Laporan dari Palu: Mengevakuasi Pengungsi Keguguran

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 30 Oktober 2018 12:42
Laporan dari Palu: Mengevakuasi Pengungsi Keguguran
Defianti harus kehilangan putri keduanya akibat kelelahan.

Dream - Jumat siang pada 26 Oktober 2018, Tim kesehatan Dompet Dhuafa bergegas menuju pengungsian di Desa Pembewe, Kabupaten Sigi. Mereka harus secepat mungkin menjalankan evakuasi terhadap seorang ibu yang keguguran.

Mereka mendapat panggilan darurat mengenai seorang ibu di pengungsian baru saja keguguran. Setiba di lokasi, rupanya sang ibu keguguran sekitar pukul 04.00 WITA.

Salah satu bidan dari Tim Kesehatan Dompet Dhuafa, Amanda Dwi Putri, menceritakan ketika itu si ibu bernama Defianti bergegas dibawa ke rumah sakit.

" Kita antisipasi pendarahan, apa masih ada lengket plasenta, ari-ari. Kalau masih di sini (pengungsian) aja takutnya ada pendarahan hebat, kita rujuk ke rumah sakit," ujar Putri di lokasi pengungsian, Senin 29 Oktober 2018.

Ketika sudah sampai di rumah sakit. Defi enggan untuk dirawat. Dia terus memikirkan anak pertamanya yang masih berusia delapan bulan.

Defianti menduga penyebab kegugurannya lantaran terlalu lelah ketika berada di pengungsian. Setiap hari, apabila ingin ke kamar mandi umum, dia harus mengangkat air menggunakan ember terlebih dulu.

" Satu minggu sebelumnya saya juga jatuh dari kamar mandi. Kandungan dua bulan," ucap Defi.

Malam hari sebelum keguguran, kepalanya terasa sakit. Perih juga dia rasakan di perut. Menjelang pukul tiga dini hari, rasa perih semakin tak tertahankan.

" Suami tanya kenapa? Saya bilang tidak apa-apa," ujar dia.

Setelah itu, darah pun keluar. Ia hanya bisa pasrah dengan keguguran anak keduanya itu.

Laporan Jurnalis Dream, Muhammad Ilman Nafi'an dari Palu

1 dari 2 halaman

Kisah Bocah Palu Saat Gempa dan Tsunami, Bingung Lanjutkan Sholat

Dream - Sudah satu bulan gempa dan tsunami di Palu terjadi. Meski demikian, perisitiwa mengerikan itu masih terekam jelas di pikiran anak-anak yang berada di pengungsian sekitar Masjid Agung, Palu.

Musibah yang terjadi menjelang waktu Maghrib itu, terjadi saat mayoritas masyarakatnya tengah bersiap untuk melaksanakan sholat. Termasuk anak-anak yang ini tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Salah satunya Dayat, secara jelas ia menceritakan detik-detik gempa hingga akhirnya tsunami menyapu rumahnya yang berada di sekitar anjungan pantai talise, Palu.

  bocah di palu

Foto : Ilman/Dream

" Waktu itu saya sedang ganti pakaian, mau pergi sholat ke masjid," kata Dayat saat berbincang dengan Dream, Sabtu 27 Oktober 2018.

Belum sempat melaksanakan Sholat Maghrib, Dayat merasakan goncangan gempa. Awalnya, ia tak menghiraukan karena sudah biasa.

Karena ada gempa itu, ia memutuskan untuk Sholat Maghrib di rumah saja. Dengan raut wajah yakin, Dayat melafalkan niat sholat. Di tengah melaksanakan Rukun Islam ke dua itu, gempa kembali terasa dengan kekuatan lebih besar yakni 7,4 Skala Richter.

  penampakan palu

Foto : Ilman/Dream

Dalam hatinya bingung, harus melanjutkan sholat atau pergi menyelamatkan diri. Kebingungan itu juga semakin bertambah ketika sang ibu memanggil-manggil namanya.

Akhirnya, bocah berusia 12 tahun ini memutuskan untuk membatalkan sholatnya dan lari keluar rumah bersama ibu, kakak serta adiknya.

" Saya lari sama ibu dipegang. Bapak sedang kerja," ucap dia.

Setelah satu bulan dari musibah yang terjadi, para korban masih menempati tenda-tenda pengungsian karena dirasa itu menjadi tempat paling aman.

 

2 dari 2 halaman

Senang Meski di Tenda Pengungsian

Meski demikian, anak-anak rupanya tak begitu mempersoalkan mau di mana mereka tinggal. Asalkan ada teman dan juga hadiah, begitu menurut pengakuan gadis mungil bernama Rani.

" Saya senang tinggal di pengungsian karena ada yang suka bagi-bagi uang," kata Rani.

Menurut bocah bermata cokelat itu, setiap hari Jumat biasanya ada relawan yang datang bagi-bagi uang untuk anak-anak. Nilainya beragam, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

 bocah di palu

" Saya kalau dapat uang Rp 50 ribu kasih ke mama, terus mama kasih uang belanja (uang jajan) ke saya Rp10 ribu atau Rp20 ribu," ujar dia.

Rumah Rani tidak hancur seperti milik Dayat. Rumah itu hanya rusak di bagian sampingnya saja. Meski demikian, keluarga khawatir akan runtuh jika ditempati.

Beri Komentar
Adu Akting dengan Betari Ayu, Alvin Faiz Ceritakan Respon Sang Istri