El Niño dan La Niña: Dua Wajah Berlawanan dari Satu Siklus Iklim Pasifik
© Pexels.com/Pyae Phyo Aung
Reporter : Abidah
El Niño dan La Niña sama-sama berdampak paling kuat pada iklim global selama musim dingin belahan bumi utara, meski keduanya bisa terasa sepanjang tahun di kawasan tropis seperti Indonesia.
DREAM.CO.ID - Setiap beberapa tahun sekali, media ramai membicarakan El Niño atau La Niña saat cuaca tiba-tiba berubah drastis. Keduanya bukan fenomena terpisah, melainkan dua fase yang berlawanan dari satu siklus alami yang sama: El Niño-Southern Oscillation, disingkat ENSO. Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) menyebut ENSO sebagai perubahan suhu air laut di Pasifik tengah dan timur yang memengaruhi pola cuaca di seluruh dunia.
Siklus ini biasanya berulang setiap dua hingga tujuh tahun, tanpa jadwal yang pasti, dan satu episode umumnya bertahan sembilan hingga dua belas bulan, meski kadang bisa berlangsung lebih lama.
Untuk memahami perbedaan keduanya, penting melihat kondisi normal Pasifik terlebih dulu. Dalam kondisi biasa, angin pasat bertiup dari timur ke barat sepanjang garis khatulistiwa, mendorong air hangat dari Amerika Selatan menuju Asia. Untuk menggantikan air hangat yang terdorong pergi, air dingin dari kedalaman laut naik ke permukaan lewat proses yang disebut upwelling. El Niño dan La Niña sama-sama mengganggu pola normal ini, hanya dengan arah yang berlawanan.
El Niño: Air Hangat Bergeser ke Timur
Saat El Niño terjadi, angin pasat melemah. Air hangat yang biasanya menumpuk di Pasifik barat justru terdorong balik ke timur, menuju pesisir barat Amerika. Nama El Niño sendiri berasal dari nelayan Amerika Selatan pada abad ke-17 yang pertama kali menyadari periode air laut yang menghangat tidak biasa di sekitar musim Natal, sehingga mereka menyebutnya El Niño de Navidad, yang berarti bocah kecil Natal dalam bahasa Spanyol. Air hangat ini membuat jet stream Pasifik bergeser dan memengaruhi cuaca jauh di luar kawasan Pasifik itu sendiri.
La Niña: Kebalikan yang Lebih Dingin
La Niña adalah kebalikan dari El Niño. Alih-alih melemah, angin pasat justru menguat, mendorong lebih banyak air hangat ke Pasifik barat sementara suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur mendingin lebih dari biasanya. Fenomena ini disebut La Niña, gadis kecil, sebagai lawan dari El Niño. Karena polanya berkebalikan, dampak La Niña terhadap cuaca dunia pun umumnya berlawanan arah dengan dampak El Niño, meski tidak selalu identik seratus persen.
Dampaknya di Indonesia Justru Berkebalikan
Dua fase ini punya efek yang bertolak belakang di Indonesia, dan itulah yang membuat perbedaannya penting dipahami, bukan sekadar istilah ilmiah. Saat El Niño berlangsung, Indonesia cenderung mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering, meningkatkan risiko kebakaran lahan gambut serta gagal panen akibat kekurangan air.
La Niña justru sebaliknya. Fenomena ini umumnya memicu musim hujan yang datang lebih awal dan curah hujan yang jauh lebih tinggi dari normal, kadang naik 20 hingga 40 persen di berbagai wilayah Indonesia. Curah hujan berlebih ini punya sisi berbahaya sendiri: banjir, longsor, dan kerusakan lahan pertanian akibat genangan air. Episode La Niña pada 2010 misalnya, tercatat menimbulkan kerugian besar di sektor pertanian Indonesia, dengan komoditas seperti tebu, tembakau, dan cabai mengalami gagal panen luas, memicu lonjakan harga pangan di pasar domestik.
Kenapa Keduanya Sama Pentingnya untuk Dipantau
El Niño dan La Niña sama-sama berdampak paling kuat pada iklim global selama musim dingin belahan bumi utara, meski keduanya bisa terasa sepanjang tahun di kawasan tropis seperti Indonesia. Perubahan iklim jangka panjang juga diperkirakan memperbesar intensitas serta frekuensi kedua fenomena ini, membuat siklus yang dulunya relatif dapat diprediksi kini makin sulit diantisipasi secara presisi.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia yang menggantungkan sebagian besar hasil buminya pada curah hujan musiman, memahami fase mana yang sedang berlangsung menjadi bekal penting sebelum bencana datang. El Niño menuntut kesiapan menghadapi kekeringan dan kebakaran, sementara La Niña menuntut kesiapan menghadapi banjir dan longsor. Dua ancaman yang berbeda arah, tapi berakar dari satu siklus alam yang sama.