Apa Sebenarnya Wangi Musk? Mengapa Aroma Ini Tengah Digemari?
© Pexels.com/samoiiz
Reporter : Abidah
Musk secara historis berasal dari kelenjar perut rusa kesturi jantan (musk deer) yang hidup di kawasan pegunungan Asia.
DREAM.CO.ID - Buka aplikasi belanja online dan cari "parfum musk", hasilnya akan membanjiri layar. Aroma ini jadi salah satu kata kunci paling dicari dalam dunia wewangian belakangan ini, muncul di parfum lokal maupun brand internasional, untuk pria maupun wanita. Tapi tahukah, di balik aroma yang terasa "bersih dan elegan" ini, tersimpan sejarah panjang yang jauh lebih liar dari yang dibayangkan.
Berawal dari Kelenjar Perut Seekor Rusa
Musk secara historis berasal dari kelenjar perut rusa kesturi jantan (musk deer) yang hidup di kawasan pegunungan Asia, mencakup wilayah India, Tibet, Pakistan, Siberia, dan Mongolia. Saat musim kawin tiba, kelenjar ini menghasilkan cairan beraroma khas: animalic, kayu, dan sangat memikat.
Penggunaannya sebagai bahan wewangian sudah berlangsung sejak zaman kuno. Referensi pertama pemanfaatan material ini sebagai bahan baku wewangian tercatat di kawasan Arab dan Byzantium sejak abad keenam masehi. Filsuf Arab Al-Kindi bahkan menulis ratusan risalah soal berbagai subjek, termasuk parfum, dan dalam tulisannya ia menyebut musk sebagai bahan yang begitu banyak dipakai dalam parfum sehingga menjadikan kelenjar rusa ini barang mewah paling berharga yang diimpor dari Timur. Menariknya, bahan langka ini pada zamannya bahkan pernah dicampurkan ke bahan bangunan masjid, agar saat terpapar sinar matahari, aroma khasnya menguar dari dinding.
Kenapa Musk Alami Kini Nyaris Punah dari Industri Parfum
Popularitas musk yang begitu tinggi selama berabad-abad justru membawa konsekuensi buruk bagi populasi rusa kesturi. Karena aromanya kuat, hangat, dan mampu bertahan sangat lama di kulit, bahan ini terus diburu hingga populasi rusa kesturi terancam punah akibat eksploitasi berlebihan. Penggunaan musk dari rusa jantan akhirnya resmi dilarang pada 1979, saat rusa kesturi dinyatakan sebagai satwa terancam punah dan masuk daftar perlindungan internasional oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species).
Setelah pelarangan itu, industri parfum harus mencari alternatif, dan menemukan dua jalan berbeda.
Jalan pertama datang dari tumbuhan. Sejumlah tanaman ternyata menghasilkan aroma yang mirip dengan musk hewani, di antaranya Garden Angelica (Angelica archangelica), Musk Flower (Mimulus moschatus), dan biji Abelmosk atau Ambrette (Abelmoschus moschatus), yang kini jadi bahan baku utama parfum musk populer. Selain tumbuhan, molekul civetone yang ditemukan dalam pasta kuning yang dikeluarkan musang luwak dari kelenjar perineumnya juga bisa jadi alternatif, meski penggunaannya jauh lebih terbatas.
Jalan kedua, dan yang kini paling dominan, adalah musk sintetis buatan laboratorium. Ilmuwan bernama Albert Baur pertama kali berhasil mensintesis molekul beraroma musk pada 1880-an. Hasil sintetis ini mulai dipakai luas dalam parfum hingga 1950-an, ketika orang mulai menyadari molekul itu ternyata sulit terdegradasi di alam. Sejak itu, para ilmuwan parfum terus menyempurnakan formulanya, meski hingga kini belum ada yang benar-benar berhasil menciptakan salinan sempurna dari molekul musk alami.
Kenapa Musk Sintetis Justru Jadi Pilihan Utama Sekarang
Meski musk alami dikenal lebih kompleks dan mendalam, musk sintetis punya sejumlah keunggulan yang membuatnya lebih dipilih industri modern: lebih stabil, lebih bersih, dan bisa diatur karakternya sesuai kebutuhan tiap formula parfum. Kalau musk natural cenderung beraroma earthy dan sedikit animalic, versi sintetis terasa lebih clean, lembut, dan cocok dipakai di berbagai situasi.
Inovasi ini juga melahirkan variasi baru yang tidak ada pada versi alaminya, seperti white musk yang terasa lebih bersih dan ringan, hingga black musk yang aromanya lebih berat dan terkesan dewasa. Bagi kebanyakan orang, perbedaan antara musk alami dan sintetis sebenarnya tidak terlalu terasa saat dipakai sehari-hari, sehingga alasan etika dan ketersediaan bahan menjadikan musk sintetis pilihan utama hampir semua parfum modern saat ini.
Kenapa Musk Begitu Digemari Sekarang
Secara teknis, musk termasuk kategori fixative, yakni komponen yang membantu menjaga kestabilan aroma sekaligus memperpanjang durasi wangi parfum di kulit. Inilah salah satu alasan utama musk jadi bahan hampir wajib di banyak formula parfum modern, sebab keberadaannya membuat notes lain bertahan lebih lama dan tidak cepat menguap begitu saja.
Dari segi karakter aroma, musk memberi kesan clean seperti baru selesai mandi memakai sabun lembut, sedikit powdery menyerupai bedak halus, dan skin-like alias menyatu alami dengan aroma kulit, hangat sekaligus sensual tapi tetap terasa elegan. Karakter serba guna inilah yang membuat musk cocok dipakai pria maupun wanita, di parfum niche mahal maupun parfum lokal harga terjangkau, menjadikannya salah satu bahan paling fleksibel dalam dunia wewangian.