Ilustrasi (foto: Shutterstock)
Dream - Twitter merilis data lebih dari 10 juta cuitan yang diduga berafiliasi dengan organisasi siber Rusia, serta ratusan troll internet yang berbasis di Iran.
Cuitan dan akun itu diduga menyebarluaskan propaganda dan `mengarahkan` opini warganet Amerika Serikat (AS).
Rilis itu diluncurkan untuk memenuhi janji Twitter kepada Kongres Amerika Serikat mengenai sikap transparan jelang pemilu paruh waktu pada November 2018.
Data yang dirilis Twitter kemudian dianalisis dan dipublikasikan dalam Laporan Lab Riset Digital Forensic, The Atlantic Council/DFRlab.
Dikutip dari Liputan6.com, berdasar laporan itu, terdapat 3.841 akun yang berafiliasi dengan Badan Riset Internet (IRA) di Rusia. Sementara itu, 770 akun lainnya berafiliasi dengan Iran, serta sebanyak 10 juta cuitan, serta 2 juta gambar, video, dan media lain.
Dalam laporannya, para pengacau dunia maya dari Rusia menyasar politisi AS. Mereka mengincar tokoh haluan kiri (liberal, Partai Demokrat) dan kanan (konservatif, Partai Republik). Tujuannya tak lain untuk menabur perselisihan.
DFRlab menyebut, para pengacau Rusia ini menebar puluhan ribu cuitan ulang pada postingan tertentu, termasuk komentar selebritis yang berafiliasi dengan partai tertentu.
IRA, selain pengaruhnya di luar negeri, juga berpengaruh ke dunia maya dalam negeri. IRA diduga berperan mempengaruhi opini publik dalam pemberitaan konflik Ukraina-Rusia.
Sumber: Liputan6.com/Rizki Akbar Hasan
Advertisement


5 Langkah Mengasah Pikiran Positif untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Puting Lecet Saat Olahraga: Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

5 Ritual Mingguan yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis dan Dekat Menurut Terapis

Orang yang Menguasai Banyak Bahasa Diduga Memiliki Otak hingga 13 Tahun Lebih Muda

Mengapa Wadah Plastik Menyimpan Bau dan Noda, tetapi Kaca Tidak?

Hedonic Treadmill: Mengapa Kebahagiaan Terasa Cepat Berlalu?