus, kami jelas tahu jenis penelitian apa yang terjadi di institut dan bagaimana institut itu mengelola virus dan sampel. Seperti yang kami katakan sejak awal, tidak mungkin virus ini berasal dari kami," kata Yuan.
Yuan mengerti mengapa banyak orang yang menghubungkan wabah ini dengan laboratorium tersebut. Salah satu alasannya, virus corona jenis baru ini pertama kali teridentifikasi di Wuhan.
Dia juga menegaskan hal tersebut adalah rumor yang menyesatkan.
Sumber: NBC News
Dream - Pandemi wabah corona membuat seluruh masyarakat di dunia berusaha melakukan cara apapun untuk mencegah tubuhnya tertular penyakit Covid-19. Terlebih jumlah kasus terinfeksi di seluruh dunia sudah menyentuh angka 2 juta orang.
Para ahli juga berkejaran dengan waktu untuk menemukan vaksin, obat, maupun cara-cara agar orang sehat tak tertular virus corona.
Dilansir dari Sciencedaily.com, penelitian yang saat ini sedang dilakukan untuk menemukan cara mencegah penularan virus corona dibuat oleh UC Santa Barbara's Solid State Lighting & Energy Electronics Center (SSLEEC) dan perusahaan anggotanya.
Para peneliti di lembaga ini mengembangkan ultraviolet LED yang memiliki kemampuan untuk mendekontaminasi permukaan - udara dan air - yang telah bersentuhan dengan virus SARS-CoV-2 atau Corona Covid 19.
Peneliti materi doktoral, Christian Zollner mengungkapkan, dia berfokus memajukan teknologi lampu LED ultraviolet untuk sanitasi dan tujuan pemurnian. Dia menambahkan sudah ada pasar untuk produk desinfeksi UV-C dalam konteks medis.
Saat ini, memang banyak peneliti telah beralih ke kekuatan sinar ultraviolet untuk menonaktifkan virus corona baru. Sebagai sebuah teknologi, desinfeksi sinar ultraviolet telah ada sejak lama. Dan sementara ini, kemanjurannya terhadap penyebaran SARS-CoV-2 belum menunjukkan hasil.

Sinar UV menunjukkan banyak harapan untuk menghilangkan virus corona covid-19.
Perusahaan anggota SSLEEC, Seoul Semiconductor pada awal April melaporkan bahwa sterilisasi virus corona (Covid-19) bisa mencapai 99,9 persen dalam 30 detik dengan produk UV LED mereka.
Teknologi mereka saat ini sedang diadopsi untuk penggunaan otomotif-dimana lampu LED UV berfungsi mensterilkan interior kendaraan yang tidak dipakai.
Perlu dicatat bahwa tidak semua panjang gelombang UV sama. UV-A dan UV-B - yang banyak kita dapatkan dari matahari - sebenarnya memiliki kegunaan yang cukup penting.
Namun, ada sinar ultraviolet langka, UV-C yang bisa memurnikan udara dan air juga bisa menonaktifkan mikroba. UV-C dapat dihasilkan hanya melalui proses buatan manusia.
" Sinar UV-C dalam kisaran 260 - 285 nm yang paling relevan untuk teknologi desinfeksi ternyata juga berbahaya bagi kulit manusia. Untuk saat ini, penelitian masih dilakukan tanpa obyek manusia" ungkap Zollner.
Sebenarnya WHO telah memperingatkan agar tidak menggunakan lampu desinfeksi ultraviolet untuk membersihkan tangan atau area kulit lainnya. Karena paparan sinar UV-C dapat menyebabkan luka bakar dan kerusakan mata.
Sebelum pandemi Covid-19 menyebar di seluruh dunia, para ilmuwan di SSLEEC sudah bekerja memajukan teknologi LED UV-C.
Spektrum elektromagnetik ini merupakan perbatasan yang relatif baru untuk pencahayaan benda padat. Cahaya UV-C lebih umum dihasilkan melalui lampu uap merkuri. Menurut Zollner, kemajuan teknologi diperlukan untuk LED UV agar mencapai potensinya dalam hal efisiensi, biaya, keandalan, dan masa pakai.
Menurut Zollner, menggunakan silikon karbida sebagai substrat memungkinkan pertumbuhan bahan semikonduktor UV-C berkualitas tinggi yang lebih efisien dan hemat biaya daripada menggunakan safir.

Munculnya pandemi Covid-19 membuat banyak pihak berlomba mencari vaksin, terapi, dan obat. Saat ini kita masih melakukan disinfeksi, dekontaminasi, dan isolasi sebagai solusi sementara yang digunakan di seluruh dunia.
Selain UV-C untuk keperluan sanitasi air, sinar UV-C dapat diintegrasikan ke dalam sistem. Sehingga akan meminimalkan biaya, bebas bahan kimia, dan nyaman untuk membersihkan ruang publik, ritel, pribadi, dan medis.
Untuk saat ini, Zollner dan rekannya masih menunggu perkembangan dari pandemi ini. Penelitian di UC Santa Barbara juga melambat untuk meminimalkan kontak selama pandemi.
" Setelah kegiatan penelitian dilanjutkan di UC Santa Barbara, kami akan melanjutkan pekerjaan kami untuk meningkatkan platform AlGaN / SiC. Kami berharap nantinya platform itu akan menghasilkan sinar UV-C paling efisien di dunia," kata Zollner.