Uang Sudah Tak Bernilai, Sebungkus Rokok Dibeli Rp68 Juta

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 14 Februari 2018 17:30
Uang Sudah Tak Bernilai, Sebungkus Rokok Dibeli Rp68 Juta
Nilai bolivar Venezuela anjlok sejak tahun lalu.

Dream – Sejak krisis, mata uang Venezuela kehilangan kekuatannya. Kini, bolizar—uang Venezuela—sama sekali tak bernilai.

Daripada terbuang sia-sia, seorang warga Venezuela, Wilmer Rojas, membuat uang kertas bolivar menjadi kerajinan tangan, seperti tas dan dompet.

Rojas memerlukan 800 lembar uang kertas untuk membuat dompet tangan dan 400 lembar untuk dompet. Hasilnya, bisa membeli sekilo beras.

Pria berusia 25 tahun ini memiliki istri, 43 anak, dan 1 bayi yang ada di kandungan, yang harus diberi makan.

“ Orang-orang membuangnya karena uang ini sudah tidak berguna. Tak ada yang mau menerimanya lagi,” kata dia, dikutip dari Malay Online, Rabu 14 Februari 2018.

Uang Venezuela disulap jadi kerajinan.© Malay Online

Selain menjual kerajinan tangan dari uang kertas, Rojas juga menjual rokok dan kopi.

 

1 dari 2 halaman

Sebungkus Rokok Rp68 Juta

Semenjak Agustus 2017, inflasi di Venezuela meroket hingga 13 ribu persen. Bahkan, uang kertas 2 bolivar (Rp2.727), 5 bolivar (Rp6.819), dan 10 bolivar (Rp13.638) tidak cukup untuk membeli permen.

Saking merosotnya nilai uang, penduduk Venezuela sampai membeli sebungkus rokok sebesar 50 ribu bolivar (Rp68,19 juta).

Rojas bisa saja menggunakan kertas majalah atau kertas koran untuk membuat kerajinan. Namun, dia lebih suka menggunakan uang kertas.

“ Uang ini sudah tidak bernilai lagi. Uang ini punya bentuk yang sama dan Anda tak perlu lagi mengguntingnya,” kata dia.

Rojas berharap bisa menjual kerajinannya secepat mungkin. Tapi, dia takut krisis ekonomi Venezuela bisa menggagalkan rencananya.

“ Di sini, hampir tidak ada orang yang memiliki cukup makanan,” kata dia.

(Sah)

 

2 dari 2 halaman

Di Negeri Ini, Penduduknya Berpenghasilan 3 Juta Triliun/Bulan

Dream - Siapa yang tidak ingin memiliki gaji ribuan triliun? Sayangnya gaji besar dengan tingkat inflasi yang luar biasa tinggi, malah bisa menggerus habis daya beli masyarakat.

Seperti Zimbabwe, dengan GDP sebesar US$ 1.031 menandakan penduduk negara ini memiliki rata-rata penghasilan sebulan sebesar US$ 86 dan jika dikonversi ke mata uang nasionalnya yaitu dolar Zimbabwe maka penghasilan mereka mencapai 3 juta triliun Dolar Zimbabwe per bulan.

Angka yang sangat fantastis tetapi memiliki harga yang kecil. Pasalnya, semenjak negara ini mengalami hiperinflasi mencapai 500 miliar persen pada tahun 2008, Dolar Zimbabwe tidak memiliki harga sama sekali. Penduduk berpenghasilan 'tinggi' ini justru sulit membeli sepotong roti.

Untuk itu, seperti dikutip dari The Guardian, Senin, 15 Juni 2015, Presiden Robert Mugabe berencana akan membuang mata uang nasionalnya yang kini tidak berharga sama sekali tersebut. Mereka mengistilahkannya dengan `quadrillions` karena butuh ribuan triliun dolar Zimbabwe untuk ditukarkan hanya dengan 1 dolar US.

Dolar Zimbabwe memang sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 2009. Namun, keputusan penarikan mata uang ini baru dikeluarkan dan berlaku mulai minggu depan.

Masyarakat diberikan waktu untuk menukarkan Dolar Zimbabwe miliknya dengan cetakan sebelum Maret 2009 ke dolar AS di Bank Sentral. Begitupun catatan rekening bank yang tercatat dengan Dolar Zimbabwe akan dikonversi ke Dolar AS.

Dampaknya tentu sangat memilukan. Pemilik rekening 100 triliun dolar Zimbabwe bahkan tidak mampu membeli tiket bus umum untuk bekerja selama seminggu karena dia hanya mendapatkan 40 sen. Foto seorang anak kecil yang membawa duit sejumlah Rp600 juta membeli roti mendunia

Beri Komentar