Presiden Turki Gemar Cium Kaki Ibunya karena Bau Surga

Reporter : Sandy Mahaputra
Rabu, 26 November 2014 10:28
Presiden Turki Gemar Cium Kaki Ibunya karena Bau Surga
"Setiap kali saya melakukan itu, ibu saya menangis bahagia."

Dream - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dituduh telah mengobarkan diskriminasi membabi buta terhadap perempuan setelah mendeklarasikan bahwa perempuan tidak sederajat dengan laki-laki.

Dia juga menyebut para aktivis perempuan di negeri itu telah menolak konsep perempuan sebagai ibu.

Berbicara dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang keadilan terhadap perempuan, Erdogan mengatakan secara biologis perempuan dan laki-laki sudah berbeda.

Sehingga perempuan tak bisa menjalankan fungsi yang sama dengan laki-laki dalam kehidupan.

Dia menambahkan bahwa pekerjaan kasar tidak cocok bagi perempuan yang diciptakan penuh kelembutan. " Agama kami (Islam) telah menempatkan posisi perempuan secara khusus, yaitu sebagai ibu," katanya di hadapan perempuan Turki, termasuk putri kandungnya, Sumeyye.

" Beberapa orang bisa memahami ini, sementara yang lain tidak. Anda tidak bisa menjelaskan ini kepada para aktivis perempuan karena mereka menolak konsep perempuan sebagai ibu."

Dia melanjutkan, perempuan dalam Islam ditempatkan di posisi yang mulia. Sehingga dia selalu bersedia untuk mencium kaki ibunya.

" Saya mencium kaki ibu saya, karena saya juga mencium surga di sana. Setiap kali saya melakukan itu, ibu saya menangis bahagia."

Ditambahkannya, laki-laki dan perempuan tidak bisa diperlakukan sama karena itu akan melanggar takdir mereka. Karakter, kebiasaan dan fisik mereka berbeda. Jadi tidak bisa mengganti fungsi menyusui seorang ibu dengan laki-laki.

" Anda juga tak bisa memaksa perempuan mengerjakan pekerjaan laki-laki. Anda tak bisa menyerahkan skop dan menyuruh mereka bekerja. Hal ini bertentangan dengan sifat halus mereka," imbuhnya.

Erdogan juga menyerang aktivis perempuan dengan menegaskan bahwa semua perempuan Turki harus memiliki tiga orang anak dan membatasi hak melakukan aborsi.

(Sumber: The Guardian)

Beri Komentar