400 Mahasiswa Baru Butuh Biaya, Alumni IPB Patungan

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 5 Juni 2016 14:02
400 Mahasiswa Baru Butuh Biaya, Alumni IPB Patungan
Sekitar 400-an camaba IPB terancam gugur lantaran tidak dapat membayar biaya UKT. Kuota Bidik Misi menurun drastis tahun ini.

Dream - Perjuangan sekitar 400 calon mahasiswa baru (camaba) Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 53 terancam gagal. Mereka terancam gugur lantaran tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) karena kekurangan biaya.

Mengetahui persoalan ini, sejumlah Alumni IPB berinisiatif menggalang dana demi menyelamatkan nasib para calon mahasiswa baru itu. Dana tersebut dikumpulkan secara patungan oleh dari tiap alumni lintas angkatan.

" Kita masih terus melakukan penggalangan dana dari para alumni IPB untuk membantu camaba," ujar Sekjen Himpunan Alumni IPB Nelly Oswini, dikutip dari Alumni IPB.

Nelly mengatakan pengumpulan dana itu terus berlangsung. Dia memastikan akan semakin banyaknya camaba yang dapat dibantu seiring bertambahnya jumlah dana.

" Beberapa alumni IPB juga minta beberapa mahasiswa untuk dijadikan sebagai anak angkat yang akan dibiayai kuliahnya sampai sarjana," kata dia.

Kepala Biro Hukum, Promosi, dan Humas IPB Yatri Indah Kusumastuti mengatakan, persoalan ini muncul karena berkurangnya kuota penerima beasiswa Bidik Misi di IPB. Alhasil, banyak camaba yang tidak mampu membayar UKT.

" Hal ini sebagai dampak kuota Bidik Misi IPB yang tahun ini turun drastis," ucap Yatri.

Bidik Misi merupakan beasiswa pemerintah yang ditujukan bagi pada mahasiswa kurang mampu, tetapi tidak berbasis pada prestasi. Meski begitu, kebanyakan camaba penerima beasiswa ini tergolong berprestasi.

Yatri mengatakan IPB selalu mendapat kuota Bidik Misi sekitar 800 camaba, dan pernah sekali waktu mencapai 1.100 camaba. Tetapi, jumlah tahun ini menurun karena hanya ada 10 persen mahasiswa diterima dari jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Untuk tahun ini, IPB hanya menerima mahasiswa baru jalur SNMPTN sebanyak 2.700 orang. Dari jumlah itu, maka kuota Bidik Misi hanya ditetapkan 270 camaba.

Sementara minat penerima Bidik Misi mencapai 700 camaba. Sehingga terdapat 430 camaba yang nasibnya belum pasti.

" Kami telah mewawancarai mereka yang belum tercover Bidik Misi tersebut. Mereka umumnya anak-anak yang sangat pintar, banyak di antaranya yang juara umum, namun umumnya mereka secara ekonomi sangat lemah," ucap Yatri.

Bahkan, kata Yatri, sebagian dari mereka merupakan yatim piatu. Ada juga yang tinggal di rumah gurunya ketika masih SMA lantaran orangtuanya tidak mampu.

Untuk bisa sampai ke Bogor, para camaba itu mengandalkan ongkos yang diberikan guru-guru mereka. Setiba di Bogor, mereka ditampung oleh senior mereka yang aktif di organisasi mahasiswa daerah.

" Bertemu dan berdiskusi dengan para camaba tersebut sangat mengharukan. Karena itu, IPB ingin sekali mencari jalan keluar agar jangan sampai mereka gugur hanya karena kendala biaya," kata Yatri.

Yatri telah berkomunikasi dengan Himpunan Alumni IPB. Sejauh ini, kata dia, mereka memberikan respons yang cukup baik.

" Banyak alumni yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Demikian juga para kakak kelas yang sangat aware terhadap adik-adik kelasnya yang baru datang," ucap dia.

Lebih lanjut, Yatri mengatakan setidaknya dibutuhkan biaya mencapai lebih dari Rp1,1 miliar. Uang itu akan disalurkan kepada sekitar 430 camaba.

Selain itu, kata Yatri, pihaknya berharap pemerintah mau menambah kuota Bidik Misi tahun ini. Dia memahami situasi ekonomi nasional sedang berat saat ini.

" Namun kami berharap kuota Bidik Misi tidak dikurangi, sebab ini sangat strategis," tutup dia.

(Ism, Sumber: Alumni IPB)

Beri Komentar