Thrifting Favorit Gen Z, Tonjolkan Personal Style dan Ekonomi Sirkular

Dinar | Selasa, 15 September 2026 17:29

Reporter : Mutia Nugraheni

Ekonomi sirkular adalah model model ekonomi meminimalkan penggunaan sumber daya, dan mendesain suatu produk agar memiliki daya guna selama mungkin.

DREAM.CO.ID - Pakaian second atau bekas saat ini jadi bisnis yang sangat disukai kalangan Gen Z. Dengan modal yang tak terlalu besar, atau memanfaatkan pakaian lawas yang tak lagi terpakai, lalu dipasarkan secara online, bisnis ini begitu menjanjikan.

Koleksi pakaian dari thrifting ini juga membuat style para Gen Z jadi sangat personal dan unik. Bukan sekadar mengikuti tren yang ada tapi melakukan mix and match seru dan tak akan ada yang bisa menirunya. Style pun jadi berkesan eksklusif tapi dengan cara yang 'membumi' dengan haarga yang lebih muraah.

Membeli pakaian bekas, second atau istilah sekarang dikenal dengan thrifting dulu sering dipandang sebelah mata. Kini, justru jadi tren dan bagian dari personal style yang sangat disukai Gen Z. Jika dilihat dalam kacamata yang lebih dalam, thrifting juga bisa meningkatkan pergerakan ekonomi sirkular yang sangat menjanjikan.

 

2 dari 3 halaman

Ekonomi Sirkular dalam Fashion

Konsep ekonomi sirkular ini sedang banyak diterapkan oleh berbagai industri, termasuk juga fashion. Ekonomi sirkular sendiri, dikutip dari LCDI Indonesia, adalah model ekonomi yang menerapkan pendekatan sistemik untuk meminimalkan penggunaan sumber daya, mendesain suatu produk agar memiliki daya guna selama mungkin, dan mengembalikan sisa proses produksi dan konsumsi ke dalam rantai nilai.

Konsep penjualan pakaian, tas, barang-barang bekas ini termasuk memberikan nilai ekonomis yang lebih lama pada barang-barang yang tak lagi digunakan. Dalam menjual barang-barang bekas ini, para gen Z tentunya punya trik khusus agar koleksi mereka terlihat tetap menarik dan memiliki daya jual. Seperti dengan styling seru dengan memadukan outfit lama dan aksesori atau koleksi yang sedang tren.

Lalu, membuat foto dan short video dari koleksi dengan cara on point untuk jadi etalase di sosial media. Saat mempromosikan koleksi thrifting, para seller tentunya punya akun media sosial khusus seperti Instagram dan TikTok, bukan hanya mengandalkan akun di e-commerce. Kreativitas dalam mix and match, menampilkan foto dan video yang estetik, menjualnya secara live di berbagai platform, jadi strategi andalan para penjual produk thrifting, preloved, second, atau apapun istilahnya.

Pakaian lama atau barang fashion yang sebelumnya hanya menumpuk di lemari dan gudang, kini jadi bernilai ekonomis. Dikutip dari Vogue, menurut laporan dari ThredUp, salah satu peritel terbesar di bidang jual-beli pakaian bekas, nilai pasar global fashion barang bekas diperkirakan akan mencapai US$351 miliar pada 2027.

Sangat menjanjikan, bukan? Tak hanya itu, jika dilakukan secara selektif dampaknya pun cukup positif bagi lingkungan.

3 dari 3 halaman

Dampak Thrifting pada Lingkungan

Membeli pakaian hasil thrifting tentunya berbeda dengan produk fast fashion yang diproduksi secara massal. Pakaian thrifting membuat para Gen Z jadi bisa mengekspresikan style personal dengan maksimal dengan harga minimal.

Lalu apakah thrifting favorit gen Z ini benar-benar berdampak positif pada lingkungan? Dikutip dari Goodwillvirginia.org, thrifting dapat mengurangi pemborosan sumber daya, karena untuk membuat pakaian dibutuhkan banyak sekali air.

Satu celana jeans saja membutuhkan 1.800 galon air, mulai dari penanaman kapas, pewarnaan hingga final product. Lalu, sebagian besar produk pakaian di pasaran terbuat dari material sintetis yang butuh ratusan tahun untuk bisa terurai.

Faktanya, dikutip Unep.org, data UN Environment Programme (UNEP) limbah tekstil dunia diperkirakan mencapai sekitar 92 juta ton setiap tahun. Artinya, rata-rata sekitar 252 ribu ton per hari atau lebih dari 10 ribu ton per jam.

Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 134 juta ton per tahun pada 2030 jika pola produksi dan konsumsi pakaian tidak berubah. Thrifting dianggap bisa jadi cara untuk mengurangi limbah tekstil ini, tapi ada syaratnya.

Sebenarnya, thrifting dapat berdampak positif bagi lingkungan jika dilakukan dengan tidak konsumtif. Pasalnya tren thrifting ini juga memicu impor pakaian bekas ilegal yang ternyata malah membawa sampah pakaian dari luar negeri ke Indonesia.

Tentunya agar tren thrifting ini bisa tetap sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk tak berlebihan dalam hal mengoleksi pakaian serta penegakan aturan dan kebijakan yang tegas agar tidak malah memancing dikirimnya limbah tekstil dari negara lain.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id