6 Tanda Kognitif yang Bisa Muncul Saat Tubuh Kurang Istirahat
© Pexels.com/Cottonbro Studio
Reporter : Abidah
Perubahan kemampuan kognitif atau kemampuan otak bekerja sering menjadi tanda awal kurang tidur.
DREAM.CO.ID - Anda mungkin membaca ulang email yang sama beberapa kali, lupa memindahkan pakaian dari mesin cuci ke pengering, atau tiba-tiba kesulitan menentukan menu makan malam. Kesalahan kecil seperti itu sering dianggap sebagai kelupaan biasa. Namun, jika terjadi berulang, kurang tidur bisa menjadi salah satu penyebabnya.
Perubahan kemampuan kognitif justru sering menjadi tanda awal kurang tidur. Dilansir dari Health, kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, perubahan suasana hati hingga kesulitan menemukan kata-kata dapat muncul ketika seseorang tidak memperoleh tidur yang cukup dan berkualitas.
1. Sulit Berkonsentrasi
Salah satu tanda paling umum adalah kesulitan mempertahankan perhatian. Orang yang biasanya senang membaca, misalnya, bisa mendapati dirinya harus mengulang satu halaman berkali-kali karena informasi yang dibaca tidak benar-benar masuk.
Ruchir P. Patel, dokter spesialis tidur, menjelaskan bahwa lobus frontal berperan penting dalam memori kerja dan membutuhkan tidur agar dapat berfungsi dengan baik. Ketika seseorang kurang tidur, aktivitas bagian otak tersebut dapat menurun sehingga otak lebih sulit memasukkan informasi yang diterima ke dalam memori jangka pendek.
2. Suasana Hati Memburuk
Kurang tidur juga dapat mengganggu kemampuan otak mengatur emosi. Setelah beberapa malam tidur tidak cukup, seseorang dapat menjadi lebih mudah tersinggung, cemas, sedih, atau terlalu reaktif terhadap masalah kecil.
Rupali Drewek, spesialis kedokteran tidur, mengatakan otak menjadi kurang mampu mengelola stres dan memproses emosi secara efektif. Dampaknya dapat semakin terasa ketika kekurangan tidur berlangsung terus-menerus.
3. Lebih Sering Melakukan Kesalahan Sederhana
Penurunan perhatian merupakan salah satu dampak kurang tidur yang dapat muncul dengan cepat. Bentuknya bisa sederhana seperti salah mengetik email, tetapi dalam situasi tertentu konsekuensinya jauh lebih serius.
Kesalahan beberapa detik saja dapat membuat seseorang melewatkan pintu keluar jalan tol atau melakukan kekeliruan ketika bekerja. Risikonya semakin besar pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti mengemudi atau mengoperasikan mesin.
4. Lebih Mudah Lupa
Kunci yang sering salah ditaruh atau jadwal pertemuan yang terlupakan juga dapat berkaitan dengan kurang tidur. Tidur berperan penting dalam proses konsolidasi memori, yaitu proses mengatur dan menyimpan informasi agar dapat diingat kembali.
Ketika waktu tidur terbatas, otak lebih sulit mempertahankan dan mengambil kembali informasi yang telah diterima.
5. Sulit Mengambil Keputusan Sederhana
Kurang tidur tidak hanya membuat keputusan besar terasa berat. Memilih restoran untuk makan malam pun dapat terasa seperti pekerjaan yang melelahkan.
Menurut Eric Anderson, dokter spesialis saraf, lobus frontal yang berperan dalam perencanaan dan penilaian tidak bekerja seefektif biasanya ketika seseorang kurang tidur. Akibatnya, keputusan sederhana pun membutuhkan usaha mental lebih besar.
6. Sulit Menemukan Kata atau Mengikuti Percakapan
Seseorang yang kurang tidur mungkin tiba-tiba lupa nama orang, kesulitan menemukan kata yang tepat, atau kehilangan fokus ketika sedang berbicara dengan orang lain. Gejala semacam ini bahkan dapat membuat seseorang khawatir mengalami gangguan saraf.
Namun, Anderson mengatakan ia menemukan pasien yang mengira mengalami penyakit neurologis, padahal masalah utamanya adalah pola tidur yang buruk selama berbulan-bulan.
Mengapa Tidur Penting bagi Otak?
Tidur bukan berarti otak berhenti bekerja. Saat tubuh beristirahat, otak tetap menjalankan berbagai proses penting, termasuk konsolidasi memori, pengaturan perhatian dan emosi, serta pemrosesan informasi. Sistem glimfatik juga paling aktif saat tidur dan membantu membersihkan limbah metabolisme dari otak.
Dampak satu malam tidur buruk biasanya dapat membaik setelah seseorang kembali memperoleh tidur yang cukup. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kekurangan tidur kronis. Orang yang hanya tidur lima atau enam jam selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat terbiasa dengan rasa lelah sehingga tidak menyadari penurunan kemampuan kognitifnya.
Untuk orang dewasa, American Academy of Sleep Medicine dan Centers for Disease Control and Prevention merekomendasikan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam. Tidur yang berkualitas juga ditandai kemampuan tertidur dalam sekitar 30 menit, tidak sering terbangun sepanjang malam, serta merasa segar dan waspada dalam waktu sekitar 30 menit setelah bangun.
Jika gangguan konsentrasi, ingatan, suasana hati, atau kemampuan berpikir mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Keluhan tersebut memang dapat berkaitan dengan kurang tidur, tetapi juga bisa memiliki penyebab lain, termasuk ADHD, depresi, gangguan tiroid, atau kondisi neurologis tertentu.