Geger Uang Rp100 Ribu Berhamburan di Bekas Gempa Likuifaksi Palu

Reporter : Syahid Latif
Sabtu, 8 Juni 2019 09:44
Geger Uang Rp100 Ribu Berhamburan di Bekas Gempa Likuifaksi Palu
Uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu ditemukan dalam tas yang digali dari sebuah rumah.

Dream - Uang pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu berserakan di bekas lokasi gempa bumi dan tsunami di Petobo, Sulawesi. Diduga uang-uang itu milik para korban bencana alam yang menewaskan ratusan orang tersebut.

Mengutip unggahan akun @makassar_iinfo, Sabtu, 8 Juni 2019, penemuan uang itu menjadi viral setelah beberapa warga mengunggah video penemuan uang itu ke berbagai platform sosial media.

Dalam video yang beredar terlihat warga menemukan uang dengan pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu yang berserakan di lokasi tersebut.

Beberapa uang yang ditemukan masih dalam keadaa utuh meski bagian tepinya sudah terlihat berwarna gelap. Uang-uang itu berserakan di atas tanah dan bebaturan dekat lokasi gempa di Petobo.

 

1 dari 4 halaman

Awal Mula Penemuan

      View this post on Instagram

Bencana gempa bumi bermagnitudo 7,4 dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) pada September 2018 lalu, merusak banyak bangunan dan menelan ribuan korban jiwa. . Ratusan orang juga dilaporkan masih hilang. Korban paling banyak berada di wilayah Kota Palu, Sigi, Petobo, dan Donggala. . Delapan bulan usai bencana dahsyat tersebut, baru-baru ini beredar video di media sosial yang memperlihatkan warga di Petobo, Palu menemukan uang dalam jumlah banyak. Uang tersebut diduga milik korban gempa dan tsunami. . Hal itu diketahui dari unggahan video akun Facebook Yuni Rusmini pada Jumat 7 Juni 2019. Dalam video itu terlihat beberapa warga mengelilingi lokasi penemuan uang. Juga tampak sejumlah uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu berserakan di lokasi tersebut. . Lembaran uang itu terlihat dalam kondisi utuh, dan beberapa lainnya tampak tertimbun di antara reruntuhan puing bangunan dalam kondisi lusuh akibat terendam lumpur. . “Warga di petobo menemukan lembaran uang banyak. Diduga milik korban saat gempa dan tsunami terjadi 8 bulan yg lalu yg terendam lumpur dan tanah,” tulis Yuni Rusmini di caption unggahannya. . Seorang wanita berjilbab merah yang merekam kejadian itu terdengar menjelaskan awal mula penemuan uang tersebut. . “Ini guys di Petobo guys ini yang kena likuifaksi itu rumah hancur di Petobo bagian Palu,” ujar wanita perekam. Ia lalu menunjukkan lokasi penemuan uang dan satu buah sepeda motor. . “Inilah lokasi tempat kejadian lalu, rumah tenggelam semua, dapat uang tas digali, dapat motor dapat uang dalam tas, lokasi di Petobo,” ujarnya. Menurut info dari Yuni Rusmini, uang yang ditemukan tersebut saat ini diamankan oleh warga yang menemukannya. . Artikel : Makassar Terkini

A post shared by MAKASSAR INFO (@makassar_iinfo) on

“Warga di petobo menemukan lembaran uang banyak. Diduga milik korban saat gempa dan tsunami terjadi 8 bulan yg lalu yg terendam lumpur dan tanah,” tulis Yuni Rusmini, salah seorang netizen yang mengunggah video tersebut.

Seorang warga di lokasi yang merekam penemuan tersebut mengatakan jika uang-uang itu ditemukan setelah warga menggali beberapa rumah. Selain tumpukan uang, warga juga menemukan sebuah sepeda motor.

Uang itu sendiri berasal dari dalam sebuah tas yang juga ditemukan usai warga menggali rumah.

“Inilah lokasi tempat kejadian lalu, rumah tenggelam semua, dapat uang tas digali, dapat motor dapat uang dalam tas, lokasi di Petobo,” ujarnya.

Dikabarkan uang yang ditemukan tersebut diamankan oleh warga setempat.

(Sah, Sumber: Instagram @makassar_iinfo)

2 dari 4 halaman

Kisah Mencekam Korban Likuifaksi: 'Tanah itu Berputar, Seperti Diblender'

Dream - Sejauh mata memandang, hanya ada reruntuhan. Itulah yang terjadi di daerah Petobo dan Balaroa yang diguncang bumi dan dibolak-bolak fenomena lumpur bergerak.

Semuanya hilang. Hanya dalam hitungan detik. Padahal, sebelumnya ada ribuan bangunan kokoh berdiri.

Puing-puing bangunan yang terhampar di lahan luas itu menjadi saksi bisu fenomena alam yang mengerikan pada Jumat, September 2018 lalu. Likuifaksi namanya. Bahasa mudahnya, pembuburan tanah.

Pada 28 Oktober 2018, tepat sebulan usai bencana, jurnalis Dream Ilman Nafian berkesempatan menyaksikan kondisi terkini dari Balaroa. Ada pria setinggi 165 cm berdiri. Pandangan lurus ke arah sebuah lokasi reruntuhan yang sudah rata dengan tanah.

Tangannya membawa satu paket bahan pangan. Ada beras, mie instan dan biskuit. Pria bernama Irfandi itu sesekali jongkok, kemudian berdiri lagi.

Rupanya Irfandi tengah melihat-lihat bekas rumah dan bengkel motornya yang hancur.

Dengan suara sedikit bergetar, Irfandi menceritakan bagaimana mencekamnya peristiwa di akhir September itu.

3 dari 4 halaman

Tanah Berputar Seperti Diblender

Sebelum kejadian, Palu memang beberapa hari diguncang gempa. Tetapi, dampaknya tidak tidak sampai merusak.

Sore itu, Irfan sedang membereskan bengkel. Dia tengah bersiap menutup tempat usahanya. Tiba-tiba, terjadi gempa yang dahsyat. Tiang listrik di depan bengkelnya sampai bergoyang dan rubuh.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menggendong anaknya dan berteriak memanggil istrinya untuk menyelamatkan diri.

" Saya lari ke pertigaan gendong anak yang kecil," kata Irfandi saat berbincang dengan Dream.

Setelah beberapa kali guncangan, Irfandi menyaksikan secara langsung rumah-rumah yang ada di hadapannya berputar dan saling bertabrakan.

" Tanah itu berputar. Seperti diblender, kita orang hanya bisa melihat saja," ucap dia.

 

4 dari 4 halaman

Teringat Anak Sulung yang Bermain Sepeda

Peristiwa itu terjadi sangat cepat. Kata Irfandi, mulai sejak awal azan Maghrib hingga berakhirnya azan. Tanah yang tadinya berputar itu tiba-tiba terbelah. Menyedot semuanya yang ada di atasnya.

Ketika itu, banyak warga yang lari ke lapangan di area perumahan. Tapi, rupanya tanah di lapangan itu juga membubur. Menelan banyak sekali korban jiwa,

Setelah likuifaksi berakhir, Irfandi teringat anak sulungnya yang kala itu tengah bermain sepeda di kawasan perumahan Balaroa. Tanpa pikir panjang, ia langsung lari mencari anaknya. 
Dengan melompat melewati rumah-rumah yang telah hancur dan penerangan seadanya dari telepon genggam, ia berteriak memanggil anak tercinta. Beruntung, proses pencarian tidak lama. Irfan berhasil menemukan anaknya.

" Waktu ketemu anak itu pukul delapan malam. Beruntung selamat, dia posisinya di tanah yang naik, bukan yang amblas. Jadi naik ke atap rumah," ujar dia.

Setelah berhasil menemukan anak sulungnya, Irfan membatu warga lain mengevakuasi korban yang tertimbun di dalam rumah.

" Ada suara orang-orang minta tolong di tertimpa bangunan. Minta tolong. Kita orang cari sampai Subuh, ada yang selamat ada juga meninggal," kata dia.

Beri Komentar
BJ Habibie Dimakamkan di Samping Ainun Habibie