Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Minum Cuka Apel Setiap Hari?
© Pexels.com/Anna Pyshniuk
Reporter : Abidah
DREAM.CO.ID - Segelas kecil campuran cuka apel dan air kini menjadi bagian dari rutinitas kesehatan sebagian orang. Apple cider vinegar (ACV) bahkan kerap diminum dalam bentuk shot, biasanya dengan mencampurkan satu hingga dua sendok makan cuka apel dengan air atau jus buah untuk mengurangi rasa asamnya. Kebiasaan ini dipercaya dapat membantu mengontrol gula darah, kolesterol hingga kesehatan pencernaan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh jika cuka apel dikonsumsi setiap hari?
Dilansir dari Health, penelitian menunjukkan sejumlah potensi manfaat cuka apel, meski buktinya masih terbatas dan hasil penelitian belum selalu konsisten. Cuka apel juga memiliki tingkat keasaman tinggi sehingga cara mengonsumsinya perlu diperhatikan.
Salah satu kemungkinan manfaatnya berkaitan dengan gula darah. Konsumsi cuka apel secara rutin berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah puasa, terutama pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas. Sejumlah penelitian juga menemukan kemungkinan penurunan HbA1C, yaitu salah satu indikator pengendalian gula darah dalam jangka panjang.
Asam asetat yang terdapat dalam cuka apel dapat memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan gula. Mekanisme tersebut diduga membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih lambat. Kondisi ini juga berpotensi membantu mengurangi keinginan mengonsumsi makanan manis yang muncul ketika kadar gula darah naik dan turun dengan cepat.
Berpotensi Memengaruhi Kolesterol
Konsumsi cuka apel juga dikaitkan dengan perubahan profil lemak darah. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan penurunan kadar kolesterol total dan trigliserida. Efek tersebut terlihat lebih jelas dalam penelitian tertentu pada orang dengan diabetes tipe 2.
Namun, manfaat tersebut tidak berarti cuka apel dapat menggantikan pola makan sehat atau pengobatan untuk mengatasi kolesterol tinggi. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar efeknya.
Cuka apel juga mengandung sejumlah senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan, seperti flavonoid, asam galat, asam ferulat, asam kafeat, dan katekin. Proses fermentasi yang menghasilkan asam asetat turut memengaruhi aktivitas antioksidan tersebut.
Bagaimana dengan Kesehatan Usus?
Cuka apel yang mentah dan tidak melalui penyaringan (raw, unfiltered) dapat mengandung apa yang disebut “mother”, yaitu kumpulan senyawa dan bakteri yang terbentuk selama proses fermentasi. Meski demikian, Health menekankan bahwa cuka apel bukan sumber probiotik yang signifikan jika dibandingkan dengan makanan fermentasi seperti yoghurt. Jadi, mengonsumsi cuka apel tidak dapat dianggap sebagai cara utama untuk memenuhi kebutuhan probiotik.
Manfaat potensial tersebut perlu diimbangi dengan risiko. Karena sifatnya sangat asam, konsumsi cuka apel secara berlebihan dapat menyebabkan masalah pada pencernaan dan berkontribusi terhadap pengikisan enamel gigi.
Orang dengan GERD juga perlu berhati-hati. Cuka apel dapat memperlambat pengosongan lambung dan berpotensi memperburuk keluhan seperti kembung dan sendawa. Cuka apel juga perlu diperhatikan oleh orang yang menggunakan insulin atau memiliki kondisi tertentu seperti gastroparesis karena dapat memengaruhi kadar gula darah.
Karena itu, disarankan agar cuka apel tidak diminum langsung dalam kondisi pekat. Salah satu cara yang digunakan adalah mencampurkan 1–2 sendok makan cuka apel dengan air atau jus. Jumlah konsumsinya juga sebaiknya tidak berlebihan.
Pada akhirnya, cuka apel memang memiliki sejumlah potensi manfaat terhadap gula darah, kolesterol dan aspek kesehatan lainnya. Namun, bukti ilmiahnya masih berkembang. Cuka apel juga bukan minuman ajaib yang otomatis membuat tubuh lebih sehat. Jika ingin menjadikannya bagian dari rutinitas harian, cara konsumsi yang tepat dan kondisi kesehatan masing-masing tetap perlu diperhatikan.