Masya allah, Ustaz Disabilitas Bimbing 42 Santri Baca Al-Qur'an dari Atas Dipan

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 5 Desember 2019 14:49
Masya allah, Ustaz Disabilitas Bimbing 42 Santri Baca Al-Qur'an dari Atas Dipan
Azfar memiliki fisik yang kurang sempurna.

Dream - Mohamad Azfar Mohd Yusuf, 31 tahun, memiliki fisik yang tidak sempurna. Dia sama sekali tidak bisa beranjak dari tempat tidur akibat kelainan pada tulangnya.

Namun begitu, keterbatasan fisik tidak membuatnya menyerah. Pemuda asal Sungai Petani, Kedah, Malaysia ini ingin memberikan manfaat kepada banyak orang dengan cara menjadi guru mengaji.

Hebatnya, murid Azfar tidak hanya satu dua, melainkan mencapai 42 orang. Usia mereka macam-macam, mulai 5 hingga 17 tahun.

Sudah 10 tahun lamanya Azfar mengajar para santrinya bisa membaca Al-Qur'an. Dia membimbing setiap santrinya dalam posisi berbaring miring ke kanan dan menggunakan lengan kanannya sebagai bantal.

Untuk menambah materi pelajaran, tidak jarang guru agama diundang ke rumah Azfar. Para guru itu diminta mengajar materi agama kepada para santri Azfar.

 

1 dari 4 halaman

Cita-Cita Menjadi Guru Ngaji

Azfar mengatakan sudah dari kecil bercita-cita menjadi guru ngaji. Dia mengaku awalnya tidak pandai mengaji namun karena rutin belajar membuatnya bisa baca Al-Qur'an.

" Karena keinginan saya yang kuat, akhirnya saya bisa jadi pengajar mengaji setelah belajar dari beberapa orang guru agama yang diundang ke rumah," kata Azfar, dikutip dari Sinar Harian.

 Guru Ngaji difabel

Azfar mengatakan awalnya dia punya 10 santri. Lama kelamaan, banyak tetangganya tertarik lalu menitipkan anak-anak mereka agar dibimbing Azfar dalam membaca Al-Qur'an.

Selain itu, Azfar juga dikenal dermawan. Tidak jarang dia memberikan hadiah kepada tiap santrinya agar makin semangat belajar dan semakin cinta Al-Qur'an.

" Untuk meningkatkan prestasi, saya selalu puji mereka atau berikan hadiah seperti mainan, bahan bacaan, es krim atau apa saja yang mereka suka," kata dia.

 

2 dari 4 halaman

Dibantu Santri Lebih Besar

Cara ini dipakai Azfar agar para santrinya bisa fokus dalam belajar. Juga agar mereka paham kondisi Azfar yang tidak bisa bergerak.

" Untuk memudahkan belajar, saya minta bantuan santri yang sudah besar untuk membimbing adik-adik yang lain agar tidak berisik atau minta mereka mengajak bermain ketika saya sedang mengajar," ucap dia.

 Guru Ngaji difabel

Lebih lanjut, Azfar bersyukur mendapat amanah dari para orangtua untuk mengajar anak-anak mereka mengaji. Lewat jalan itu, dia berkesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat sekaligus menambah teman dan kenalan.

" Karena jumlah santri makin banyak, saya akhirnya buat jadwal belajar. Saya juga mengajar mengaji orang dewasa dari semua negara bagian yang menghubungi lewat telepon atau WhatsApp untuk membetulkan bacaan Al-Qur'an," ucap dia.

3 dari 4 halaman

Menggetarkan, Ikhtiar Santri Tuna Netra Hafalkan Al-Qur'an

Dream - Dunia memperingati Hari Disabilitas yang jatuh setiap tanggal 3 Desember. Peringatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada para difabel untuk mendapatkan kesempatan yang setara dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.

Merayakan Hari Disabilitas Sedunia, santri Rumah Tahfiz Nurul Qolbi Bogor, Jawa Barat, mengisi dengan hafalan Al-Qur'an. Para santri rumah tahfiz ini adalah para penyandang tuna netra.

Direktur Utama PPPA Daarul Qur'an, Abdul Ghofur, mengatakan saat ini ada 367 santri difabel di Rumah Tahfiz Nurul Qolbi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang daerah dan usia, bahkan ada yang masih anak-anak.

" Alhamdulillah, kini sebanyak 367 santri tengah menghafal Al-Qur’an di Rumah Tahfiz Nurul Qolbi. Hafalan mereka beragam mulai dari 1, 5, 10, 15, 20, 25 bahkan ada dua santri yang telah khatam menghafal 30 juz," kata Ghofur.

 santri tuna netra

Ghofur mengatakan Daarul Qur'an memberikan perhatian khusus kepada para penyandang disabilitas. Mereka diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya.

4 dari 4 halaman

Semangat Menghafal Al-Qur'an

Menurut dia, dakwah Daarul Qur'an didawamkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Demi terwujudnya cita-cita besar, membangun dunia dengan Alquran.

" Ikhtiar pun terus dijalankan, salah satunya seperti membimbing penyandang disabilitas menghafal Al-Qur'an," kata dia.

Selanjutnya, Ghofur berharap semangat para tunanetra ini bisa menjadi energi bagi mereka yang dianugerahi fisik sempurna.

 Santri Rumah Tahfiz

Santri Rumah Tahfiz Nurul Qolbi, Sa'adah, 45 tahun, begitu bersemangat menghafal Al-Qur'an. Tuna netra yang dia alami tidak menjadi penghalang baginya.

Dia bahkan rela menempuh perjalanan jauh dari rumahnya di Sukabumi ke rumah tahfiz. " Yang penting saya bisa menghafal Al-Qur'an," kata dia.

Beri Komentar
4 Januari, Hari Bahagia dan Paling Sedih Rizky Febian