Data Bank Dunia soal Kemiskinan RI Tengah Ramai di Medsos, Ini Cara Membacanya yang Benar
© Pexels.com/Mikael Blomkvist
Reporter : Abidah
Membaca data kemiskinan dari Bank Dunia membutuhkan pengetahuan mengenai konsep penghitungannya serta penarikan kesimpulannya.
DREAM.CO.ID - Kabar tentang Indonesia sebagai negara termiskin dalam kelompok negara berkembang ramai beredar di media sosial sepekan terakhir. Angka yang beredar menunjukkan 64,2 persen, terpaut empat poin dari Afrika Selatan di angka 60 persen. Filipina, tetangga sesama Asia Tenggara, mengikuti di belakang dengan 56,5 persen.
Warganet merespons data ini dengan beragam reaksi. Sebagian menyebut Indonesia sebagai negara termiskin di dunia dan menggambarkannya sebagai "fakta pahit". Sebagian lain bereaksi kaget, membandingkan data Bank Dunia dengan data Badan Pusat Statistik, atau melempar pertanyaan retoris: "Kamu percaya hitungan Bank Dunia itu atau hitungan BPS?"
Bukan Data Baru
Data ini sebenarnya bukan temuan baru. Bank Dunia merilisnya pada April 2026 lewat laporan bertajuk Macro Poverty Outlook 2026 — bukan data yang muncul bulan Agustus, apalagi data yang baru dirilis pekan lalu seperti yang beredar di media sosial.
Memahami Cara Bank Dunia Mengukur Kemiskinan
Cara membaca data ini harus dimulai dengan memahami mengapa Bank Dunia mengukur tingkat kemiskininan negara-negara di dunia, apa tolok ukurnya, serta apa definisi miskin dalam katagori Bank Dunia. Hanya saja yang perlu dipahami bahwa bank yang didirikan 1 Juli 1944 dalam konferensi di Bretton Woods itu tidak pernah melansir data daftar negara termiskin. Kini anggota Bank Dunia sejumlah 189 negara.
Bank Dunia berdiri dengan misi membebaskan dunia dari kemiskinan. Lembaga ini merekam tingkat kemiskinan di berbagai negara sebagai dasar untuk memberikan bantuan, dan mendata international poverty line untuk menghitung tingkat kemiskinan ekstrem sebagai bagian dari proses tersebut.
Bank Dunia mengelompokkan negara-negara ke dalam empat kategori pendapatan:
Lower middle income mencakup negara dengan pendapatan US$3,65-6,84 per kapita per hari. Beberapa negara tetangga Indonesia, seperti Timor Leste, Kamboja, Laos, dan Myanmar, masuk dalam kategori ini.
Upper middle income mencakup negara dengan pendapatan US$6,85-8,30 per kapita per hari. Indonesia masuk dalam kategori ini, bersama sejumlah negara lain.
High income mencakup negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Prancis, Italia, Swiss, Denmark, Norwegia, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Brunei, Australia, Qatar, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara lainnya.
Bagaimana Tingkat Kemiskinan Dihitung?
Bank Dunia mengukur tingkat kemiskinan pada tiap kategori secara terpisah. Untuk kategori upper middle income, tempat Indonesia berada, perhitungan dimulai dengan menarik garis median dari rata-rata pendapatan per kapita seluruh penduduk di negara-negara yang masuk kategori tersebut.
Warga di tiap negara yang berpendapatan di bawah rata-rata itu tergolong sebagai warga miskin dalam kategori tersebut. Metode inilah yang menghasilkan angka 64,2 persen untuk Indonesia.
Angka ini tidak menempatkan Indonesia sebagai negara termiskin di dunia. Status Indonesia sebagai negara upper middle income menempatkannya di atas banyak negara lain yang masih berada di kategori lower middle income.
Fenomena ini pula yang menjelaskan mengapa negara-negara seperti Afrika Selatan dan Filipina, yang secara kategori berada di posisi kurang menguntungkan dibanding Indonesia, justru tampak berada di bawah Indonesia dalam angka yang beredar di media sosial. Posisi mereka dalam perbandingan itu tidak menjadikan mereka negara termiskin di dunia.