Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Presiden Joko Widodo telah meminta target pemeriksaan spesimen Covid-19 ditingkatkan dari 10 ribu menjadi 20 ribu per hari. Tetapi, target tersebut belum dapat tercapai hingga saat ini.
Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Abdul Kadir, mengatakan saat ini sebanyak 139 laboratorium yang beroperasi. Sementara spesimen yang bisa diperiksa per hari masih sebanyak 19.100 spesimen.
Untuk mencapai target tersebut, Kadir mengatakan ada dua cara yang bisa dijalankan. Cara pertama yaitu menambah jam kerja petugas dua kali lipat.
" Dulunya cuma 6 jam, kita minta 12 jam per hari," ujar Kadir, dikutip dari Merdeka.com.
Menurut Kadir, dengan bekerja selama 6 jam petugas bisa memeriksa 19.100 spesimen. Sehingga jika ditambah menjadi 12 jam, bukan tidak mungkin target 20 ribu spesimen per hari terlampaui.
" Dengan dua kali lipat jam kerja maka target 20 ribu itu pasti akan terlewati," kata dia.
Nantinya, waktu kerja selama 12 jam itu akan dibagi dalam dua shift. Masing-masing shift selama 6 jam.
Selain itu, sumber daya laboratorium juga diperkuat. Salah satunya dengan cara menambah petugas.
Kadir mengatakan saat ini ada 300 tenaga laboratorium yang mengikuti pelatihan selama lima hari. Pelatihan dimulai pada Senin kemarin.
Para tenaga laboratorium tersebut terdiri dari dosen Politeknik Kesehatan, alumni poltekkes, juga mahasiswa poltekkes. Usai pelatihan, mereka akan ditugaskan di 139 laboratorium.
" Mereka nanti akan bekerja langsung dalam laboratorium," kata dia.
Sumber: Merdeka.com/Supriatin.
Dream - Seorang dokter berinisial D, 34 tahun, asal Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur meninggal dunia dengan status positif Covid-19.
D menyusul dua orangtuanya yang telah meninggal beberapa hari sebelumnya namun masih berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
Kepala Puskesma Kedungdung, Zahruddin, menjelaskan satu keluarga itu meninggal secara beruntun. Diawali dengan meninggalnya sang ayah berinisial S pada 7 Juni 2020.
S merupakan tenaga medis yang dulunya pernah berdinas di Puskesmas Kedungdung. S sempat dirawat di RSUD dr Muhammad Zyn Sampang dengan status PDP.
" Setelah S meninggal, kemudian dua hari selanjutnya baru istrinya (juga berstatus PDP)," ujar Zahruddin, dikutip dari Koran Madura.
Pada Minggu pagi, 14 Juni, dokter D juga mengembuskan napas terakhir namun dalam status terkonfirmasi positif Covid-19.
Dokter D merupakan putra almarhum S dan diketahui sebagai tenaga medis di Puskesmas Tambelangan.
" D diketahui terpapar Covid-19 setelah melakukan pemeriksaan secara mandiri bersama istrinya, inisial E, 32 tahun, di salah satu rumah sakit Kabupaten Pamekasan," kata Zahruddin.
Menurut dia, istri dari D diketahui sebagai tenaga medis di Puskesmas Robatal, Kabupaten Pamekasan.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Agus Mulyadi, membenarkan satu keluarga berprofesi tenaga medis terpapar Covid-19. Menurut dia, kemungkinan dokter D terpapar dari orangtuanya.
Sebab, rumah dokter D berdampingan dengan rumah orangtuanya di Kedundung.
" D tinggal di Kecamatan Kedungdung tapi bertugas di Puskesmas Kecamatan Tambelangan," kata Agus.
Sementara E yang merupakan istri dari dokter D bertugas di Puskesmas Robatal. Menurut Agus, E juga terkonfirmasi positif Covid-19.
" Maka dari itu, istri D saat ini proses penanganannya dibawa ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Mudah-mudahan kejadian ini terakhir di Kabupaten Sampang," kata dia.
Demikian pula dengan anak dokter D yang masih berusia 1 tahun. Balita tersebut juga dirawat intensif di rumah sakit di Surabaya.
Sumber: Koran Madura