Tinggi Anak Tak Cuma Soal Angka, Kenali Tanda Gangguan Pertumbuhan Sejak Dini

Reporter : Kojiro Hyu
Rabu, 23 September 2026 09:15
Tinggi Anak Tak Cuma Soal Angka, Kenali Tanda Gangguan Pertumbuhan Sejak Dini
Memantau pertumbuhan anak bukan sekadar soal melihat apakah ia bertambah tinggi atau tidak. Yang tak kalah penting adalah memahami bagaimana pola pertumbuhannya dari waktu ke waktu.

DREAM.CO.ID - Melihat anak tumbuh sehat tentu menjadi salah satu perhatian orang tua. Tinggi badan pun sering menjadi salah satu hal yang mudah diamati, terutama ketika anak mulai terlihat berbeda dari teman-teman seusianya.

Namun, pertumbuhan anak ternyata tidak hanya bisa dilihat dari tinggi badan pada satu waktu. Pola pertumbuhan dan penambahan tinggi dari waktu ke waktu juga penting diperhatikan. Pasalnya, perawakan pendek pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak selalu berkaitan dengan masalah nutrisi atau stunting.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional sebesar 19,8 persen. Meski demikian, gangguan pertumbuhan memiliki spektrum yang lebih luas. Selain faktor nutrisi, kondisi seperti Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hypothyroidism, hingga faktor genetik seperti Turner Syndrome juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Pada sebagian anak, penyebab perawakan pendek bahkan tidak dapat diketahui meskipun sudah dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).

Gangguan pertumbuhan juga bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Dalam beberapa situasi, kondisi tersebut dapat berpengaruh pada aspek psikososial anak, termasuk rasa percaya diri dan pengalaman mereka dalam lingkungan sosial.

Jangan Hanya Melihat Tinggi Anak Hari Ini

Menurut Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, perawakan pendek tidak bisa begitu saja disamakan dengan stunting atau dianggap sebagai persoalan nutrisi.

“ Perawakan pendek pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, sehingga tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau hanya dianggap sebagai masalah nutrisi. Selain faktor nutrisi, perawakan pendek juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis. Gangguan hormonal yang dapat menyebabkan perawakan pendek antara lain Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme (hypothyroidism). Data survei menunjukkan prevalensi panjang badan lahir <48 cm sebesar 19,8% pada SGA. Faktor genetik juga dapat berperan, misalnya Sindrom Turner dengan prevalensi sekitar 1:1.500–2.000 pada kelahiran bayi perempuan hidup. Secara global, GHD diperkirakan terjadi pada sekitar 1 dari 4.000–10.000 anak. Pada sebagian anak lainnya, penyebab spesifik tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh, yang dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).”

Prof. Aman menekankan bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan tinggi badan anak pada satu waktu. Pola pertumbuhan dari waktu ke waktu juga menjadi hal penting untuk diamati.

“ Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai.”

Dengan begitu, kebiasaan mengukur tinggi badan secara berkala dapat membantu orang tua melihat apakah terdapat perubahan pola pertumbuhan yang perlu diperhatikan.

Ketika Perbedaan Tinggi Mulai Terlihat di Sekolah

Kekhawatiran mengenai pertumbuhan anak terkadang justru muncul dari hal sederhana yang terlihat dalam keseharian.

Hal tersebut dialami Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD. Ia mulai menyadari adanya sesuatu yang perlu diperhatikan ketika melihat pertumbuhan putri keduanya yang berbeda dibandingkan teman-teman seusianya.

Saat itu, sang anak berusia 7 tahun dan duduk di kelas satu SD. Meski merasa sudah memberikan nutrisi yang cukup, Merien melihat bahwa putrinya memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan teman-temannya.

Perhatian tersebut semakin kuat setelah putri sulungnya melihat hasil pengukuran tinggi badan sang adik di sekolah. Dari pengukuran yang dilakukan setiap bulan, tinggi badan putri bungsunya diketahui tetap berada di angka 113 cm selama satu tahun.

Temuan tersebut membuat Merien dan keluarga memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, dalam hal ini Prof. Aman.

“ Saat itu saya sempat berpikir, apakah terlalu cepat untuk bertemu Prof. Aman. Namun, kami memilih untuk segera berdiskusi dan mencari tahu lebih lanjut. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putri bungsunya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan,” ujar Merien.

Sejak kelas dua SD hingga kini duduk di kelas lima SD, putri bungsunya telah menjalani terapi hormon pertumbuhan. Menurut Merien, selama kurang lebih tiga tahun menjalani terapi, tinggi badan sang anak bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulannya.

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari pertumbuhan fisik. Merien juga melihat adanya perubahan pada kepercayaan diri sang anak.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bagi Merien bahwa ketika pola pertumbuhan anak menunjukkan sesuatu yang perlu diperhatikan, orang tua tidak perlu ragu untuk mencari informasi dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan agar dapat memahami kondisi anak serta langkah yang tepat untuk mendukung pertumbuhannya.

Dampaknya Bisa Lebih dari Sekadar Fisik

Pertumbuhan anak yang mengalami gangguan juga dapat berkaitan dengan aspek psikososial. Anak dapat merasa berbeda dari teman sebayanya, kurang percaya diri, bahkan berpotensi mengalami perundungan.

Karena itu, perhatian terhadap pertumbuhan anak tidak hanya diperlukan untuk melihat perkembangan fisiknya. Pemantauan sejak dini juga dapat membantu orang tua lebih peka terhadap perubahan yang terjadi dan mencari bantuan ketika menemukan pola yang perlu dievaluasi.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya membangun kebiasaan memantau pertumbuhan anak secara rutin.

Membantu Orang Tua Lebih Peka terhadap Pertumbuhan Anak

Upaya meningkatkan pemahaman mengenai gangguan pertumbuhan juga dilakukan oleh PT Merck Tbk (Merck) melalui edukasi yang berkelanjutan.

Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk, menyatakan bahwa edukasi menjadi salah satu bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung pertumbuhan optimal anak Indonesia.

“ Sebagai perusahaan sains dan teknologi terkemuka, Merck berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan. Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini. Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.”

Untuk membantu orang tua mengenali pertumbuhan anak dengan lebih mudah, Merck menghadirkan laman interaktif Takartinggi.com. Laman tersebut dapat digunakan untuk membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua sekaligus memahami potensi pertumbuhan anak.

Selain laman interaktif, Merck juga memperkenalkan buku cerita anak “ Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa”. Buku tersebut dihadirkan sebagai sarana edukasi yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak maupun keluarga.

Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mendorong keluarga agar lebih aktif memperhatikan pertumbuhan anak sejak dini.

“ Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak. Melalui berbagai upaya ini, Merck berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat tumbuh dengan optimal sesuai dengan potensinya,” tutup Evie Yulin.

Pada akhirnya, memantau pertumbuhan anak bukan sekadar soal melihat apakah ia bertambah tinggi atau tidak. Yang tak kalah penting adalah memahami bagaimana pola pertumbuhannya dari waktu ke waktu.

Dengan perhatian dan pemantauan yang dilakukan secara rutin, orang tua dapat lebih peka ketika menemukan perubahan yang perlu dibicarakan lebih lanjut bersama tenaga kesehatan.

Beri Komentar