IIDI Cabang Malang Edukasi Masyarakat Pentingnya Menjaga Kesehatan Jantung dan pembuluh Darah

Stories | Sabtu, 8 Agustus 2026 09:48

Reporter : Abidah

IIDI Cabang Malang mengadakan penyuluhan Germas: Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah di Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Malang kembali menunjukkan kiprahnya di tengah masyarakat lewat program unggulan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) bertema "Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah". Kegiatan ini digelar di halaman Kantor Kecamatan Sukun, Kota Malang, pada Jumat, 7 Agustus 2026, dan berhasil menarik sekitar 150 peserta dari kalangan warga sekitar.

Untuk merealisasikan program ini, IIDI Cabang Malang menggandeng Kecamatan Sukun serta tiga puskesmas sekaligus, yakni Puskesmas Janti, Puskesmas Mulyorejo, dan Puskesmas Ciptomulyo, yang bersama-sama menyasar warga dari 11 kelurahan di wilayah Kecamatan Sukun.

Acara dibuka dengan sesi senam sehat jantung yang diikuti seluruh peserta di halaman kantor kecamatan, sebelum dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis oleh tim dari ketiga puskesmas dan sesi penyuluhan kesehatan.

Dalam sambutannya, Ketua IIDI Cabang Malang, Dra. Ny. Titin Dina Adha Prihatin Bachtiar, menegaskan bahwa program Germas ini merupakan wujud komitmen organisasi untuk hadir langsung di tengah masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.

"Program kami Germas ini dilaksanakan untuk berbagi ilmu, saling dekat dengan masyarakat, untuk membangun kesehatan masyarakat yang lebih baik," ujar Titin di hadapan para peserta yang hadir.

Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan pihak kecamatan dan puskesmas menjadi kunci agar edukasi kesehatan jantung ini benar-benar menjangkau masyarakat di tingkat kelurahan, bukan hanya berhenti di ruang seminar atau forum tertutup.

Camat Sukun, Dr. Dian Kuntari, S.STP., M.Si., turut memberikan sambutan dan mengapresiasi inisiatif IIDI Cabang Malang. Ia mendorong warga yang hadir agar tidak menyimpan sendiri pengetahuan yang mereka peroleh dari kegiatan ini. "Ilmu yang diperoleh di sini tolong disebarkan, untuk juga membagi informasi dan merangsang otak kita. Silakan ilmu itu dibagikan ke lingkungan masing-masing," katanya.

2 dari 4 halaman

Edukasi Langsung dari Dokter Spesialis Jantung

Sesi penyuluhan inti dibawakan oleh dr. Valerinna Yogibuana, Sp.JP (K), dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan dari Universitas Brawijaya dan RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang, yang dihadirkan IIDI Cabang Malang sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, dr. Valerinna menekankan pentingnya peran ibu dalam menjaga kesehatan jantung keluarga.

"Materi ini penting untuk ibu-ibu, karena ibu-ibu adalah tiang keluarga. Sudahkah mengajarkan putra-putrinya untuk sarapan?" ujarnya membuka sesi penyuluhan.

Ia mengingatkan bahwa penyakit jantung tidak mengenal batas usia dan harus diwaspadai sejak dini. "Anak bisa mengalami penyakit jantung bawaan, remaja bisa terkena penyakit jantung rematik. Menjaga kesehatan jantung tidak boleh menunggu setelah sakit," tegasnya.

Menurut dr. Valerinna, penyakit jantung merupakan salah satu beban pembiayaan kesehatan terbesar di Indonesia saat ini. "BPJS Kesehatan membiayai penyakit jantung dalam jumlah paling besar. Karena itu, penyakit jantung harus dikenali sejak dini, bukan setelah kondisinya terlambat untuk diobati," katanya.

Dalam sesi pencegahan, dr. Valerinna memaparkan sejumlah kebiasaan sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan jantung. Ia menyoroti pentingnya mengingatkan seseorang sebelum kebiasaan buruk terlanjur terbentuk. "Sebelum merokok, harus diingatkan. Sebelum obesitas, juga harus diingatkan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan warga soal konsumsi garam yang kerap tidak disadari. "Penyedap yang digunakan sehari-hari itu sudah mengandung garam. Semuanya sama-sama mengandung sodium," jelasnya, sembari menyarankan kopi tetap boleh dikonsumsi asal dalam bentuk kopi hitam tanpa tambahan gula berlebih.

Salah satu bagian yang paling diperhatikan peserta adalah penjelasan dr. Valerinna soal cara membedakan nyeri akibat serangan jantung dengan nyeri lambung biasa, sebab keduanya kerap tertukar di masyarakat.

"Serangan jantung itu nyeri dada sifatnya khas. Nyeri di belakang tulang dan menjalar ke leher, punggung, dan tangan," jelasnya. Ia menambahkan, kondisi ini patut diwaspadai serius jika nyeri tidak berkurang saat istirahat dan disertai keringat dingin. "Kalau nyeri ulu hati yang mirip maag biasanya berkurang setelah makan atau minum obat. Itu yang membedakannya dengan gejala serangan jantung," katanya.

Ia turut menyinggung hipertensi sebagai kondisi yang kerap luput dari perhatian. "Hipertensi adalah silent killer, karena kita tidak tahu kalau kita sedang mengalaminya," ujarnya, sembari menyebut istilah white coat hypertension, yakni kondisi tekanan darah yang naik hanya karena bertemu dokter. Ia berpesan agar pasien yang hendak kontrol tekanan darah tidak berkendara sendiri dan tidak langsung beraktivitas berat usai pemeriksaan, agar hasil pengukuran lebih akurat.

Menjawab pertanyaan peserta soal kebiasaan pasien jantung dan diabetes yang berhenti merokok namun beralih menjadi kebiasaan ngemil berlebihan, dr. Valerinna menanggapi santai namun tegas. "Mulut saya pahit, itu hanya alasan," ujarnya, mengingatkan bahwa alasan semacam itu sering dipakai untuk membenarkan kebiasaan makan berlebih pascaberhenti merokok.

3 dari 4 halaman

Tiga Lapis Pencegahan hingga Rehabilitasi Pascaserangan

Dalam pemaparan materi lanjutan, dr. Valerinna menjelaskan konsep pencegahan sekunder pascakejadian jantung, yakni tahap penanganan bagi pasien yang sudah mengalami sindrom koroner akut, tindakan PCI, atau kerusakan organ target. Tujuannya mutlak: mencegah kejadian berulang dan gagal jantung.

Ia memaparkan empat pilar utama penanganan pada tahap ini: terapi antitrombotik untuk menyeimbangkan risiko iskemik dan perdarahan, pengendalian lipid dengan target LDL di bawah 55 mg/dL, pencegahan remodeling jantung lewat kombinasi obat-obatan, serta perbaikan gaya hidup disertai rujukan rehabilitasi jantung. "Kunci keberhasilannya adalah memulai seluruh terapi sebelum pasien pulang dari rumah sakit, bukan menundanya sampai kunjungan rawat jalan berikutnya," tegas dr. Valerinna.

Ia juga memaparkan sejumlah target pengendalian klinis yang perlu diperhatikan pasien berisiko tinggi, di antaranya tekanan darah di bawah 130/80, kadar LDL kolesterol di bawah 55 mg/dL, HbA1c di bawah 7 persen, indeks massa tubuh pada rentang 18,5 hingga 22,9 sesuai standar Asia-Pasifik, serta aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dengan intensitas sedang ditambah latihan resistensi dua kali seminggu.

Sebagai penutup materi, dr. Valerinna merangkum lima pesan inti: pencegahan penyakit jantung adalah rangkaian berkesinambungan, bukan satu titik intervensi tunggal; pencegahan primordial sejak faktor risiko belum muncul adalah investasi termurah dengan dampak populasi paling masif; pencegahan primer lewat pengendalian hipertensi, diabetes, lipid, dan rokok harus dilakukan presisi sebelum kejadian pertama; pencegahan sekunder pascakejadian membutuhkan kolaborasi terapi berbasis bukti dan rehabilitasi jantung; dan kepatuhan pasien pada tahap tersier harus berada di level "sangat baik", bukan sekadar "baik", sebagai penentu akhir keberhasilan mencegah pasien kembali dirawat.

"CERDIK sebelum sakit, PATUH setelah sakit, konsisten seumur hidup. Jantung yang sehat dibangun jauh sebelum keluhan pertama muncul," pungkas dr. Valerinna.

4 dari 4 halaman

Komitmen Berkelanjutan IIDI di Tengah Masyarakat

rogram Germas di Kecamatan Sukun ini menjadi bukti nyata bagaimana IIDI Cabang Malang terus mendorong sinergi antara organisasi profesi, pemerintah kecamatan, dan layanan kesehatan primer untuk menjangkau masyarakat secara langsung. Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan rutin yang dilakukannya.

Ikatan Isteri Dokter Indonesia, disingkat IIDI, adalah organisasi yang menghimpun para istri dan warakawuri dokter di seluruh Indonesia, didirikan pada 22 Desember 1954 bertepatan dengan Hari Ibu. Berkedudukan di setiap wilayah tempat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berada, IIDI mengusung asas perikemanusiaan dengan visi mewujudkan darma bakti istri dokter yang berkualitas di bidang sosial dan kesehatan menuju masyarakat sehat.

Sejak berdiri, organisasi ini fokus mempererat hubungan antaristri dan janda dokter, menjalankan kegiatan bersifat medis sosial, serta mendukung IDI dan organisasi lain yang memiliki tujuan serupa. Hingga saat ini, IIDI memiliki ratusan cabang aktif yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia, salah satunya Cabang Malang.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id