Dulu kerap Dianggap Penyakit Wanita, Gangguan Makan Kini Tengah Meningkat Pesat di Pria

Stories | Sabtu, 29 Agustus 2026 08:00

Reporter : Abidah

Penelitian terbaru mengungkap bahwa diperkirakan satu dari tiga orang yang mengalami gangguan makan adalah laki-laki.

DREAM.CO.ID - Selama puluhan tahun, gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia identik dengan citra perempuan muda yang berjuang dengan berat badan dan citra tubuh. Tapi data terbaru menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks: angka kasus gangguan makan pada pria kini meningkat lebih cepat dibanding pada perempuan, meski diagnosisnya masih jauh tertinggal karena stigma yang mengakar dalam.

Menurut National Eating Disorders Association (NEDA), diperkirakan satu dari tiga orang yang mengalami gangguan makan adalah laki-laki. Riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah menunjukkan bahwa angka gangguan makan pada pria meningkat pada laju lebih cepat dibanding pada perempuan, dan tidak ada perbedaan tingkat keparahan gejala klinis antara kedua jenis kelamin.

Meski demikian, perempuan masih hingga lima kali lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan makan dibanding laki-laki, dan 1,5 kali lebih mungkin menerima perawatan untuk kondisi tersebut. Kesenjangan ini bukan berarti gangguan makan pada pria lebih jarang terjadi secara nyata, melainkan mencerminkan seberapa besar kondisi ini luput dari deteksi.

Sebuah studi akademik dari University of Exeter mencatat fakta yang cukup mengejutkan: kurang dari 1 persen riset soal gangguan makan berfokus pada laki-laki, meski untuk pertama kalinya kejadian gangguan makan justru dilaporkan tumbuh lebih cepat di kalangan populasi pria. Meski begitu, pria tetap lebih mungkin tidak terdiagnosis dibanding perempuan.

2 dari 4 halaman

Kenapa Stigma pada Pria Begitu Berlapis

Pria yang benar-benar mencari bantuan menghadapi stigma ganda: stigma memiliki gangguan jiwa, ditambah stigma memiliki kondisi yang secara sosial dianggap "feminin". Kombinasi ini cukup kuat untuk membuat banyak pria memilih tidak pernah mengungkapkan gejala yang mereka alami.

Konsepsi budaya dan sosial yang lebih luas soal bagaimana seharusnya laki-laki bersikap turut berperan, bukan hanya dalam munculnya gangguan makan, tapi juga dalam keputusan untuk mencari bantuan. Rasa malu, berbarengan dengan stigma tersebut, menjadi salah satu alasan mengapa pria cenderung lebih jarang mencari perawatan atau bahkan mengenali obsesi mereka terhadap diet dan kebugaran sebagai sebuah masalah.

Riset lain yang dipublikasikan di PubMed bahkan menemukan bahwa laki-laki cenderung lebih menstigma penderita gangguan makan dibanding perempuan, dan hal ini lebih dipengaruhi oleh sejauh mana seseorang menyesuaikan diri dengan norma maskulinitas dibanding jenis kelamin biologis semata. Norma maskulin yang paling terkait dengan stigmatisasi gangguan makan termasuk kemandirian diri dan presentasi diri sebagai heteroseksual.

3 dari 4 halaman

Wajah Gangguan Makan pada Pria Sering Berbeda dari Stereotip

Salah satu alasan utama banyak kasus gangguan makan pada pria terlewat adalah karena gejalanya bisa tampak berbeda dari stereotip umum yang selama ini melekat pada gangguan makan. Riset menunjukkan pria dengan gangguan makan lebih cenderung menggunakan olahraga berlebihan sebagai perilaku kompensasi ketimbang purging (memuntahkan makanan).

Dorongan mengejar kekekaran otot menjadi pemicu utama ketidakpuasan tubuh pada 60 persen remaja laki-laki, sebuah pola yang kadang disebut sebagai "Adonis Complex" atau dorongan mengejar tubuh berotot dan ramping. Ketidakpuasan tubuh pada pria juga cenderung terpusat pada ukuran dada dan lengan, alih-alih perut, mencerminkan standar kejantanan fisik yang berbeda dari standar kelangsingan yang sering dikaitkan dengan perempuan. Muscle dysmorphia sendiri diperkirakan memengaruhi hingga 10 persen pria yang rutin ke gym.

4 dari 4 halaman

Ketidaksesuaian Lingkungan Perawatan

Banyak program perawatan gangguan makan dirancang untuk perempuan, mulai dari terapi kelompok yang mayoritas anggotanya perempuan hingga kurikulum citra tubuh yang berpusat pada kelangsingan, sehingga lingkungan klinis semacam ini terasa asing bagi pasien pria. Pria bisa merasa tidak pada tempatnya, tidak dipahami, atau kesulitan menemukan kesamaan dengan pasien lain di sekitar mereka.

Dampak dari keterlambatan ini cukup serius. Pria berisiko lebih tinggi meninggal akibat gangguan makan karena biasanya baru terdiagnosis jauh lebih lambat dibanding perempuan. Bahkan sejumlah klinisi pun kadang melewatkan tanda-tanda gangguan makan pada pria akibat kesalahpahaman lama bahwa kondisi ini hanya menyasar perempuan.

Data juga menunjukkan sejumlah kelompok pria menghadapi risiko lebih tinggi. Laki-laki transgender secara signifikan lebih mungkin melaporkan diagnosis gangguan makan dibanding laki-laki cisgender. Remaja LGBTQ dengan diagnosis gangguan makan memiliki peluang hampir empat kali lebih besar mengalami percobaan bunuh diri dalam setahun terakhir, dengan remaja laki-laki transgender dan individu nonbiner assigned female at birth mencatat angka tertinggi dalam sejumlah riset. Veteran pria juga menunjukkan angka gangguan makan yang lebih tinggi dibanding populasi pria pada umumnya.

Meski hasil perawatan gangguan makan secara umum relatif sebanding antara kedua jenis kelamin, kesembuhan masih sulit dicapai bagi banyak pasien pria, dan para peneliti klinis belum sepenuhnya menyesuaikan pendekatan perawatan yang ada khusus untuk pria guna menentukan apakah hasilnya bisa lebih baik.

Meningkatnya kesadaran soal gangguan makan pada pria bukan sekadar soal statistik, melainkan soal membuka jalan bagi lebih banyak pria untuk mengenali gejala pada diri sendiri, mencari bantuan lebih awal, dan mendapat penanganan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka, alih-alih terus tertahan oleh anggapan lama bahwa ini "bukan masalah laki-laki".

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id