Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global
© 2026 UMKM Indonesia (Pexels.com - Nadirsyah Nadirsyah )
Reporter : Okti Nur
Pengalaman sejumlah UMKM binaan BUMN menunjukkan bahwa mendorong usaha kecil naik kelas membutuhkan lebih dari sekadar bantuan modal.
DREAM.CO.ID - Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), persoalan terbesar sering kali bukan sekadar bagaimana menghasilkan produk. Setelah produk jadi, tantangan berikutnya adalah menemukan pasar, memperbaiki kemasan, membangun merek, hingga memenuhi standar yang dibutuhkan pembeli di luar negeri.
Sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencoba menjawab persoalan itu dengan membangun ekosistem pembinaan. Pendampingan mereka tidak berhenti pada produksi, tetapi hingga pemasaran dan membuka akses pelaku usaha kecil ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.
Upaya itu salah satunya dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Rumah BUMN. Sejak didirikan pada 2017, Rumah BUMN BRI telah hadir di 54 wilayah di Indonesia. Rumah BUMN menjadi tempat berkumpul sekaligus pembinaan bagi pelaku usaha kecil, dengan jumlah binaan yang mencapai ratusan hingga ribuan UMKM di setiap wilayah. Di Kotamobagu, Sulawesi Utara, misalnya, Rumah BUMN membina sekitar 1.000 UMKM.
Model pembinaan semacam ini menunjukkan bahwa akses terhadap pasar menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha kecil. Produk yang baik belum tentu berkembang jika pelaku usahanya tidak memiliki jaringan pemasaran atau kesempatan bertemu calon pembeli.
Membuka Pintu Pasar
PT Pertamina (Persero) juga melakukan pendekatan serupa. Perusahaan ini telah membina sedikitnya 66.000 UMKM di berbagai daerah di Indonesia.
Pembinaan dilakukan melalui berbagai kegiatan, termasuk membawa pelaku usaha binaan ke pameran. Bagi UMKM, pameran bukan hanya ruang untuk memajang produk, melainkan kesempatan bertemu langsung dengan calon pembeli dan mitra bisnis.
Pada Juli 2026, misalnya, Pertamina membawa 12 UMKM binaannya ke Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Pameran tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari industri restoran, kafe, dan perhotelan, termasuk calon mitra dari luar negeri.
Sektor perhotelan menjadi salah satu pasar potensial bagi UMKM karena kebutuhan industrinya cukup beragam. Selain makanan dan minuman, pelaku usaha dapat memasok berbagai produk pendukung, termasuk perlengkapan yang digunakan hotel, resor, dan spa atau amenities.
Dengan mempertemukan UMKM secara langsung dengan pelaku industri, pembinaan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi. Pelaku usaha juga mendapatkan kesempatan memahami kebutuhan pasar dan membangun hubungan bisnis.
Dari Pameran Menuju Ekspor
Hasil serupa terlihat dalam ajang Agrinex 2025 di JIExpo Jakarta pada 6-8 November 2025. Ketika itu, Pertamina membawa tujuh UMKM binaan untuk memperkenalkan produk kepada calon mitra.
Dari ajang tersebut, tiga Memorandum of Understanding/MoU (nota kesepahaman) dengan mitra internasional berhasil ditandatangani. Nilai kerja sama yang tercatat mencapai lebih dari Rp206 miliar.
Angka tersebut menunjukkan peluang pasar usaha skala kecil tidak berarti selalu mini. Ketika pelaku usaha memperoleh pendampingan, akses jaringan, dan kesempatan bertemu pasar, peluang untuk memperbesar bisnis ikut terbuka.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan, program pembinaan UMKM menjadi salah satu upaya perusahaan memperkuat fondasi ekonomi rakyat.
Pertamina juga memiliki agenda khusus untuk mempertemukan UMKM binaannya dengan pasar, yakni Pertamina Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO). Dalam pembukaan kegiatan tersebut, Menteri UMKM mengapresiasi konsistensi Pertamina dalam mendampingi pelaku usaha kecil.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan pembinaan UMKM dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga, akademisi, komunitas, media, hingga pelaku UMKM sendiri.
Menurut dia, kolaborasi tersebut penting agar UMKM dapat berkembang menjadi motor ekonomi kerakyatan.
Bukan Sekadar Bantuan
Pengalaman sejumlah UMKM binaan BUMN menunjukkan bahwa mendorong usaha kecil naik kelas membutuhkan lebih dari sekadar bantuan modal. Produksi, kualitas, kemasan, pemasaran, dan akses terhadap calon pembeli harus berjalan beriringan.
Pameran dan jaringan bisnis menjadi jembatan penting. UMKM tidak hanya didorong untuk mampu membuat produk, tetapi juga diperkenalkan kepada ekosistem yang memungkinkan produk tersebut menemukan pasar.
Bagi pemerintah, penguatan UMKM juga berkaitan dengan agenda memperbesar peran ekonomi rakyat. Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita menempatkan penguatan ekonomi rakyat sebagai salah satu bagian dari upaya membangun perekonomian nasional.
Karena itu, keberhasilan UMKM menembus pasar global bukan semata-mata soal nilai transaksi ekspor. Di baliknya ada upaya membangun kapasitas usaha, membuka akses pasar, dan memperluas kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh.