© Pexels.com/Dimas Rachmadan
DREAM.CO.ID - Jauh sebelum kain tenun Nusantara dikenal dengan motif, warna, dan teknik yang beragam seperti sekarang, masyarakat di kepulauan Indonesia telah memanfaatkan serat alam untuk membuat kain. Dengan alat sederhana dari kayu, serat kapas, pandan, kelapa, hingga rami dipintal dan diolah menjadi bahan pakaian. Jejaknya bahkan diperkirakan telah ada sejak ribuan tahun lalu.
Dilansir dari DiTenun, informasi mengenai artefak tenun dari masa prasejarah di Nusantara memang masih terbatas dan belum terdokumentasi secara lengkap. Namun, sejumlah temuan arkeologi menunjukkan bahwa tradisi membuat kain dengan teknik tenun telah dikenal oleh masyarakat masa lampau.
Salah satu bukti ditemukan di situs arkeologi Gua Harimau, Sumatera Selatan. Kain yang dibuat dari serat pohon pinang di situs tersebut diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun. Temuan ini menjadi salah satu petunjuk mengenai keberadaan teknologi pengolahan serat di Nusantara pada masa yang sangat awal.
Pada masa tersebut, proses pembuatan tenun tentu belum menggunakan peralatan modern. Masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti kapas, daun pandan, serat kelapa, dan rami. Serat-serat tersebut diolah dengan peralatan sederhana, kemudian menghasilkan kain yang cenderung kasar dengan warna alami, seperti cokelat, kuning, dan hijau.
Tradisi tersebut kemudian berkembang di berbagai wilayah Nusantara dengan karakter yang berbeda. Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua memiliki corak, simbol, warna, teknik, dan makna tenun masing-masing. Perbedaan tersebut tidak sekadar menunjukkan kreativitas pengrajin, tetapi juga berkaitan dengan nilai budaya, kepercayaan, agama, serta sejarah masyarakat setempat.
Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu wilayah yang memiliki jejak tradisi tenun sejak masa Megalitikum. Pada masa itu, serat alam seperti daun pisang dan kapas diolah menjadi benang, kemudian diberi warna menggunakan bahan dari lingkungan sekitar, termasuk akar kayu dan daun.
Kain hasil tenunan tidak hanya digunakan sebagai pakaian, seperti sarung dan selendang. Tenun juga dapat digunakan sebagai hiasan dinding atau tikar serta memiliki peran dalam berbagai upacara adat. Dengan demikian, kain tidak hanya menjadi benda pakai, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Jejak tradisi serupa juga ditemukan di Donggala, Sulawesi Tengah. Artefak tenun dari masa lampau di wilayah ini diperkirakan berusia sekitar 1.500 tahun dan menggunakan benang yang dibuat dari serat pohon pandan. Proses pembuatannya menggunakan alat tenun sederhana.
Tenun Donggala kemudian berkembang dengan pola geometris yang khas, terutama garis serta bentuk segi empat atau kotak. Warna yang digunakan beragam, dari cerah hingga gelap, dan dipadukan dengan motif bunga maupun binatang. Beberapa motif juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan mitologi dan kepercayaan masyarakat setempat. Salah satunya adalah motif burung maleo yang dikaitkan dengan keberanian dan ketangguhan.
Perkembangan tenun Donggala berlanjut ketika kerajaan-kerajaan seperti Banawa, Sigi, dan Banggai berkembang di Sulawesi Tengah. Tenun Donggala mencapai masa kejayaan pada masa Kerajaan Banawa pada abad ke-17. Pada masa kolonial Belanda, kain ini kemudian menjadi salah satu komoditas perdagangan dan diperdagangkan hingga ke luar wilayah.
Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa tenun Nusantara bukan sekadar hasil keterampilan membuat kain. Di balik benang, warna, dan motifnya terdapat pengetahuan mengenai alam, teknologi tradisional, kepercayaan, serta kehidupan sosial masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, tradisi tersebut terus berkembang di tengah penggunaan teknologi modern dan produksi massal. Sejumlah kain tradisional Nusantara juga telah memperoleh pengakuan internasional sebagai warisan budaya. Perubahan zaman tidak serta-merta menghilangkan tenun tradisional, tetapi justru membuka ruang bagi teknik dan motif lama untuk terus dikembangkan dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kehidupan masa kini.
Advertisement

Mengapa Ada Banyak Jenis Colokan Listrik di Dunia? Ini Alasan di Baliknya

Dari Air Hingga Udara, Ini Hal Kecil Yang Bikin Rumah Terasa Lebih Nyaman

7 Tanda Anda Punya Bos Toxic yang Bisa Mengganggu Karier dan Kesehatan Mental

KDM Soal Duet dengan Gibran: Besok Punya Pacar atau Tidak Saja Belum Kepikiran


Mengenal Reverse Vending Machine, Inovasi Daur Ulang Botol Plastik

Sering Makan Manis Setiap Hari? Ini yang Terjadi pada Hati Tanpa Disadari