Marrakesh Layaknya Kota Mati Akibat Pandemi Covid-19

Reporter : Ulyaeni Maulida
Kamis, 17 September 2020 13:10
Marrakesh Layaknya Kota Mati Akibat Pandemi Covid-19
Segala gemerlap kehidupan tiba-tiba terhenti setelah Marrakesh terdampak covid-19.

Dream – Marrakesh, Maroko terkenal dengan pertunjukan ular, pendongeng, dan turis yang berdatangan dari berbagai negara. Namun, akibat pembatasan wilayah yang diberlakukan, membuat industri pariwisata Marrakesh terhenti.

Salah satu situs warisan dunia UNESCO abad ke-11 ini pun hampir kosong. Kota ini nampaknya tengah menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebelum pandemi covid-19, bahkan untuk sekedar makan saja, pengunjung harus antre terlebih dahulu.

Marrakesh biasanya dipadati orang-orang yang berkumpul di alun-alun Jamaa El Fna. Selain itu, kota ini juga dipenuhi oleh para musisi, penjual souvenir, hingga para peramal.

Maroko sendiri telah mengkonfirmasi lebih dari 86 ribu kasus Covid-19. 1.500 di antaranya meninggal dunia.

1 dari 2 halaman

Hanya beberapa yang masih beroperasi

Dulunya di berbagai gang sempit yang mengarah ke Jamaa El Fna dipadati kios-kios yang menjual berbagai souvenir hingga rempah-rempah khas Marrakesh. Kini hanya beberapa saja kios yang masih buka.

“ Sebagian besar pedagang telah menutup toko mereka, yang lain buka hanya untuk menghabiskan waktu karena tidak ada yang dapat dilakukan di rumah. Sedangkan lainnyasama sekali tidak membuka tokonya,” kata Mohamed Challah, salah seorang penjual jubah kaftan.

Setelah pembatasan wilayah mulai dilonggarkan, mereka berharap industri pariwisata dapat kembali normal meskipun hanya didatangi oleh pengunjung domestik.

2 dari 2 halaman

Marrakesh ditutup kembali

Namun, secara tiba-tiba pengumuman mengejutkan terkait kembali di berlakukannya pembatasan wilayah di Marrakesh telah memupus harapan mereka.

Marrakesh dan Casablanca adalah dua kota yang paling banyak mengalami kasus penyebaran Covid-19.

Namun pihak berwenang masih terus berupaya untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.

Seperti semua pemerintah, pihak berwenang harus mempertimbangkan tindakan penguncian terhadap kebutuhan untuk menjaga perekonomian tetap hidup.

Ditengah keputuasaan tersebut, beberapa kalangan masyarakat mulai melakukan protes dijalanan. Mereka meminta bantuan pemerintah untuk membantu mereka tetap hidup ditengah krisis ekonomi.

“ Virus corona bukanlah yang membunuh kami. Tetapi kelaparan yang akan lebih dulu melakukannya,” bunyi spanduk yang dibawa oleh para demonstran.

(Sumber: arabnews.com)

Beri Komentar