© 2026 Botol Skincare (Pexels.com-SHVETS Production)
DREAM.CO.ID - Pelembap habis. Serum tinggal setetes, sunscreen pun sudah tak keluar ketika dipencet maksimal. Semua habis. Bagi konsumen, mungkin itu tidak jadi soal. Botol kosong dibuang, beli lagi.
Tapi bagi lingkungan, persoalan justru baru dimulai. Kemasan kosmetik tetap ada meski isinya sudah habis. Botol, tube, dan kemasan jenis pompa, yang masuk tempat sampah bisa saja diolah lagi. Namun tak sedikit yang berserak di lingkungan, jadi polutan.
Jumlah sampah kemasan kosmetik tidak sedikit. Lihatlah penelitian mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) 2023. Riset itu memprediksi timbulan sampah dari kemasan kosmetik di Kota Bandung mencapai 16,84 ton per bulan dari sepuluh jenis produk skincare dan makeup yang diteliti.
Data ini memang di Kota Kembang. Belum ada angka nasional. Namun dari data itu bisa dibayangkan seberapa banyak sampah kemasan yang ditinggalkan dari produk kecantikan. Studi Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) pada 2023 menyebut setiap orang menghasilkan limbah kosmetik 1 kemasan per bulan. Satu orang juga menghasilkan limbah kemasan skincare 0,3 kemasan per bulan.
Penelitian itu juga mengungkap bahan kemasan sebagian besar adalah botol dan palet yang terbuat dari plastik, terutama Polyethylene Terephthalate (PET). Sementara, riset ITB pada 2024 menyebut wadah plastik mencapai 61 persen dari total kemasan yang digunakan industri kosmetik.

Jika tidak dipilah dan diantar ke pengolahan, botol dan wadah itu berakhir bersama sampah rumah tangga lainnya. Kita tak cukup meminta konsumen membuangnya pada tempat yang benar. Kemasan perlu dijemput.
Dari Mesin hingga Kotak Pengembalian
Itulah yang dilakukan sejumlah produsen dan peritel. Mereka jemput bola, lewat banyak cara. Ada mesin reverse vending khusus kosmetik hingga drop box di gerai ritel. Pada sejumlah sudut kini mulai menjadi tempat nongkrong mesin yang menerima kembali kemasan kosmetik. Jarak konsumen dengan fasilitas pengolahan makin pendek.
Sejak 2022, ERHA membuka membuka titik pengembalian kemasan kosong di jaringan kliniknya. Aksi ini dilakukan lewat program Start to Change. Dua tahun kemudian, pada 2024, mereka meluncurkan Cosmetic Reverse Vending Machine (CRVM). Ini kerjasama dengan Plasticpay.
Bukan cuma kemasan ERHA, mesin tersebut dapat menerima kemasan kosmetik berbagai merek. Teknologi kecerdasan buatan yang ditanam pada mesin itu dapat mengenali bentuk kemasan yang dikembalikan. Kemasan yang dimasukkan diubah dikonversi menjadi poin yang bisa dipakai belanja produk ERHA.

Dalam peluncuran mesin itu pula ERHA mengklaim program Start to Change berhasil mengumpulkan 623.521 kemasan kosmetik bekas, mengelola 16 ton kemasan kosmetik bekas ERHA, dan melibatkan 37.735 pelanggan. Pada Agustus 2024, klinik kecantikan dan estetika ini menyebut pengolahan kemasan kosongnya mencapai sekitar 750 kilogram per bulan di seluruh Indonesia.
Inovasi serupa dilakukan Paragon. Pada 2026, mereka menghadirkan Paragon Empties Station. Fasilitas ini berbentuk smart drop box di Halte Transjakarta CSW. Alat ini juga menerima kemasan produk kecantikan dan perawatan diri dari berbagai merek.
Jaringan ritel tak ketinggalan. Pada September 2026, Kao Indonesia dan Watsons Indonesia menjalankan program Bring Back Goodness melalui Do Good Box di lima gerai Watsons. Konsumen yang mengembalikan kemasan Kao mendapat insentif. Kemasan harus sudah kosong, bersih, dan kering.
Caranya memang beragam. Ada mesin reverse vending, drop box, dan titik pengembalian di toko. Namun ikhtiar ini punya satu tujuan, mengurangi limbah plastik dari penggunaan kosmetik.
Urusan belum kelar setelah isinya kosong. Kemasan bekas itu harus menemukan jalan pulang. Jika kemasan-kemasan itu benar-benar menjalani proses daur ulang, maka beragam program pengembalian tersebut telah menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
Advertisement
Hari Ozon Sedunia, Ketahui Fakta Penting Lapisan Pelindung Bumi

Sosok Low Tuck Kwong, Dulu Perantau Kini Raja Batu Bara Indonesia

Tenteng Tumbler Hits, Bisa Bantu Kurangi Sampah Plastik

Mirwan Suwarso, Orang Madiun Dibalik Melejitnya Klub Sepak Bola Eropa Como-1907

AI Kini Jadi Penasihat Kecantikan Baru, Ungkap Studi Maverick Indonesia
