Setelah Hidup Pahit, Putri Penjual Jagung Bakar jadi Pilot TNI AD

Reporter : Eko Huda S
Sabtu, 13 Juni 2020 10:59
Setelah Hidup Pahit, Putri Penjual Jagung Bakar jadi Pilot TNI AD
Ladiba hanya diantara sang guru dengan motor saat tes Akademi Militer. Semua saingannya naik mobi mewah.

Dream - Perkenalkan, inilah Letda CPN (K) Puspita Ladiba. Pilot wanita pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Kini, perempuan asal Medan, Sumatera Utara tersebut menjabat sebagai Co Pilot TNI AD.

Tak mudah bagi Ladiba menggapai posisi itu. Dia harus berjuang keras, melalui jalan berliku. Maklum, dia tumbuh di keluarga sederhana dengan berbagai keterbatasan. Dia menghabiskan masa sekolah dengan penuh kesederhanaan.

Dengarlah kisah Ladiba saat lulus SMA. Sebenarnya dia diterima di universitas terkemuka tanah air. Tapi apa daya, dia harus melepas kesempatan duduk di bangku kuliah di universitas bonafide karena tidak punya biaya.

" Setelah SMA itu yang pahitnya itu saya keterima di universitas terbesar di Indonesia. Salahnya saya tidak bisa mengikuti karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah," ungkap Ladiba, dikutip dari , Sabtu 13 Juni 2020.

Tapi, ibarat pepatah habis gelap terbitlah terang, peluang Ladiba belum tamat. Setelah kenyataan pahit itu dia mendapat tawaran cukup manis dari TNI AD. Dia ditawari masuk taruni Akademi Militer. Dia akhirnya ikut tes dan diterima menjadi taruni Akademi Militer.

" Jadi, karena ada kesempatan Angkatan Darat menawarkan saya untuk memasuki taruni Akademi Militer, kenapa enggak. Prinsip hidup saya adalah kesempatan tidak datang dua kali," jelasnya.

1 dari 3 halaman

Hidup pahit

Sukses menjadi penerbang di TNI AD tak membuat Ladiba lupa masa lalunya. Saat-saat sulit dalam kehidupan. Dia masih ingat betul saat harus bertahan hidup bersama keluarga dengan kondisi seadanya.

Pernah suatu ketika jualan jagung bakar sang ibu tidak laku. Jadilah keluarga itu tak punya untuk makan. Untuk mengganjal perut, mereka harus makan jagung-jagung yang mereka jual.

" Waktu itu ibu pernah jualannya enggak laku gitu. Terus, kita makan seadanya saja. Makan jagung yang dijual," ungkap Ladiba.

2 dari 3 halaman

Bantu orangtua

Ladiba kini sudah sukses. Dia mulai bisa membantu ekonomi keluarga. Ladiba merasa bahagia sekali karena sudah bisa membantu ekonomi orangtuanya saat ini.

" Alhamdulillah, untuk saat ini setiap bulan saya wajib mengirim ke keluarga. Sangat bersyukur sekali," ucap Ladiba.

Meski sudah mendapat sokongan finansial dari sang anak, orangtua Ladiba rupanya masih terus berjualan jagung. Bukan tanpa alasan, orangtua Ladiba tidak ingin membebani kehidupan anak-anaknya.

" Kalau saya bilang, 'kenapa sih diterusin jualannya, sudah nanti Ladiba yang bantu'. Ayah sama ibu enggak mau membebani Ladiba selagi orangtua masih bisa bekerja gitu," jelas Ladiba.

3 dari 3 halaman

Peran orang tua

Bagi Ladiba, orangtuanya berperan sangat besar dalam kariernya. Selama ini, orangtua tidak pernah meninggalkannya, dalam kondisi apapun. Orangtuanya selalu menjadi pelindung dan pemberi motivasi.

" Selalu dilindungan orangtua, selalu pengertian, kasih motivasi, semangat belajar, jangan patah semangat walaupun keadaan," kata Ladiba.

Saat mendaftar di Akademi Militer, Ladiba memang sempat down karena saingannya berasal dari orang-orang dengan ekonomi berkecukupan. Ladiba saat itu hanya diantar oleh gurunya dengan motor. Peserta lain diantar dengan mobil mewah.

" Ada kata yang saya bilang sama dia, 'bukan masalah apa yang kita miliki dan apa yang kita kerjakan, Ladiba. Tetapi, apa yang bisa kita kerjakan dengan apa yang kita miliki'," ujar kata Ladiba.

Beri Komentar