3,3 Juta Lansia Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Ini yang Terjadi Saat Masuk ke Tubuh
Sebanyak 3,3 Juta Lansia Terdampak Oleh Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau. Foto Ilustrasi (Pixabay/NadsonKbral)
Reporter : Okti Nur
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel halusnya dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, dan mereka yang punya penyakit paru dan jantung.
DREAM.CO.ID - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang meletus menyebar ke berbagai penjuru. Jakarta menjadi salah satu kota terdampak. Debu vulkanik menyelimuti langit Ibu Kota, sebagian turun dan mengendap ke jalanan hingga rumah-rumah warga. Sekolah-sekolah pun dilakukan dengan sistem jarak jauh.
Abu vulkanik sering terlihat seperti debu biasa. Warnanya bisa abu-abu, hitam, atau kecokelatan. Abu vulkanik bisa menempel di kaca mobil, jalan, atap rumah, maupun dedaunan. Sekilas, abu vulkanik susah dibedakan dengan debu biasa. Namun secara ilmiah, abu vulkanik bukanlah debu biasa.
Abu vulkanik mengandung partikel sangat kecil yang terdiri dari pecahan kaca vulkanik, mineral, dan batuan. Partikel-partikel itu terbentuk ketika material vulkanik terpecah dalam erupsi. Bentuk debu vulkanik dapat bersudut-sudut dan tajam dalam skala mikroskopis.
Partikel abu vulkanik yang cukup besar segera jatuh dan mengendap ke tanah. Namun debu yang berukuran sangat kecil dapat bertahan lama melayang di udara hingga masuk ke saluran pernapasan. Kondisi inilah yang bisa menimbulkan persoalan kesehatan.
"Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, di Jakarta, Senin 7 September 2026.
Bukan hanya menyemburkan abu vulkanik, erupsi gunung api juga mengandung gas. Salah satu gas yang harus diwaspadai adalah sulfur dioksida (SO2). Gas ini bersifat iritan, dapat mengganggu mata dan sistem pernapasan.
Bagaimana Abu Masuk ke Tubuh?
Debu vulkanik dan gas hasil letusan gunung api berbahaya bila masuk tubuh manusia. Jalur paling sederhana adalah melalui hidung dan mulut. Keduanya masuk bersama udara yang dihirup.
Mungkin partikel yang berukuran besar bisa tertahan di lubang hidung maupun mengendap di saluran napas bagian atas. Namun jika ukurannya lebih kecil dapat masuk hingga saluran pernapasan yang lebih dalam. Semakin kecil partikelnya, semakin jauh dapat masuk ke sistem pernapasan.
Abu vulkanik yang sudah mengendap di tanah juga dapat menimbulkan masalah. Abu vulkanik yang menempel di jalan, tanah, atap rumah, dan dedaunan, bisa kembali beterbangan ke udara saat tertiup angin maupun disapu dalam kondisi kering.
Apa yang Terjadi pada Tubuh?
Abu vulkanik bisa menimbulkan masalah kesehatan. Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan surat edaran agar masyarakat waspada dan melakukan perlindungan diri agar mengurangi paparan abu vulkanik.
Gangguan saluran pernapasan, berupa iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, produksi dahak, mengi, rasa berat di dada, dan sesak napas, menjadi gejala yang kerap muncul. Abu vulkanik juga dapat memperburuk asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkitis kronik, penyakit paru lainnya, serta penyakit jantung.
Dampak lain adalah gangguan mata, berupa mata merah, perih, berair, gatal, sensasi benda asing, dan abrasi kornea akibat gesekan partikel abu. Abu vulkanik juga bisa menimbulkan iritasi pada kulit, menimbulkan rasa gatal, dan memperburuk kondisi kulit yang sebelumnya memiliki masalah.
Debu vulkanik juga bisa mengontaminasi air, terutama sumber air terbuka dan penampungan air. Bahan makanan yang tidak terlindungi juga berpotensi terkontaminasi debu vulkanik.
Sedangkan, debu vulkanik yang beterbangan memangkas jarak pandang dan membuat jalanan menjadi lebih licin. Kondisi ini menimbulkan risiko kecelakaan lalulintas.
Kelompok Paling Rentan
Ada beberapa kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Anak-anak yang sering bermain di ruangan terbuka harus mendapat perhatian lebih dari paparan abu vulkanik karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.
Kelompok rentan akibat buruknya udara yang terpapar abu vulkanik berikutnya adalah lansia. Kemenkes menyebut sekitar 3,3 juta lansia terdampak oleh abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kemudian, orang-orang yang memiliki riwayat asma, penyakit paru, atau penyakit jantung. Paparan partikel dapat memperburuk kondisi mereka.
Kelompok rentan ini memang tidak otomatis mengalami gangguan kesehatan jika terpapar abu vulkanik. Risiko tergantung pada kondisi kesehatan dan konsentrasi partikel. Sehingga sangat penting untuk mengurangi paparan.
Bagaimana Mencegah Dampak Abu Vulkanik?
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap di dalam ruangan selama terjadi paparan abu vulkanik. Pintu, jendela, dan celah di rumah harus ditutup agar abu vulkanik tidak masuk. Abu yang sudah masuk sebaiknya dibersihkan setelah dibasahi agar tidak beterbangan. Filter pendingin udara juga perlu dijaga kebersihannya.
Selain itu, penampungan air, sumur, serta makanan dan minuman perlu ditutup, bahan makanan dicuci dengan air bersih mengalir. Yang tidak kalah penting, menyediakan obat rutin bagi anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat memperkuat perlindungan diri saat beraktivitas di ruangan terbuka. Masyarakat dianjurkan menggunakan masker berstandar seperti N95, KN95, KF94, FFP2, atau yang setara. Jika belum tersedia, masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara.
Masker perlu menutup hidung, mulut, dan dagu serta diganti apabila basah, kotor, rusak, atau mulai menyulitkan pernapasan. Masker juga tidak dianjurkan untuk dikenakan pada bayi.
Mata dan kulit juga harus terlindung. Kacamata pelindung tertutup atau goggles dapat digunakan saat berada di luar ruangan. Masyarakat juga diimbau tidak mengucek mata apabila terkena abu, lebih baik dibilas dengan air bersih yang mengalir atau cairan pembilas steril. Penggunaan lensa kontak sebaiknya dihindari selama terjadi hujan abu.
Sementara itu, kulit dapat dilindungi dengan mengenakan pakaian berlengan panjang, celana panjang, dan alas kaki tertutup. Setelah kembali dari luar ruangan, bagian tubuh yang terpapar sebaiknya segera dibasuh dan pakaian diganti.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat menghindari penggunaan kendaraan roda dua atau kendaraan terbuka selama terjadi paparan abu vulkanik. Jika terpaksa harus berkendara, maka dianjurkan mengurangi kecepatan, menyalakan lampu, dan menjaga jarak aman untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat jarak pandang yang terganggu.