Polri Bakal Tahan Putri Candrawathi Pekan Depan

Reporter : Nabila Hanum
Rabu, 28 September 2022 10:15
Polri Bakal Tahan Putri Candrawathi Pekan Depan
Polri masih menunggu berkas perkara dinyatakan P21

Dream - Polri akan menahan tersangka pembunuhan berencana Brigadir J, Putri Candrawathi, pada pekan depan. Namun, penahanan Putri akan dilakuakn setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) pekan ini.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan sebelum melakukan penahanan terhadap Putri, pihaknya akan memeriksa kesehatan baik fisik dan psikisnya.

" Nanti apabila sudah dapat surat rekomendasi dari dokter yang bersangkutan dinyatakan sehat dari sisi fisik maupun psikis, maka penyidik akan mengambil langkah-langlah lebih lanjut setelah berkas perkara dinyatakan P21," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo, Selasa 27 September 2022.

1 dari 6 halaman

Kemudian apabila pekan ini berkas perkara telah dinyatakan P21, kata Dedi, maka minggu depan baru akan dilaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti kepada JPU.

Dedi enggan berandai-andai sebelum berkas perkara Putri Candrawathi atas kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J dinyatakan lengkap.

" Begitu dapat P21 ya nanti dari teman-teman kejaksaan menyampaikan, saya pun nanti sesuai dengan izin penyidik akan menyampaikan progresnya. P21 ya progres selanjutnya ketika dari tim dokter sudah menyatakan kesehatan fisik dan psikisnya memenuhi syarat baru nanti penyidik akan mengambil langkah-langkah berikutnya," ujar dia.

Dedi menyatakan bahwa uji dan evaluasi kesehatan Putri Candrawathi telah dilakukan sejak beberapa hari lalu. Sementara untuk hari ini pemeriksaan dari sisi psikologis oleh tim dokter.

" Dari Bidokkes Polri. Tapi dari pihak pengacaranya apabila akan melakukan second opinion dipersilakan. Hasilnya pun nanti akan diberikan kepada penyidik dan penyidik akan mengambil langkah-langkah lebih lanjut," ungkapnya.

Sumber: Liputan6.com

2 dari 6 halaman

LPSK Beber Keanehan Putri Candrawathi: Satu-satunya Pemohon Perlindungan Paling Unik Sepanjang Sejarah 14 Tahun Berdiri

Dream - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, sebagai pemohon perlindungan paling unik.

Menurut LPSK, Putri tak seperti pemohon lainnya yang memang membutuhkan perlindungan karena tidak bisa diajak berkomunikasi.

" Satu-satunya pemohon sepanjang LPSK berdiri yang tidak bisa, tidak mau dia menyampaikan apapun kepada LPSK," kata Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi Pasaribu, Senin 26 September 2022.

3 dari 6 halaman

Edwin menjelaskan, permohonan perlindungan yang diberikan LPSK bersifat sukarela. Namun demikian, pemohon diharapkan tetap berperan aktif dalam setiap prosedur yang ditetapkan LPSK guna mendapatkan perlindungan.

" Padahal dia yang butuh LPSK, bukan LPSK butuh ibu PC. Ibu PC yang butuh permohonan, artinya ibu PC butuh perlindungan LPSK, tapi tidak antusias, tapi kok tidak responsif gitu. Hanya ibu PC pemohon yang seperti itu selama 14 tahun LPSK berdiri," ungkap Edwin.

Diketahui, Putri sempat mengajukan perlindungan kepada LPSK pada 14 Juli 2022 atau sepekan setelah peristiwa penembakan Brigadir J.

4 dari 6 halaman

Pengajuan perlindungan disampaikan Putri berbarengan dengan pengajuan perlindungan yang dilayangkan Bharada E kepada LPSK.

Setelah dilakukan pemeriksaan, LPSK memutuskan menolak permohonan perlindungan yang dilayangkan Putri Candrawathi terkait kasus kematian Brigadir J.

" LPSK memutuskan untuk menolak atau menghentikan penelaahan terhadap ibu P ini. Karena, memang ternyata tidak bisa diberikan perlindungan," kata Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo, Senin 14 Agustus 2022.

5 dari 6 halaman

LPSK menolak permohonan Putri karena sejak awal telah menemukan adanya kejanggalan. Sejak diajukan pada 14 Juli 2022, sebagaimana permohonan yang ditandatangani Putri dan kuasa hukumnya.

" Kejanggalan pertama ternyata ada dua permohonan lain, yang diajukan. Ibu P ini tertanggal 8 Juli 2022, dan ada permohonan yang didasarkan berdasarkan adanya laporan polisi yang diajukan Polres Metro Jakarta Selatan pada 9 Juli," ujar Hasto.

" Tetapi kedua laporan polisi ini bertanggal berbeda tetapi nomornya sama, oleh karena itu kami pada waktu itu barangkali terkesan lambatnya. Kok tidak memutus-mutuskan apa perlindungan kepada yang bersangkutan," imbuhnya.

6 dari 6 halaman

Selain dua laporan polisi tersebut, LPSK juga menemukan kejanggalan lain ketika staf ingin bertemu dengan Putri.

" Kejanggalan ini semakin menjadi, setelah kamu mencoba berkomunikasi dengan ibu P. Sampai akhirnya, kita kemudian kan baru dua kali ketemu dua kali dengan ibu P dari LPSK," ucap Hasto.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar