Air Zam Zam Punya Banyak Manfaat, Baca Doa Ini Saat Meminumnya

Reporter : Ahmad Baiquni
Jumat, 15 Oktober 2021 20:00
Air Zam Zam Punya Banyak Manfaat, Baca Doa Ini Saat Meminumnya
Zam zam bisa menyembuhkan banyak penyakit sekaligus menghapus dosa.

Dream - Air zam zam sangat dekat dengan umat Islam. Ini merupakan air istimewa dan disebutkan dalam sejumlah dalil syariat.

Dalam catatan sejarah, air zam zam muncul dari dalam tanah sebagai mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Ismail AS. Saat masih bayi, Nabi Ismail mengentakkan kakinya ke tanah ketika ibundanya kesulitan mencari air di tengah gurun pasir.

Air itu memancar dari dalam tanah hingga membentuk sumur. Sumur tersebut masih ada hingga saat ini dan tidak pernah kering.

Dalam banyak hadis, air zam zam disebutkan punya banyak khasiat baik untuk jasmani maupun rohani. Secara jasmani, air ini disebut bisa menyembuhkan banyak penyakit dan rohani bisa menjadi sarana untuk menghapus dosa.

Penelitian mengenai zam zam pun cukup banyak. Air ini bahkan diakui memiliki kualitas terbaik karena mengandung partikel yang berbeda dengan air biasa.

Bagi masyarakat Indonesia, zam zam biasanya dibagikan kepada tamu yang berkunjung di rumah orang baru pulang haji atau umroh. Ada yang menyimpan air tersebut dalam waktu lama dan kualitasnya tidak berubah.

Jika berkesempatan minum air zam zam, iringi dengan doa ini. Doa tersebut untuk memohon ampunan dan agar keinginan kita terkabul.

 

1 dari 4 halaman

Doa Minum Air Zam Zam

اللهم إنه بلغني أللهم و إني أشربه لتغفرلي ولتفعل بي كذا وكذا فاغفرلي أو افعل

Allahumma innahu balaghani, allahumma wa inni asyrabahu li taghfira li wa li taf'ala bi kadza wa kadza faghfir li awif'al.

Artinya,

" Ya Allah, sesungguhnya air telah datang kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku meminum air zam zam ini (dengan maksud) agar Engkau mengampuniku dan agar Engkau mengabulkan keinginanku (sebutkan keiginannya). Maka ampunilah aku dan kabulkan keinginanku."

Sumber: Harakah.id

2 dari 4 halaman

Saat Rasul Minum Air Sebelum Buka Puasa

Dream - Rasulullah Muhammad SAW tidak hanya panutan dalam hal akhlak. Rasul juga menjadi sumber rujukan dalam penetapan hukum terutama syariat.

Tidak jarang Rasulullah harus melakukan hal-hal yang oleh ulama kemudian dihukumi makruh. Rasulullah harus melakukannya sebagai bagian dari tugas kenabian.

Dengan melakukan amalan yang di kemudian waktu dinyatakan makruh, Rasulullah hendak memberikan pengetahuan kepada umat Islam. Melalui tindakan Rasulullah, umat Islam bisa memahami ketentuan hukum yang diatur syariat.

Berbuka sebelum waktunya tentu membuat puasa jadi batal. Seseorang yang melakukannya wajib mengganti puasanya di hari lain.

Rasulullah pernah berbuka puasa sebelum waktunya. Tujuan Rasulullah adalah agar puasa tidak dianggap sebagai penyiksa dan memberatkan umat Islam.

 

3 dari 4 halaman

Rasulullah Berbuka Sebelum Waktunya

Dikutip dari NU Online, suatu hari di bulan Ramadan Rasulullah sedang dalam perjalanan menuju Mekah. Kala itu, ada sejumlah sahabat yang turut serta dalam perjalanan itu.

Saat siang hari, Rasulullah melihat ada beberapa sahabat yang terlihat kelelahan dan lemah. Di tengah jalan, Rasulullah ada sebuah sumur.

Rasulullah mengajak para sahabat berhenti sejenak. Lalu, Rasulullah menimba air dari dalam sumur itu dan meneguknya.

Padahal, saat itu Rasulullah sedang puasa Ramadan. Sehingga Rasulullah berbuka puasa sebelum waktunya tiba.

" Inilah suatu keringanan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya," ujar Rasulullah.

 

4 dari 4 halaman

Para Sahabat Pilih Lanjut Puasa

Tetapi, perbuatan Rasulullah tidak langsung diikuti para sahabat. Ada beberapa sahabat yang menyatakan masih kuat berpuasa dan meneruskan sampai waktu berbuka tiba.

Rasulullah tidak memaksa para sahabatnya. Mereka pun dibiarkan melanjutkan puasa dan justru memberikan kehormatan pada mereka.

" Mereka adalah orang-orang yang kuat dalam melaksanakan amal kebajikan," kata Rasulullah.

Apa yang dilakukan Rasulullah bukan berarti Rasulullah tidak kuat puasa. Tetapi, Rasulullah ingin menunjukkan ada kondisi yang membuat seseorang tidak diwajibkan berpuasa.

Salah satunya, ketika seseorang sedang menempuh perjalanan 120 kilometer jauhnya, sebagian ulama menyebut 80 atau 90 kilometer. Orang tersebut dibolehkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di lain hari.

(ism, Sumber: NU Online)

Beri Komentar