Kakek Uhi dan Undangan Haji dari Raja Saudi

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 29 Juli 2019 12:36
Kakek Uhi dan Undangan Haji dari Raja Saudi
Kakek Uhi mendapat undangan haji dari Raja Salman setelah videonya viral.

Dream - Kakek Uhi tengah mendapatkan berkah kebahagiaan. Berkat video yang dibuatnya bersama keluarga, kakek berusia 95 tahun ini bisa berangkat haji.

Videonya berisi permintaan kepada Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz As Saud agar bisa dihajikan, rupanya sampai kepada pihak yang dituju.

Raja Salman terharu. Kemudian mengeluarkan perintah kepada Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta untuk mengirimkan undangan haji kepada Kakek Uhi.

Kakek Uhi hanyalah petani sepuh yang tidak punya cukup uang untuk bisa menunaikan ibadah haji. Pria asal Batulawang, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat itu akhirnya dapat mewujudkan mimpinya tahun ini.

Dikutip dari Arab News, Kakek Uhi akan berhaji ditemani tiga anak dan dua cucunya. Mereka sudah menjalani pemeriksaan kesehatan dan kini tengah menunggu persiapan keberangkatan.

Paspor baru mereka juga sudah dikirimkam ke Kedubes Saudi di Jakarta. Bahkan Kakek Uhi dan keluarganya juga diundang untuk bertemu dengan Dubes Saudi, Essam bin Abed Al Thaqafi.

" Saya sangat senang. Saya tidak bisa membayangkan ini bisa terjadi. Ketika kami tiba di Mekah, saya hanya ingin ibadah. Terima kasih sudah mengundang saya pergi haji," ujar Kakek Uhi.

1 dari 6 halaman

Video Viral, Sampai Dilihat Putra Mahkota Saudi

Undangan dari Raja Salman datang, setelah video Kakek Uhi beserta dua putrinya berpose diselingi foto Raja Salman dan mengajukan harapan dalam bahasa Arab. Tujuannya, agar bisa berhaji namun tidak punya cukup dana.

Video itu viral dan dilaporkan telah dilihat oleh Putra Mahkota Muhammad bin Salman.

Putri Kakek Uhi, Nana Rohana, mengatakan mereka membuat video beberapa saat sebelum Ramadan di rumah mereka di Cipanas. Ide membuat video itu muncul dari salah satu orang Arab yang kerap berkunjung ke Cipanas, diketahui bernama Ali.

Ali membubuhkan foto Raja Salman dalam video itu kemudian diunggah di YouTube. Kakek Uhi memang sudah kenal Ali cukup lama.

" Saya hanya mengobrol dengan Ali di rumah. Dia tanya ke saya, 'kamu mau pergi haji?' Saya jawab saya mau tapi tidak punya duit," kata Kakek Uhi.

" Dia bercanda bilang akan memberitahu presidennya (Raja Salman). Saya benar-benar mengira dia bercanda," ucap Kakek Uhi.

2 dari 6 halaman

Diundang Dubes Saudi

Sementara Nana mengatakan, Ali berjanji akan mengunggah video itu setelah Idul Fitri. Keluarga ini tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan video itu.

Suatu hari, tiba-tiba ada orang asing menelepon, mengatakan Kakek Uhi telah diundang melaksanakan haji. Mereka tidak percaya dan mereka tidak mengizinkan Kakek Uhi berangkat sendiri mengingat usianya sudah senja.

Akhirnya, undangan itu benar-benar menjadi kenyataan setelah ada telepon resmi dari Kedubes Saudi. Lewat telepon itu, Kakek Uhi dan keluarga diundang untuk bertemu Dubes Saudi.

" Saya benar-benar tersentuh. Saya masih bertanya apa ini nyata, sampai merinding dan tangan saya dingin. Saya sangat berterima kasih kepada Allah. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kedubes. Saya sampaikan terima kasih ke Pak Dubes. Alhamdulillah, ini hadiah dari Allah, hanya karena video yang jadi viral," kata Kakek Uhi. (ism)

3 dari 6 halaman

Keutamaan Memahami Syarat dan Rukun Haji Sebelum Meminta Doa Kemabruran

Dream - Bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, hal yang paling diharapkan adalah kemabruran. Sebelum berangkat, para calon jemaah haji meminta doa kepada banyak orang agar harapan tersebut terpenuhi.

Pun demikian ketika sowan atau bersilaturahmi kepada ulama. Setelah mengungkapkan niat akan berangkat haji, mereka umumnya meminta didoakan supaya mabrur.

Kebiasaan ini mendapat kritikan dari sejumlah ulama, salah satunya dari KH Bahauddin Nursalim. Ulama muda pakar ilmu Alquran dan hadis asal Rembang, Jawa Tengah ini mengaku kerap dimintai doa calon jemaah haji agar ibadahnya mabrur.

Dikutip dari NU Online, ulama yang akrab disapa Gus Baha' ini sangat menekankan pentingnya pengetahuan dan pemahaman mengenai haji daripada doa kemabruran. Gus Baha' akan bertanya lebih dulu apakah calon haji sudah paham syarat dan rukunnya.

" Sowan mestinya bukan sekadar meminta doa, tetapi diniati juga untuk menggali pengetahuan. Kiai, saya mau haji, syrat dan rukunnya apa? Kan bisa saya nerangkan," kata Gus Baha'.

 

4 dari 6 halaman

Dahulukan Pemahaman Syarat dan Rukun Haji

Dalam pandangan Gus Baha', seharusnya calon jemaah haji mendahulukan penguasaan syarat dan rukun seperti tawaf, sa'i, pengertian miqat, dan sebagainya. Termasuk pula sunah-sunah dalam haji.

Di mata dia, doa haji mabrur untuk orang yang belum memiliki pengetahuan haji sama dengan doa minta selamat pada orang yang belajar naik motor.

" Orang yang minta didoakan jadi haji mabrur itu seperti orang yang nggak bisa mengendarai sepeda motor tapi minta didoakan selamat," kata dia.

Menurut Gus Baha', keselamatan baru didapat jika seseorang sudah bisa naik motor. Hal ini juga berlaku pada orang yang meminta didoakan agar hajinya mabrur sementara tidak memahami syarat dan rukunnya.

" Hajinya nggak bisa kok minta didoakan selamat," kata dia.

(Sah, Sumber: NU Online)

5 dari 6 halaman

Mana yang Prioritas, Biayai Haji Sendiri atau Orangtua?

Dream - Bagi sebagian besar Muslim di Indonesia, bisa menunaikan haji jadi impian terbesar.

Semua ingin berkunjung ke Haramain (Mekah dan Madinah) dan sejumlah tempat bersejarah untuk berdoa sekaligus napak tilas perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, serta para sahabat menyebarkan Islam.

Tetapi, tidak semua Muslim bisa mewujudkan keinginan itu karena terkendala biaya. Tidak sedikit dari mereka yang harus berjuang keras agar bisa berkunjung ke Baitullah.

Sering pula terjadi di masyarakat, orangtua berhaji atas biaya dari anaknya. Si anak ingin berbakti dengan mewujudkan keinginan terbesar orangtua untuk menjadi tamu Allah SWT.

Padahal, anak itu juga belum menunaikan ibadah haji. Tetapi, dia memilih menghajikan orangtuanya lebih dulu daripada dirinya sendiri.

Lantas, sebenarnya lebih baik mana yang didulukan antara haji untuk diri sendiri atau membiayai orangtua?

6 dari 6 halaman

Haji Wajib, Tetapi Boleh Ditunda

Dikutip dari NU Online, menurut pandangan fikih Mazhab Syafi'i, wajib berhaji bagi orang yang telah mampu baik fisik maupun keuangan. Tetapi, kewajiban itu tidak diharuskan untuk dilaksanakan secepatnya.

Seseorang boleh menunda berhaji asalkan memiliki tekad kuat melaksanakannya di waktu mendatang. Juga tidak ada dugaan akan terjadinya kegagalan baik karena lumpuh ataupun bangkrut.

 Siap-siap, Kemenag Buka Pelunasan Biaya Haji Tahap II Besok

Hal ini sebagaimana disinggung oleh Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitabnya Tuhfah Al Muhtaj Hamisy Hasyiyah Al Syarwani.

" Haji dan umrah (kewajibannya) bisa ditunda, dengan syarat tekad yang kuat mengerjakannya dan tidak menjadi sempit dengan nadzar, kekhawatiran lumpuh atau rusaknya harta dengan sebuah tanda-tanda meski lemah, sebagaimana yang dipahami dari ucapan para ulama: ‘tidak boleh mengakhirkan kewajiban yang dilapangkan kecuali menduga kuat bisa melakukannya’. Atau (kewajiban haji dan umrah menjadi sempit) dengan status qadha dikarenakan ia merusaknya."

 

Beri Komentar
Tips Jitu Menyeimbangkan Karier dan Pendidikan Ala Tiffani Afifa