Mana yang Didahulukan, Puasa Syawal atau Bayar Utang Puasa Ramadhan?

Reporter : Reni Novita Sari
Selasa, 2 Juni 2020 12:36
Mana yang Didahulukan, Puasa Syawal atau Bayar Utang Puasa Ramadhan?
Puasa Qada hukumnya adalah wajib, sedangkan puasa syawal hukumnya sunnah, lalu mana yang harus didahulukan?

Dream- Pada umumnya umat islam usai melaksanakan puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal, kembali mengerjakan puasa sunnah, yakni Puasa Syawal.

Hukum bagi umat Islam untuk menjalankan puasa syawal adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.

Ibadah ini dinilai utama karena disampaikan oleh Rasulullah secara langsung melalui sebuah hadits, bahwa menyertakan puasa penuh di bulan Ramadhan dengan puasa syawal menjadikan seseorang dinilai persis seperti puasa setahun penuh.

" Barangsiapa yang berpuasa bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan enam hari dari bulan Syawal, maka seperti puasa setahun." (HR. Muslim, 1164)

Permasalahan muncul ketika seseorang punya hutang puasa bulan Ramadhan karena melewatkan beberapa hari dengan atau tanpa alasan tertentu.

Sebagian umat muslim biasanya masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan. Seperti halnya para perempuan yang haid, orang sakit, maupun musafir.

Lantas, ketika hendak menjalankan ibadah puasa syawal, mana yang lebih didahulukan?

1 dari 3 halaman

Mendahulukan Mengganti Puasa Ramadhan Bila Tak Ada Halangan

Puasa sunah syawal hanya boleh dikerjakan jika puasa Ramadhan telah dilakukan dengan sempurna, karena hadis di atas menyatakan, “ Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian …,”

Sementara orang yang memiliki utang puasa Ramadhan tidak dikatakan telah melaksanakan puasa Ramadhan. Karena itu, orang yang memiliki utang puasa Ramadan dan ingin melaksanakan puasa Syawal harus mengganti utang puasa Ramadhan-nya terlebih dahulu, baru kemudian melaksanakan puasa Syawal.

Fatwa Imam Ibnu Utsaimin tentang wanita yang memiliki utang puasa ramadhan, sementara dia ingin puasa syawal,

Jika seorang wanita memiliki utang puasa ramadhan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setelah selesai qadha. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal…”. Sementara orang yang masih memiliki utang puasa ramadhan belum disebut telah berpuasa ramadhan. Sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa 6 hari di bulan syawal, kecuali setelah selesai qadha. (Majmu’ Fatawa, 19/20).

Hal itu menunjukkan harus menyempurnakan puasa Ramadhan dahulu, baik yang bersifat langsung maupun qada. Kemudian setelah itu puasa enam syawal. Agar terrealisasikan pahala yang ada dalam hadits. Karena orang yang masih mempunyai tanggungan Ramadan masih dikatakan ‘Puasa sebagian Ramadhan' Bukan ‘Puasa seluruh Ramadhan’.

2 dari 3 halaman

Alasan Harus Mendahulukan Mengganti Puasa Ramadhan

wanita hijab© Ilustrasi foto : shutterstock

Untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, puasa Ramadhan haruslah dirampungkan secara sempurna, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Selain itu, qadha’ puasa  berkaitan dengan dzimmah (kewajiban), sedangkan puasa Syawal tidaklah demikian. Dan seseorang tidak mengetahui kapankah ia masih hidup dan akan mati. Oleh karena itu, wajib mendahulukan yang wajib dari yang sunnah. Sebagaimana dalam hadits qudsi juga disebutkan bahwa amalan wajib itu lebih utama dari yang sunnah,

Tidaklah hambaku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib hingga aku mencintainya” (HR. Bukhari no. 6502)

Sa’id bin Al Musayyib berkata mengenai puasa sepuluh hari (di bulan Dzulhijjah),

Tidaklah layak melakukkannya sampai memulainya terlebih dahulu dengan mengqodho’ puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari)

3 dari 3 halaman

Cara Melaksanakan Puasa Syawal Bagi yang Berhalangan (Uzur)

Terkadang seseorang mendapatkan uzur yang menghalanginya untuk melaksanakan puasa Syawal pada bulan Syawal disebabkan mengqada, seperti wanita nifas.

Dalam hal ini wanita nifas memiliki pengecualian karena dia tidak seharipun puasa di Bulan Ramadhan.

Masa pada bulan syawal hanya cukup untuk melaksanakan qadha puasa Ramadhannya dan tidak memungkinkan lagi untuk melaksanakan puasa sunah syawal, maka pada kesempatan itu dia dapat melaksanakan puasa sunah. Dia dibolehkan puasa  Syawal di bulan Dzulqaidah, karena dia memiliki uzur.

Kabar baiknya, Orang yang memiliki uzur tetap mendapatkan pahala puasa di bulan Syawal, walau tidak dikerjakan pada bulan syawal. Hal ini terjadi karena uzur bersifat darurat.

Pengecualian ini bagi yang punya uzur, maka dia dianjurkan mengqadha enam Syawal di bulan Dzulqaidah setelah mengqadha Ramadan. Namun, jika bulan Syawal telah selesai dan seseorang tidak berpuasa tanpa uzur, maka dia tidak mendapatkan pahala ini.

Mendahulukan puasa syawal dibandingkan membayar hutang puasa Ramadhan tidaklah tepat. Seharusnya yang dilakukan adalah puasa qadha’ dahulu lalu puasa Syawal. Karena jika kita mendahulukan puasa Syawal dari qadha’ sama saja dengan mendahulukan yang sunnah dari yang wajib.

Hal tersebut dikarenakan puasa Qada hukumnya adalah wajib, sedangkan puasa syawal hukumnya sunnah. Maka mendahulukan yang wajib adalah lebih tepat daripada mengerjakan yang sunnah sedangkan yang wajib masih tertinggal. Maka dari situ, bersegera untuk melaksanakannya dan menyelesaikan tanggungan itu mumpung masih tersisa bulan syawal. Jangan disia-siakan ya.

Beri Komentar