Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Berbahaya, Begini Penampakan Aslinya Saat Diperbesar 2.600 Kali
Gunung Anak Krakatau Meletus
Reporter : Okti Nur
Hasil pengamatan mikroskop menunjukkan bentuk dan kandungan kimia abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berisiko bagi kesehatan.
DREAM.CO.ID - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah daerah ternyata bukan sekadar debu biasa. Meskipun ukurannya sangat halus, abu vulkanik itu disebut berbahaya bagi kesehatan manusia karena bentuk dan kandungannya.
Mengapa debu vulkanik berbahaya? Jawabannya terlihat dalam laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB). Ahli vulkanologi ITB, Mirzam Abdurrachman, meneliti sampel debu vulkanik Gung Anak Krakatau yang diambil pada 6 September 2026.
Sampel itu dilihat menggunakan alat canggih di Lab GEM-ITB-CSU, Teknik Metalurgi, ITB kampus Jaginangor. Dalam video yang diunggah akun Instagram @santosoim itu, debu vulkanik itu diperbesar 1.200 hingga 2.600 kali dari bentuk aslinya. Debu vulkanik itu bentuknya sungguh tidak beraturan.
"Ini terlihat sekali pecahan-pecahan kaca yang runcing kemudian melengkung, khas dari gelas vulkanik," kata Mirzam dalam video tersebut.
Menurut Mirzam, bentuk debu vulkanik yang meruncing dan melengkung itu terjadi karena lelehan magma yang bersuhu panas disemburkan ke udara dan membeku dengan sangat cepat. Dalam proses itu, magma tidak memiliki cukup waktu untuk membentuk kristal mineral yang sempurna alias sub-kristal.
"Jadinya amorf (bentuknya tidak teratur," kata Mirzam.
Bentuk itu sangat berbahaya bila menemepel ke tubuh manusia, khususnya bagian kulit dan mata. Tidak disarankan mengelap dengan tangan jika menempel pada kulit maupun mengucek mata jika terpapar debu vulkanik.
"Pasti akan kegores," tegas Mirzam. Dia menyarankan untuk membersihkan debu vulkanik dengan menggunakan air mengalir. Anjuran serupa juga telah disampaikan oleh Kementerian Kesehatan.
Tidak hanya bentuk abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Mirzam juga mengungkap komposisi material tersebut. Dalam monitor terlihat sampel abu vulkanik tersebut tampak beragam warna.
Dalam video itu, tertulis kandungan debu vulkanik tersebut antara lain Silika (SiO₂), Alumina (Al₂O₃), besi (Fe₂O₃), oksida kalsium (CaO), Natrium oksida (Na₂O), Magnesium oksida (MgO), Fosfor (P), dan Sulfur (S).
"Kalau ini masuk ke saluran pernapasan kita, kemudian air minum, memengaruhi kesehatan kita," kata Mirzam.
Dalam ilmu metalurgi, tambah dia, kandungan SiO₂, CaO, Na₂O, K₂O, P, dan S, juga sangat membahayakan pesawat terbang. "Bisa menyebabkan mesin hancur."
Sementara itu, Dosen Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Joko Nugroho, melalui laman resmi ITB menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat memengaruhi kualitas air, baik secara fisik maupun kimia.
Secara fisik, kata dia, masuknya material berukuran halus ke air dapat meningkatkan kekeruhan. Diperlukan proses pengolahan untuk mengurangi material tersuspensi jika air akan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Perubahan kualitas air dapat dipengaruhi oleh kandungan kimia material vulkanik yang masuk ke dalam sumber air. Unsur kimia abu vulkanik dapat mengubah tingkat keasaman atau pH.
Diperlukan pengolahan lebih lanjut untuk menyesuaikan kualitasnya jika air yang mengalami perubahan keasaman itu akan digunakan untuk keperluan tertentu.