Cerita Tragis di Balik Gadis Mati Lemas karena Haid

Reporter : Ratih Wulan
Kamis, 22 Desember 2016 08:02
Cerita Tragis di Balik Gadis Mati Lemas karena Haid
Menurut kepercayaan Chhaupadi, wanita datang bulan dianggap pembawa sial bagi masyarakat.

Dream – Nasib tragis dialami oleh Roshani Tiruwa. Remaja berusia 15 tahun asal Nepal itu tewas setelah menjalani ritual bagi wanita yang tengah datang bulan.

Sebagian warga di beberapa wilayah Nepal memang menjalani tradisi itu. Bagi wanita yang haid harus tinggal di gudang, lumbung, dan bahkan di kandang.

Menurut kepercayaan sebagian orang Nepal, wanita yang datang bulan dianggap pembawa sial. Karena itu mereka dilarang minum susu dan hanya boleh makan sedikit saja selama dikurung dalam pondok tanpa ventilasi itu.

Itulah yang dialami oleh Tiruwa. Menurut polisi setempat, Badri Prasad Dhakal, Tiruwa dipaksa mengasingkan diri untuk tinggal di pondok sempit yang mirip kandang. Selain sempit, kondisi pondok itu sangat pengap.

Sebenarnya, pemerintah Nepal sudah melarang tradisi ini sejak tahun 2005. Namun sebagian warga di sana tetap menjalani tradisi ini karena telah menjadi bagian dari keyakinan mereka.

Mayat Tirua baru ditemukan oleh ayahnya, pada Minggu pagi. Jasadnya kaku di dalam pondok yang terbuat dari lumpur di desa Gajra, daerah Achham, sekitar 440 kilometer barat Kathmandu.

“ Kami menunggu laporan otopsi untuk mengidentifikasi penyebab kematiannya. Kami percaya dia mati lemas,” kata Badri, sebagaimana dikutip Reuters.

“ Korban menyalakan api untuk menghangatkan badan sebelum tidur di dalam kandang yang tidak ada ventilasi itu,” tambah dia.

(Sumber: mynewshub)

 

1 dari 3 halaman

Tragis! Putri Cantik Eks Presiden, 2 Tahun Dikurung & Diracun

Dream – Klaim mengejutkan datang dari Pemerintah Uzbekistan. Mereka mengabarkan bahwa putri mantan Presiden Islam Karimov, Gulnara Karimova, telah meninggal dunia karena 'diracun'.

Namun kabar sensasional mengenai sosialita Uzbekistan tersebut belum bisa diverifikasi kebenarannya. Menurut beberapa laporan sebelumnya, wanita yang dikurung sejak 2013 itu terlihat sedang dirawat di rumah sakit jiwa.

Sementara, laporan lain mengatakan perempuan 44 tahun ini menjalani tahanan rumah. Ada juga laporan yang menyebut Gulnara diasingkan ke Israel.

Gulnara kabarnya dilarang menghadiri pemakaman ayahnya di Samarkand pada September tahun lalu. Pengasingan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran di antara teman-teman Gulnara.

Sebuah portal berita di Asia Tengah, centre1.com, mengklaim sebuah sumber anonim di Uzbek National Security Service SNB telah menyebut Gulnara meninggal di ibukota Uzbekistan, Tashkent, pada 5 November lalu.

" Menurut sumber tersebut, dia sendiri yang ikut terlibat dalam pemakaman Gulnara, dan memutuskan membuat percakapan telepon dengan kami karena khawatir dengan masa depan anak-anaknya," tulis portal berita tersebut.

Centre1.com menambahkan, Gulnara menyebut nama putranya Islam dan putrinya Iman. Keduanya tinggal di Tashkent dalam posisi tidak aman.

Islam yang saat ini berusia 24 tahun sebelumnya dilaporkan tinggal di pengasingan di London.

2 dari 3 halaman

Mati Diracun dan Makamnya Dibuldozer

Pemerintah Uzbekistan tidak bersedia memberikan komentar atas klaim yang menyebut Gulnara dikuburkan di sebuah pemakaman di Tashkent 'pada malam saat dia diracun'. Juga tak ada konfirmasi tentang kabar yang menyebut makam Gulnara 'dibuldozer'.

Sebuah sumber di kantor presiden sekarang, Shavkat Mirziyoyev - yang mengalahkan Karimov pada pemilihan tanggal 4 Desember tahun lalu - dilaporkan menolak menjawab pertanyaan tentang Gulnara.

" Orang yang berbicara kepada kami mengatakan itu benar-benar tidak mungkin bahwa ada pernyataan tentang Gulnara dari pejabat negara," katanya.

Galima Bukharbayeva, editor centre1.com, yang sekarang tinggal di pengasingan mengatakan bahwa dia sendiri yang berbicara dengan sumbernya.

" Kami mendapatkan informasi tentang itu seminggu yang lalu dan kami selalu melakukan verifikasi. Saya lebih senang itu tidak benar karena kabar tersebut sangat menggemparkan," kata Bukharbayeva.

Menurut Bukharbayeva, sumbernya mengatakan Islam ditipu dengan dibuat percaya bahwa ibunya sakit jiwa sehingga dia pulang ke Tashkent dari London.

" Jadi, ternyata dia ada di sana sekarang bersama-sama dengan adiknya, dan hanya satu yang bisa ditebak tentang yang terjadi pada mereka.

" Sumber kami mengatakan rasa khawatir terhadap anak-anaknya yang tak berdaya itulah yang menjadi alasan utama dia menghubungi kami. Saya tidak tahu apakah sumber kami mencoba untuk menghubungi media lain," tambah Bukharbayeva.

Netizen di media sosial meminta pihak berwenang di Uzbekistan yang bersifat tertutup untuk membuktikan bahwa Gulnara masih hidup dengan membuat hashtag #ShowGulnara.

3 dari 3 halaman

Dekat dengan Skandal dan Korupsi

Laporan tentang kematian Gulnara secara kebetulan muncul bersamaan dengan informasi dari aktivis hak asasi manusia yang berbasis di Uni Eropa yang mengatakan kontak mereka pernah melihat Gulnara 'berpakaian hitam' dan berjalan sendirian di Tashkent.

" Dari yang dikatakan sumber kami, Gulnara masih hidup dan saya sangat terkejut dengan berita yang disebarkan centre1.com," kata aktivis.

Gulnara merupakan lulusan Harvard dan pemegang sabuk hitam judo. Dia adalah wanita terkaya dan paling berkuasa di negara bekas Uni Soviet.

Tidak hanya itu, Gulnara juga seorang bintang pop, model, sosialita, perancang busana, diplomat asing, pewaris takhta, dan, dalam kata-katanya sendiri, seorang 'wanita cantik dari Uzbekistan yang eksotis'.

Pernah menjadi wanita terkuat di Asia Tengah, Gulnara punya koneksi di keluarga kerajaan Inggris dan juga di seluruh Eropa serta Amerika.

Karena kekuatan dan kekayaannya, Gulnara disebut-sebut sangat dekat dengan skandal dan korupsi.

Pemerintah Amerika Serikat berencana mengembalikan lebih dari US$ 600 juta ke Uzbekistan. Uang tersebut diduga bagian dari skandal penyuapan yang melibatkan Gulnara di masa-masa jayanya.

Pemerintah Swiss juga sedang menyelidiki kasus pencucian uang senilai lebih dari 615 juta poundsterling yang diduga melibatkan Gulnara.

Baru-baru ini muncul akun Twitter yang mengaku-aku milik Gulnara.

Salah satu pesan terbaru di akun itu mengatakan, " Aku ingin anak-anakku kembali. Itu satu-satunya impianku selama ini."

Pekan lalu akun tersebut meminta Sir Alex Ferguson untuk melatih tim nasional Uzbekistan.

" Aku tahu dia sudah pensiun. Tapi di mana ada cara, di sana ada jalan. Aku punya kontak Sir Alex. Aku akan berbicara kepadanya dan memintanya melatih."

Centre1.com mengatakan telah meminta klarifikasi detail tentang kabar kematian Gulnara kepada kantor presiden di Tashkent, tetapi tidak mendapat balasan.

" Tidak ada jawaban dari pemerintah."

(Sumber: dailymail.co.uk)

Beri Komentar