© Kembangraps, CC0, Via Wikimedia Commons
DREAM.CO.ID - Setiap orang Indonesia pasti akrab dengan cabai. Ia jadi jiwa dari sambal, penentu level pedas rendang, dan bumbu wajib di hampir semua masakan Nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Tapi ada fakta yang jarang disadari: cabai yang kita kenal sekarang, si Capsicum merah menyala itu, sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Dan yang lebih mengejutkan lagi, jauh sebelum cabai itu datang, Nusantara sudah punya " cabai" versinya sendiri, yang kini nyaris terlupakan.
Sebelum cabai modern dikenal luas, masyarakat Jawa kuno sudah memakai rempah pemedas bernama cabya. Kata " cabya" telah disebut dalam berbagai prasasti dan naskah kuno Jawa sejak abad ke-10 masehi, jauh sebelum era penjelajahan bangsa Eropa dimulai. Cabya, yang kini lebih dikenal dengan nama cabai jawa atau cabai jamu, punya nama ilmiah Piper retrofractum. Tanaman ini masih satu keluarga dengan lada dan kemukus, alias suku sirih-sirihan atau Piperaceae, bukan satu genus dengan cabai yang kita kenal sekarang. Sekilas bentuk cabya memang mirip cabai modern, berwarna hijau saat muda dan merah saat matang, tapi permukaannya bertekstur berbintik unik, mirip kulit stroberi, bukan licin seperti cabai pada umumnya.
Cabai jawa diperkirakan sudah dipakai sebagai bahan pembuatan sambal di wilayah Indonesia hingga abad ke-10. Ia bukan sekadar bumbu dapur, melainkan juga bahan penting dalam pengobatan tradisional dan jamu, dipakai untuk meredakan demam, nyeri, hingga sebagai antiinflamasi berkat kandungan piperin di dalamnya.
Nasib cabya berubah drastis begitu memasuki abad ke-16. Kegunaannya mulai tergantikan sejak genus cabai dari Amerika diperkenalkan oleh orang Spanyol dan Portugis yang datang ke Nusantara. Perlahan, popularitas cabya meredup, dan yang lebih ironis, namanya sendiri justru diambil alih oleh pendatang baru itu.
Fenomena ini bahkan sempat dibahas ramai di media sosial. Sebuah unggahan yang dikutip dari akun Threads @gastronusa menyebut, cabai dari Amerika Selatan lebih unggul soal rasa pedas, sehingga perannya sebagai bumbu pedas utama tergantikan. Lambat laun, nama " cabai" pun diambil alih oleh chili, sehingga masyarakat Nusantara akhirnya menyebut chili sebagai cabai, sementara cabai aslinya sendiri justru terlupakan dan nyaris hilang dari percakapan sehari-hari.
Lalu, dari mana sebenarnya asal cabai merah dan cabai rawit yang kita santap setiap hari? Cabai atau Capsicum bukan tumbuhan asli Nusantara. Asalnya jauh dari Benua Amerika, diduga pertama kali dikonsumsi suku-suku Indian di kawasan Amerika Tengah dan Selatan sejak sekitar 7000 tahun sebelum masehi.
Penyebarannya ke dunia luar dimulai dari satu nama besar dalam sejarah penjelajahan dunia: Christopher Columbus. Cabai mulanya berasal dari Benua Amerika dan dibawa masuk bersama sekitar 2.000-an jenis tumbuhan lainnya pada abad ke-16 oleh para pelaut Portugis dan Spanyol menuju Asia Tenggara. Di benua asalnya, tanaman ini dikenal dengan nama chili, yang kemudian diserap ke dalam kosakata bahasa Inggris. Pada 1542, pedagang Portugis diduga memperkenalkan cabai ke India, sebelum akhirnya menyebar ke Asia Tenggara termasuk Indonesia lewat jalur perdagangan rempah yang sudah lama terbentuk di kawasan ini.
Yang menarik, alasan kenapa Capsicum di Indonesia dinamai " cabai" , persis meniru sebutan cabya, ternyata berkaitan langsung dengan kemiripan fungsi keduanya. Tanaman Capsicum ini dinamakan cabai di Indonesia karena masyarakat Nusantara sudah lebih dulu mengenal tanaman bernama cabya, yang punya nama latin Piper retrofractum, dengan rasa yang sama-sama pedas.
Dengan kata lain, cabai yang setiap hari kita nikmati bukan sekadar mewarisi rasa pedas dari cabya, tapi juga mewarisi namanya secara harfiah. Proses ini yang membuat generasi sekarang mengira cabai adalah tanaman asli Indonesia, padahal ia pendatang yang datang lebih dari lima abad lalu dan berhasil sepenuhnya menggusur pendahulunya dari ingatan kolektif masyarakat.
Kini, cabai jawa alias cabya memang belum benar-benar punah, tapi eksistensinya jauh dari masa jayanya dulu. Ia masih bisa ditemukan tumbuh di pekarangan sebagai tanaman obat, atau di hutan-hutan sekunder dataran rendah hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Namun perannya sebagai bumbu masak nyaris hilang total, tergeser sepenuhnya oleh cabai merah dan cabai rawit yang kini mendominasi dapur-dapur Indonesia.
Ironisnya, banyak generasi muda yang justru mengenal cabya hanya sebagai bahan campuran jamu tradisional, tanpa tahu bahwa tanaman inilah yang dulu jadi cikal bakal rasa pedas di masakan Nusantara, jauh sebelum sang " pendatang" dari Amerika mengambil alih perannya, bahkan mengambil alih namanya sekalian.
Advertisement