Beda dengan Minuman Lain yang Sebabkan Depresi dan Kecemasan, Kopi Justru Menunjukkan Hasil Positif
© Pexels.com/Cesar O'Neill
Reporter : Abidah
Para peneliti menduga kandungan senyawa bioaktif dalam kopi, termasuk komponen yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi, mungkin ikut menjelaskan temuan tersebut.
DREAM.CO.ID - Secangkir kopi pada pagi hari, minuman bersoda saat makan siang, atau segelas minuman manis ketika bersantai menjadi bagian dari kebiasaan banyak orang. Minuman tersebut sering kali dipilih untuk menyegarkan tubuh atau sekadar menemani aktivitas sehari-hari. Namun, sebuah analisis terhadap lebih dari dua juta orang menemukan bahwa jenis minuman yang dikonsumsi mungkin memiliki hubungan yang berbeda dengan kondisi kesehatan mental.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Depression and Anxiety tersebut menganalisis hubungan konsumsi berbagai minuman nonalkohol dengan depresi, kecemasan, dan stres. Para peneliti menggabungkan data dari 59 penelitian yang melibatkan 2.050.716 peserta dari 22 negara.
Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman nonalkohol secara keseluruhan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami depresi dan kecemasan. Namun, hubungan tersebut tidak sama untuk setiap jenis minuman. Beberapa minuman yang mengandung banyak gula atau karbonasi menunjukkan kaitan yang lebih kuat, sedangkan kopi justru memperlihatkan pola yang berbeda.
Minuman Manis dan Bersoda Dikaitkan dengan Depresi
Dalam analisis berdasarkan jenis minuman, konsumsi minuman berpemanis, bubble tea, minuman berkarbonasi, soft drink, minuman dengan pemanis buatan, dan minuman energi berkaitan dengan kemungkinan depresi yang lebih tinggi.
Peneliti juga menemukan hubungan antara konsumsi minuman nonalkohol dengan kecemasan. Hubungan tersebut terutama terlihat pada konsumsi bubble tea dan minuman berkarbonasi. Dalam sejumlah penelitian, hubungan dengan kecemasan juga tampak lebih kuat pada kelompok anak-anak dan remaja.
Temuan tersebut tidak berarti minuman-minuman tersebut secara langsung menyebabkan depresi atau kecemasan. Sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat observasional, sehingga peneliti hanya dapat melihat adanya hubungan, bukan memastikan hubungan sebab-akibat.
Kopi Menunjukkan Pola yang Berbeda
Menariknya, kopi justru memperlihatkan hubungan yang berlawanan dengan depresi. Konsumsi kopi yang lebih tinggi dalam analisis dikaitkan dengan kemungkinan depresi yang lebih rendah. Namun, konsumsi kopi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kecemasan.
Para peneliti menduga kandungan senyawa bioaktif dalam kopi, termasuk komponen yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi, mungkin ikut menjelaskan temuan tersebut. Meski demikian, mekanisme tersebut belum dibuktikan secara langsung dalam penelitian ini sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan kopi sebagai pencegah depresi.
Mengapa Minuman Tinggi Gula Bisa Berkaitan dengan Kesehatan Mental?
Peneliti menawarkan sejumlah kemungkinan mekanisme biologis. Konsumsi minuman tinggi gula dapat menyebabkan perubahan kadar gula darah dan dalam jangka panjang berkaitan dengan resistensi insulin. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi proses neuroplastisitas melalui perubahan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dan jalur peradangan.
Pola makan tinggi gula juga diduga dapat memengaruhi sistem hipotalamus-pituitari-adrenal atau HPA yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres. Namun, mekanisme tersebut masih berupa hipotesis yang perlu diuji lebih lanjut.
Kelompok remaja menjadi salah satu perhatian khusus karena hubungan antara konsumsi minuman nonalkohol dan masalah kesehatan mental tampak lebih kuat pada kelompok ini. Pada masa remaja, otak masih mengalami perkembangan, termasuk bagian korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian perilaku dan berbagai fungsi kognitif.
Hasil Penelitian Masih Perlu Dibaca dengan Hati-hati
Para peneliti menekankan bahwa hasil meta-analisis ini belum cukup untuk menghasilkan rekomendasi diet khusus terkait konsumsi minuman dan kesehatan mental. Penelitian yang dianalisis memiliki metode, karakteristik peserta, serta definisi depresi dan kecemasan yang beragam.
Selain itu, banyak penelitian menggunakan data konsumsi minuman yang dilaporkan sendiri oleh peserta. Faktor lain seperti kondisi sosial ekonomi, pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kualitas tidur juga dapat memengaruhi kesehatan mental.
Karena itu, temuan ini lebih tepat dipahami sebagai petunjuk mengenai kemungkinan hubungan antara pilihan minuman dan kesehatan mental. Penelitian jangka panjang serta uji intervensi masih diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan pola konsumsi minuman benar-benar dapat memengaruhi risiko depresi atau kecemasan.
Bagi masyarakat, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pilihan minuman merupakan bagian dari pola hidup secara keseluruhan. Mengurangi konsumsi minuman tinggi gula dan tetap memperhatikan keseimbangan pola makan merupakan langkah yang lebih masuk akal daripada mengandalkan satu jenis minuman sebagai solusi kesehatan mental.