Cara Mengurangi Kebiasaan Jajan pada Anak dan Mulai Mengajari Cara Mengatur Keuangan

Stories | Sabtu, 15 Agustus 2026 10:00

Reporter : Abidah

Kebiasaan anak yang terus-terusan jajan bukanlah hal yang baik, ketahui cara yang bisa dilakukan orang tua untuk membatasi dan menghentikannya.

DREAM.CO.ID - “Ma, aku mau jajan dong” kalimat itu mungkin kerap menjadi hal yang kita temui setiap hari. Walau normal, naSmun, jika hampir setiap hari uang saku habis untuk membeli minuman, makanan ringan, mainan kecil, atau jajanan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, orang tua perlu mulai memperhatikan kebiasaan tersebut. Persoalannya bukan sekadar berapa rupiah yang dikeluarkan anak, tetapi bagaimana kebiasaan kecil itu dapat membentuk cara mereka memandang uang sejak dini.

Kebiasaan jajan memang sulit dipisahkan dari kehidupan anak. Lingkungan sekolah menyediakan berbagai pilihan makanan, teman sebaya dapat memengaruhi keinginan membeli sesuatu, sementara iklan dan media sosial membuat anak semakin akrab dengan berbagai produk.

Pada usia tertentu, anak juga belum sepenuhnya memahami perbedaan antara “ingin” dan “butuh”. Ketika melihat jajanan yang menarik, keinginan membeli muncul lebih dahulu daripada pertimbangan apakah uang yang dimiliki sebaiknya digunakan untuk kebutuhan lain. Karena itu, mengurangi kebiasaan jajan tidak seharusnya dilakukan hanya dengan melarang atau memarahi anak, tetapi dengan mengubah kebiasaan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar mengatur uang.

2 dari 4 halaman

Beri Uang Saku secara Konsisten

Langkah pertama dapat dimulai dari memberikan uang saku dengan jumlah dan jadwal yang konsisten. Anak perlu mengetahui berapa uang yang menjadi tanggung jawabnya dan untuk kebutuhan apa uang tersebut digunakan. Jika uang saku selalu ditambah ketika habis, anak tidak memiliki kesempatan untuk memahami konsekuensi dari keputusan belanjanya. Sebaliknya, ketika orang tua menetapkan jumlah tertentu dan mengajak anak membuat perencanaan sederhana, mereka mulai belajar bahwa uang memiliki batas. Misalnya, uang saku mingguan dapat dibagi menjadi kebutuhan sekolah, jajan, tabungan, dan sebagian kecil untuk keperluan yang diinginkan anak.

Pembagian tersebut tidak harus menggunakan perhitungan rumit. Orang tua dapat menggunakan tiga wadah atau amplop bertuliskan “pakai”, “tabung”, dan “berbagi”. Setiap kali menerima uang, anak diajak memasukkan sebagian ke masing-masing wadah. Cara sederhana ini membantu anak melihat bahwa uang tidak harus langsung habis digunakan. Jika anak menginginkan mainan atau barang tertentu, misalnya, orang tua dapat mengajaknya menghitung berapa lama uang perlu dikumpulkan. Proses menunggu tersebut justru menjadi bagian penting dari pembelajaran karena anak belajar bahwa keinginan membutuhkan perencanaan.

 

3 dari 4 halaman

Jangan Larang Sepenuhnya dan Beri Contoh

Pada saat yang sama, orang tua perlu menghindari menjadikan jajanan sebagai sesuatu yang sepenuhnya terlarang. Larangan total justru dapat membuat anak semakin penasaran atau membeli diam-diam ketika mendapat kesempatan. Lebih baik, orang tua menetapkan batas yang masuk akal sambil menjelaskan alasannya.

Jika anak terbiasa membeli jajanan setiap pulang sekolah, frekuensinya dapat dikurangi secara bertahap. Bekal dari rumah juga dapat menjadi alternatif, terutama jika disiapkan bersama anak sehingga ia tetap memiliki pilihan terhadap makanan yang dibawa. Dengan begitu, anak belajar bahwa menghemat bukan berarti tidak boleh menikmati sesuatu, tetapi mengetahui kapan dan berapa banyak uang yang layak digunakan.

Kebiasaan tersebut akan lebih mudah terbentuk jika orang tua memberikan contoh. Anak dapat melihat bagaimana orang dewasa membuat daftar belanja, membandingkan harga, menunda membeli barang yang belum diperlukan, atau menyisihkan uang untuk kebutuhan tertentu.

Sebaliknya, akan sulit meminta anak berhenti membeli sesuatu secara impulsif jika mereka melihat orang tuanya melakukan hal yang sama. Pendidikan keuangan pada anak pada akhirnya tidak terutama berlangsung melalui ceramah, tetapi melalui kebiasaan yang mereka lihat berulang kali di rumah.

 

4 dari 4 halaman

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Orang tua juga dapat mulai mengenalkan konsep kebutuhan dan keinginan melalui percakapan sederhana. Ketika anak meminta membeli sesuatu, tidak perlu langsung menjawab “tidak”. Tanyakan, “Barang ini memang dibutuhkan atau kamu sedang menginginkannya?” Pertanyaan tersebut bukan untuk membuat anak merasa bersalah karena memiliki keinginan, melainkan melatih mereka berhenti sejenak sebelum mengeluarkan uang. Dari sini, anak perlahan belajar mempertimbangkan pilihan dan konsekuensinya.

Mengajarkan pengelolaan uang sejak kecil bukan berarti membuat anak terlalu berhitung atau membatasi kesenangannya. Tujuannya adalah membangun kebiasaan agar anak memahami bahwa uang merupakan sumber daya yang perlu dikelola.

Kebiasaan membeli jajanan sesekali tentu bukan persoalan, tetapi jika setiap uang yang diterima selalu habis tanpa perencanaan, anak kehilangan kesempatan untuk belajar menabung, menentukan prioritas, dan menunda keinginan. Karena itu, perubahan dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberikan uang saku secara teratur, mengajak anak mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memberi mereka kesempatan merasakan hasil dari keputusan keuangannya sendiri. Dari kebiasaan kecil tersebut, anak perlahan belajar bahwa mengatur uang bukan sekadar soal menyimpan rupiah, tetapi juga tentang belajar membuat pilihan.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id