Mengapa Hari Ini Sangat Produktif, tetapi Besok Sulit Fokus? Ini Penjelasan Ilmuwan
© Pexels.com/DS Stories
Reporter : Abidah
Produktivitas ternyata dipengaruhi perubahan ketajaman mental setiap hari. Studi University of Toronto menemukan selisih produktivitas bisa mencapai 40 menit.
DREAM.CO.ID - Pernah merasa pekerjaan yang biasanya mudah tiba-tiba terasa sangat berat? Pada hari tertentu, seseorang bisa menyelesaikan banyak tugas hanya dalam beberapa jam. Namun, keesokan harinya, pekerjaan yang sama terasa membutuhkan tenaga dan konsentrasi jauh lebih besar.
Perubahan tersebut ternyata bukan sekadar soal kemauan atau kedisiplinan. Penelitian dari University of Toronto Scarborough menunjukkan bahwa ketajaman mental yang berubah dari hari ke hari dapat memengaruhi seberapa banyak seseorang mampu menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam kondisi mental yang lebih tajam dari biasanya, seseorang bukan hanya cenderung menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga menetapkan target yang lebih tinggi. Dampaknya cukup besar. Peneliti memperkirakan perbedaan ketajaman mental dapat membuat produktivitas seseorang bergeser sekitar 30 hingga 40 menit dalam satu hari.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut mengikuti para peserta selama 12 minggu untuk mengetahui mengapa kemampuan seseorang dalam menjalankan rencana dapat berubah dari satu hari ke hari berikutnya.
Ketajaman Mental Menentukan Produktivitas Harian
Para peneliti mendefinisikan ketajaman mental sebagai kemampuan untuk berpikir secara jernih, fokus, dan efisien pada waktu tertentu.
Ketika kondisi tersebut berada pada tingkat tinggi, seseorang biasanya lebih mudah berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas. Sebaliknya, ketika ketajaman mental menurun, aktivitas sederhana sekalipun dapat terasa lebih sulit.
Menariknya, penelitian ini tidak sekadar membandingkan orang yang memang memiliki kemampuan kognitif berbeda. Para peneliti justru mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu.
Peserta penelitian yang merupakan mahasiswa menjalani tes singkat setiap hari untuk mengukur kecepatan dan ketepatan berpikir. Mereka juga melaporkan target yang ingin dicapai, produktivitas, suasana hati, waktu tidur, serta beban pekerjaan.
Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat bagaimana perubahan kondisi mental seseorang berhubungan langsung dengan keberhasilannya menjalankan aktivitas sehari-hari.
Hari dengan Otak Lebih Tajam Membuat Target Ikut Naik
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup konsisten. Ketika mahasiswa berada dalam kondisi mental yang lebih tajam dibandingkan kondisi normal mereka, mereka cenderung menyelesaikan lebih banyak target.
Efek tersebut terlihat terutama ketika mereka mengerjakan tugas akademik. Mereka bukan hanya lebih mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga cenderung menetapkan sasaran yang lebih tinggi.
Sebaliknya, ketika ketajaman mental berada di bawah tingkat biasanya, kemampuan menyelesaikan tugas ikut menurun. Bahkan pekerjaan rutin dapat terasa lebih sulit.
Temuan ini juga tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kepribadian. Sifat seperti ketekunan atau kemampuan mengendalikan diri memang berhubungan dengan performa secara keseluruhan, tetapi tidak membuat seseorang terbebas dari hari-hari ketika produktivitasnya menurun.
Dengan kata lain, orang yang sangat disiplin sekalipun tetap dapat mengalami hari ketika otaknya tidak bekerja seoptimal biasanya.
Selisih Produktivitas Bisa Mencapai 80 Menit
Salah satu temuan yang menarik adalah besarnya dampak perubahan ketajaman mental tersebut.
Berdasarkan analisis terhadap performa kognitif selama jam kerja, peneliti memperkirakan seseorang dapat mengalami perubahan produktivitas sekitar 30 hingga 40 menit ketika kondisi mentalnya berada di atas atau di bawah tingkat biasanya.
Jika dibandingkan antara hari terbaik dan hari terburuk, selisihnya bahkan dapat mencapai sekitar 80 menit waktu produktif.
Temuan ini memberikan perspektif berbeda terhadap produktivitas. Ketika seseorang merasa tidak mampu bekerja seefektif biasanya, masalahnya belum tentu terletak pada kurangnya motivasi atau disiplin. Kondisi otak pada hari tersebut juga dapat memainkan peran penting.
Kurang Tidur dan Beban Kerja Bisa Memengaruhi Otak
Lantas, mengapa ketajaman mental seseorang bisa berubah setiap hari?
Penelitian menunjukkan bahwa tidur menjadi salah satu faktor penting. Peserta cenderung memiliki performa mental yang lebih baik setelah mendapatkan waktu tidur lebih banyak dibandingkan biasanya.
Waktu dalam sehari juga berpengaruh. Kemampuan kognitif cenderung lebih baik pada awal hari dan secara bertahap menurun seiring berjalannya waktu.
Motivasi dan kemampuan mempertahankan fokus juga berkaitan dengan ketajaman mental yang lebih tinggi. Sebaliknya, suasana hati depresif berhubungan dengan performa mental yang lebih rendah.
Beban kerja memberikan hasil yang lebih kompleks. Bekerja lebih lama dalam satu hari justru dapat berkaitan dengan ketajaman mental yang lebih tinggi karena seseorang mampu meningkatkan usaha ketika menghadapi tuntutan tertentu.
Namun, kondisi tersebut tidak berlaku jika berlangsung terus-menerus.
Terlalu Lama Bekerja Justru Bisa Menurunkan Produktivitas
Peneliti menemukan bahwa bekerja keras selama satu atau dua hari mungkin masih dapat ditoleransi oleh tubuh dan otak. Masalah muncul ketika seseorang terus bekerja dalam waktu panjang tanpa memberikan kesempatan untuk beristirahat.
Periode kerja berlebihan dalam jangka panjang berkaitan dengan penurunan ketajaman mental. Pada akhirnya, kondisi tersebut justru dapat membuat seseorang semakin sulit mempertahankan produktivitas.
Fenomena ini sejalan dengan konsep burnout, ketika tekanan dan tuntutan yang berlangsung terus-menerus menguras sumber daya fisik dan mental seseorang.
Karena itu, memaksakan produktivitas setiap hari dengan durasi kerja yang semakin panjang bukan selalu strategi yang efektif. Dalam jangka panjang, kurang istirahat dapat membuat kemampuan berpikir dan menyelesaikan pekerjaan ikut menurun.
Tiga Cara Menjaga Ketajaman Mental
Meskipun penelitian ini melibatkan mahasiswa, temuan tersebut memberikan sejumlah pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, cukup tidur. Tidur bukan sekadar waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas, tetapi bagian penting dari pemulihan fungsi kognitif.
Kedua, hindari bekerja berlebihan dalam jangka panjang. Bekerja keras sesekali mungkin diperlukan untuk memenuhi tenggat waktu, tetapi menjadikannya pola terus-menerus dapat berdampak buruk pada ketajaman mental.
Ketiga, perhatikan kondisi suasana hati dan kesehatan mental. Kondisi emosional dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus dan menjalankan rencana.
Pada akhirnya, produktivitas manusia memang tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada hari ketika pikiran terasa jernih dan pekerjaan mengalir dengan mudah, tetapi ada pula hari ketika tugas sederhana terasa lebih berat.
Memahami perubahan tersebut dapat membantu seseorang mengatur ekspektasi terhadap dirinya sendiri. Tidak semua hari harus menjadi hari paling produktif. Terkadang, memberikan waktu bagi otak untuk beristirahat justru menjadi bagian dari cara mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.