Garbarata Generasi Baru dari Bukaka Bakal Berseliweran di Bandara Terbaik Dunia
PT Bukaka Teknik Utama Tbk, Teguh Wicaksana Sari Mendapat Kontrak Penggantian 56 Unit Garbarata Dari Pihak Changi Airport Di Singapura (FOTO: Bukaka)
Reporter : Syahid Latif
PT Bukaka Teknik Utama Tbk mendapat proyek penggantian 56 unit Passenger Boarding Bridge (PBB) di bandara terbaik dunia, Changi Airport Singapore
DREAM.CO.ID - Kalangan teknokrat di bidang engineering dan manufaktur industri penerbangan Indonesia patut berbangga. Pengelola bandara terbaik di dunia, Changi Airport Singapore mempercayakan penggantian puluhan unit Passenger Boarding Bridge (PBB), atau jembatan penghubung terminal ke pintu pesawat di apron kepada perusahaan Indonesia.
Adalah PT Bukaka Teknik Utama Tbk bersama konsorsiumnya yang dipercaya mengerjakan penggantian 56 unit PBB, yang biasa disebut garbarata, di Terminal 3 Changi Airport Singapore.
Tak hanya menjadi referensi internasional bagi perusahaan, proyek ini juga membuka kesempatan untuk menunjukan kemampuan engineering dan manufaktur Indonesia di industri penerbangan global.
Kepastian proyek tersebut diperoleh setelah Direktur Operasional PT Bukaka Teknik utama Tbk, teguh Wicaksana Sari menandatangani kontrak dengan pihak Changi Airport di Singapura, Kamis, 24 September 2026.
Penandatanganan kontrak kerjasama ini disaksikan Dubes RI untuk Singapura, Dr. Hotmangaradja Pandjaitan, dan Executive Vice President Enginering and Developent Cluster, Changi Airport Group Pte. Ltd, Koh Ming Sue.
“Changi Airport merupakan benchmark dunia dalam industri penerbangan. Kepercayaan untuk menghadirkan 56 Passenger Boarding Bridges (Garbarata) di Terminal 3 Changi merupakan sebuah pencapaian penting bagi Bukaka dan engineering Indonesia,” ujar Teguh.
Untuk mempersiapkan sistem terbaiknya, Bukaka berencana menghadirkan 56 garbarata yang menggunakan sistem kontril generasi terbaru (new-generation control system) dengan teknologi digital dan otomasi tingkat tinggi untuk mendukung pengoperasian yang lebih cerdas, andal, dan efisien.
Kehadiran karya garbarata buatan Bukaka di Negeri Singa itu bukan kali pertama. Pendiri Bukaka, Jusuf Kalla yang karib disapa JK mengungkapkan perusahaan juga pernah menjalin kerja sama dengan Changi Airport pada dekade 1990-an ketika memasok garbarata untuk bandara tersebut.
“Sekarang kami menyediakan generasi baru Boarding Bridge,” kata JK.
Kolaborasi dengan Mitra Spanyol
Garbarata generasi baru yang akan digunakan Bukakak merupakan hasil kolaborasi dengan mitra dari Spanyol dan Singapura yang hadir untuk mengedepankan teknologi digital dan otomasi.
Saat ini garbarata Bukaka telah digunakan di sekitar 25 negara, antara lain, Hongkong, China, India, Thailand, Singapura, dan Jepang. Kelanjutan kerja sama proyek Changi Airport ini diharapkan semakin membuka peluang bagi produk engineering Indonesia di pasar internasional.
Tak hanya faktor kebaruan yang dijadikan andalan. Bukaka menerapkan prinsip keberlanjutan melalui peningkatan daya tahan produk, perlindungan korosi, serta efisiensi penggunaan energi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dan produk yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan airport kelas dunia,” kata Teguh.
Sejarah Penemuan Garbarata
Saat ini garbarata telah menjadi pemandangan lazim di bandara modern saat penumpang pesawat hendak masuk ke dalam pesawat. Berbentuk seperti belalai gajah, penumpang dapat dengan nyaman melewati apron menuju pesawat dalam cuaca panas, hujan, atau ketika aktivitas kendaraan ground handling sedang padat.
Salah satu penemu Garbarata merujuk laman patents.google.com adalah Frank Der Yuen yang dikenal sebagai penemu jet bridge yang menjadi cikal bakal garbarata modern.
Frank Der Yuen mengajukan paten AS US 3,046,908 pada tahun 1959 untuk perangkat yang memfasilitasi naik-turunnya penumpang dan barang dari pesawat.
Usai penemuan tersebut, garbarata terus berkembang. Pada awal kehadirannya, garbarata generasi awal lebih mengandalkan mekanisme penggerak dan kendali operator. Dengan kemajuan teknologi, garbarata modern mulai menggunakan sistem hidrolik atau elektromekanis untuk mengatur gerakan kabin jembatan. Operator dapat menggerakkan garbarata secara horizontal maupun vertikal, kemudian menyesuaikan ujungnya dengan pintu pesawat.
Pada bagian paling ujung terdapat mekanisme yang disebut cab, ruang penghubung yang dapat diposisikan secara presisi ke pintu pesawat. Bahkan sejumlah garbarata modern telah dilengkapi sensor dan sistem keselamatan untuk membantu mencegah pergerakan ketika posisi belum aman. Beberapa sistem juga mampu menyesuaikan posisi secara lebih presisi berdasarkan tipe pesawat.
Meski terlihat sederhana dari ruang tunggu, garbarata sesungguhnya merupakan pertemuan antara teknologi mekanik, sistem kendali dan kebutuhan keselamatan penerbangan.
Bukaka Awalnya Pembuat Mobil Pemadam Kebakaran
Garbarata awalnya bukan bisnis yang digeluti Bukaka. Mengutip laman perusahaan, Bukaka yang berdiri pada 1978 merupakan usaha perbengkelan kendaraan bermotor dengan produk pertama yang dibangun berupa mobil pemadam kebakaran.
Terjunnya Bukaka ke bisnis garbarata baru dimulai di era 1990-2000. Setelah tercatat sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI), Bukaka memperkenalkan produk baru berupa garabarat, steel bridges, steam power plant, transmisi listrik, dan proyek mogas.
Produk garbarata Bukaka mulai go internasional pada tahun 2019. Kala itu perusahaan menandatangani kontrak penjualan 33 unit boarding bridge (garbarata) dengan M-Solutions Co., Ltd. - Airport of Thailand dengan nilai transaksi US$7,5 juta atau setara Rp105 miliar.
Setahun kemudian, kontrak baru diperoleh Bukaka berupa pengadaan 36 unit garbarata kaca termasuk instalasi dan perawatan dengan Airports Authority of India (AAI) senilai US$5,1 juta.
Terbaru, pada 2025, Bukaka melalui Bukaka Three D Private Limited menjalankan project PBB dengan 100% Made in India manufacturing sebanyak 56 unit untuk bandara milik Airport Authority of India (AAI).