Ngeri, Mayat Beku Pendaki Gunung Everest Jadi Penunjuk Arah

Reporter : Sugiono
Minggu, 1 Maret 2020 07:00
Ngeri, Mayat Beku Pendaki Gunung Everest Jadi Penunjuk Arah
Sebagian besar jasad pendaki yang meninggal ini masih dalam kondisi utuh akibat cuaca dingin yang ekstrem.

Dream - Terletak di perbatasan antara Tibet dan Nepal, Everest menjadi gunung tertinggi di dunia. Puncaknya 'menawarkan' berbagai cara bagi para pendaki untuk menemui ajalnya.

Ada pendaki yang jatuh dari tebing tinggi, kekurangan oksigen, hingga tertimpa batu besar, saat mendaki gunung yang diselimuti salju abadi itu.

Meskipun risikonya tinggi, hingga sekarang masih ramai para pendaki yang datang dari seluruh dunia untuk menaklukkan Puncak Everest.

Bahkan, ada segelintir orang yang menjadikan pendakian Gunung Everest sebagai salah satu hal terbaik yang harus dilakukan sekali seumur hidup.

Menurut catatan, diperkirakan lebih dari 200 orang kehilangan nyawa ketika mencoba mendaki Gunung Everest.

Tidak mengherankan jika pendaki berikutnya selalu menemukan mayat pendaki sebelumnya yang mati beku di gunung itu.

Sebagian besar jasad pendaki yang meninggal ini masih dalam kondisi utuh akibat cuaca dingin yang ekstrem.

Uniknya, jasad-jasad tersebut diberi julukan dan berfungsi sebagai panduan bagi pendaki lain saat mencoba untuk menaklukkan Gunung Everest.

Dilansir oleh I Am Lejen, berikut adalah tiga jasad yang terkenal jadi 'petunjuk' arah di Gunung Everest.

1 dari 4 halaman

Green Boots

Green Boots adalah nama samaran yang diberikan untuk jasad pendaki India yang diyakini telah meninggal pada tahun 1996. Green Boots atau identitas sebenarnya Tsewang Paljor terletak di sebuah gua yang pasti akan dilalui semua pendaki dalam perjalanannya menuju Puncak Everest.

 Mayat beku Green Boots dekat puncak Gunung Everest.© I Am Lejen

Sebuah penanda arah yang populer karena di berada dekat puncak, Green Boots diyakini terpisah dari kelompoknya setelah beristirahat di sebuah gua sebelum akhirnya meninggal dunia.

Green Boots mendapatkan namanya dari sepatu hijau yang dipakainya saat ditemukan meninggal dunia. Jasad Green Boots tidak rusak, begitu pula dengan pakaian serta perlengkapan pendakiannya.

2 dari 4 halaman

David Sharp

Kisah pendaki Inggris bernama David Sharp yang juga mengikuti jejak Green Boots pada tahun 2006 adalah salah satu kasus paling kontroversial pada saat-saat terakhir pria itu.

 David Sharp, pendaki yang tewas membeku dan jadi penunjuk arah di Gunung Everest© I Am Lejen

Disebutkan bahwa David beristirahat di gua yang sama yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Green Boots saat berteduh. Tetapi pria itu mendapati dirinya membeku di lokasi itu meski masih hidup.

Lebih dari 40 pendaki lain dikatakan telah melewati David, tetapi tidak ada satu pun yang membantu pria itu hingga akhirnya dia meninggal akibat cuaca dingin. Menurut laporan, pendaki lain mungkin tidak menyadari bahwa David masih hidup karena posisi yang membeku.

Namun, ada beberapa orang yang mencoba membantu David ketika mereka menyadari bahwa pria itu masih hidup, tetapi upaya itu gagal.

3 dari 4 halaman

Sleeping Beauty

Francys Arsentiev merupakan wanita Amerika pertama yang berhasil mendaki Puncak Everest tanpa bantuan tangki oksigen. Sayangnya, Francys meninggal saat turun dari Puncak Everest.

 Jasad beku Francys Arsentiev alias Sleeping Beauty jadi penunjuk arah di Puncak Everest.© I Am Lejen

Dijuluki Sleeping Beauty of Mount Everest, Francys ditemukan hilang oleh suaminya, yang juga seorang pendaki saat mereka menuruni puncak. Meskipun sadar akan risiko di depannya, pria itu rela kembali mencari istrinya.

Saat kembali ke puncak, suami Francys bertemu dengan sekelompok pendaki dari Uzbekistan yang mengaku telah bertemu dengan istri pria itu. Namun, mereka terpaksa meninggalkan Francys karena pasokan oksigen mereka menipis.

Keesokan harinya, pendaki lainnya berhasil menemukan Francys, yang sudah kehilangan nyawanya. Dia meninggal dalam posisi berbaring di atas salju. Suaminya juga hilang tanpa jejak. Namun, ia ditemukan setahun kemudian di bawah gunung setelah diyakini jatuh dari tebing ketika mencoba menemukan Francys.

4 dari 4 halaman

Mayat-mayat Beku di Gunung Everest

Dream - Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia dan salah satu puncak impian bagi setiap pendaki gunung, menghadapi masalah yang lebih berat daripada longsoran dan penipisan es.

Masalah tersebut adalah bertebarannya berton-ton sampah dan lebih dari 200 jasad pendaki dan etnis Sherpa yang tersebar di sepanjang lereng gunung sejak Sir George Mallory mendaki Everest pada 1920-an.

Jasad-jasad membeku yang masih dalam posisi yang sama saat mereka mati itu menjadi saksi beku dari pendakian Everest yang mematikan.

Sejak 1953, ketika Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay menjadi yang pertama mencapai puncak, Everest telah 'ditaklukkan' lebih dari 7.000 kali oleh 4.000 orang, baik secara kelompok maupun individu.

Pendakian Everest, yang merupakan sumber pendapatan Nepal di sektor pariwisata yang terus tumbuh dan dan menarik lebih banyak pendaki dari berbagai belahan dunia dan lapisan masyarakat, juga meninggalkan masalah sampah yang tidak berkesudahan.

Kapten MS Kohli, seorang pendaki gunung yang memimpin kelompok ekspedisi pertama India pada 1965, dengan sinis berkomentar, " Mendaki Everest terlihat seperti lelucon besar sekarang ini." Menurut Kohli, sekarang orang menaklukkan Everest bukan karena murni mencari petualangan, tantangan dan eksplorasi.

Sementara itu psikolog Matthew Barlow dari Bangor University mengatakan, mendaki Everest sekarang 'membosankan dan melelahkan' jika tujuannya hanya mencari adrenalin.

Rekan-rekannya yang lain setuju sambil menambahkan pergi ke daerah rendah oksigen, tidak nyaman, melelahkan, dan berisiko kematian adalah tidak masuk akal.

Tetapi bagi mereka yang telah naik dan kembali dari Himalaya, ada sesuatu yang lebih dari sekedar ego.

Billi Berling, pendaki dan wartawan, mengatakan setiap orang yang datang ke Himalaya untuk 'menaklukkan Everest' memiliki motivasi yang berbeda. Beberapa mendaki untuk keluarga mereka, sementara yang lain berjuang untuk memenuhi hasrat pribadinya.

Terlepas dari itu semua, Sherpa dan komunitas mereka harus berjuang menyingkirkan berton-ton sampah dan ratusan jasad yang tergeletak di sepanjang lereng Himalaya.

Biayanya ribuan dolar dan dibutuhkan lebih dari delapan orang untuk menggali jasad yang sudah beku. Setelah itu, mereka membawanya ke Camp Base, sehingga keluarga dapat membawa pulang jasad orang yang mereka cintai.

Namun ada juga orang yang tergerak hatinya untuk melakukan kegiatan bersih-bersih sampah setiap tahun, yang lebih sering secara tidak sengaja menemukan jasad di kedalaman salju.

Dawa Steven Sherpa, managing director Asia Trekking, mengatakan dia langsung memberikan pemakaman yang layak bagi jasad yang berada di luar zona 8.000 meter.

Hingga hari ini, tim Dawa Steven tidak hanya menaklukkan puncak Everest, tetapi juga melakukan aksi sosial untuk sesama pendaki gunung, warga lokal Nepal, dan masyarakat pendaki seluruhnya.

(Ism, Sumber: Star Mine News)

[crosslink_1]

Wajah Tegar BCL Saat Antarkan Jenazah Ashraf Sinclair