Inilah Peta Baru Dunia Versi PBB: Eropa dan Amerika Jadi Lebih Kecil. Mengapa?

Stories | Selasa, 8 September 2026 15:01

Reporter : Okti Nur

Peta dunia ternyata tak pernah sepenuhnya netral. Di balik garis dan ukuran wilayah, tersimpan bias sejarah yang ikut menentukan siapa tampak besar, kecil, pusat, atau pinggiran.

DREAM.CO.ID - Amerika Serikat menentang peta baru ini. Tapi kata Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey “Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil.” Inilah cerita perjalanan panjang peta dunia kita.

Sepekan belakangan dunia diramaikan oleh berubahnya peta bumi. Dan peta baru itu sudah disetujui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) lewat pemungutan suara. Digelar Jumat, 4 September pekan lalu sejumlah 146 negara setuju, enam abstain. Dan hanya Amerika Serikat sendirian yang menolak.

Adalah Togo, negeri kecil di Afrika Barat yang penduduknya cuma 9,8 juta jiwa, yang menginisiasi perubahan peta dunia ini.

Pemerintah negara itu menilai tatatan dunia memang tidak adil. Kekuasan politik dan ekonomi global seringkali lebih senang berpihak kepada negara-negara maju nan kaya na kuasa. Dan itu sudah berlangsung semenjak jaman penjajahan di muka bumi ini hingga dunia memasuki era artificial intelligence.

Dunia ini begitu luas, dan kita meringkasnya dalam sebuah peta. Peta itu menentukan cara kita melihat sebuah kawasan, cara kita melihat sebuah negara. Negara yang mungil tentu beda cara kita melihatnya dari negara yang begitu luas. Tapi benar begitukah faktanya, tentang ukuran besar kecilnya sebuah negara? Tidak.

Peta dunia yang sekarang dinilai banyak biasnya. Bias mengukur luas kecilnya sebuah negara, sebuah kawasan.

Benua Arfika, misalnya, digambarkan sama besarnya dengan Greenland, wilayah otonom yang menjadi bagian dari Kerajaan Denmark yang terletak di antara samudera Arktik dan Atlantik Utara, serta hampir 80 persen wilayahnya adalah gugusan hamparan es.

Padahal luas Afrika setidaknya 14 kali dari luas Greenland. “Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil.” Kata Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey,” dalam pemaparannya di sidang PBB.

Peta dunia memang beberapa kali mengalami perubahan, dan itu sering kali menentukan cara kita melihat dunia.

Peta Piri Reis

Peta pertama dunia datang dari gambaran Ahmed Muhiddin Piri. Dia adalah seorang laksamana angkatan laut Kesultanan Ottoman. Piri memang mempunyai keahlian dalam bidang navigasi. Selain mempunyai keahlian militer, dia juga ahli dalam bidang geografi dan kartografer.

Pada tahun 1513 dia membuat sebuah peta dunia. Peta bikinan Piri Reis – Reis dalam bahasa Turki berarti Laksamana – menarik perhatian dunia, bukan saja oleh karena akurat tapi juga karena melampaui bayangan masyarakat dunia paling maju sekalipun pada masa itu.

Dalam peta yang digambarkan di atas kulit rusa itu sudah ada Kepulauan di Atlantik, sisi timur dunia seperti Jepang, serta dataran besar di selatan Afrika. Padahal dataran di sisi selatan Afrika itu baru ditemukan oleh dunia barat dari kisah perjalanan James Cook dari Inggris tahun 1773.

Peta ini disanjung oleh banyak ahli di dunia. Ada yang menyebut peta bikinan Piri Reis ini begitu akurat dan bagai digambar dari luar angkasa oleh karena begitu rinci.

Peta bikinan Piri Reis ini dinilai sangat berjasa dalam dunia navigasi internasional. Buku yang ditulis oleh Piri Reis berjudul Kitab-i Bahriye - yang bermakna Kitab Navigasi - paling berjasa dalam dunia pelayaran dan sungguh berjasa pula bagi penjelajah dunia seperti Vasco da Gama, Christopher Columbus, serta para penjelajah lain yang dicatat oleh buku-buku sejarah dunia.

Peta Mercator

Peta ini digambarkan oleh Gerardur Mercator, asal Flandria, daerah yang pada masa modern ini menjadi bagian dari Belgia. Mercator adalah seorang kartografer- ahli membuat peta. Dia lahir 1512 dan wafat 1594.

Pada tahun 1569 dia mengambarkan peta yang kemudian disebut sebagai Proyeksi Mercator. Peta ini mengubah permukaan bumi yang bulat menjadi datar dengan garis lurus.

Siapa si Gerardus Mercator ini?

Lahir 5 Maret 1512. Anak ketujuh. Ayahnya seorang pembuat sepatu. Saat usia memasuki remaja tahun 1526, sang ayah wafat. Oleh pamannya dia kemudian dikirim ke sekolah di Hertogenbosch. Tiga tahun di sekolah itu Mercator belajar tentang prinsip-prinsip dasar dilaktika.

Dalam berbagai buku dan tulisan tentang Gerardus Mercator, - disebutkan bahwa dia juga belajar bahasa latin, dan bahasa lain yang memudahkannya masuk Louvain University Agustus 1530. Di kampus itu dia belajar filsafat, teologi, dan tentang sejarah Yunani. Oktober 1532 dia meraih gelar master.

Dua tahun kemudian dia kembali ke kampus itu untuk belajar astronomi, matematika, dan geografi di bawah bimbingan seorang ahli matematika bernama Gemma Frisius. Pada masa itu, Louvain dikenal sebagai pusat kastografi ilmiah, sebuah komunitas yang kondusif bagi orang seperti Mercator yang punya minat dan keahlian tentang peta.

Bersama sang pembimbing, pada tahun 1536 Mercator mengambar konstruksi bola bumi dengan diameter 37cm. Dan pada tahun 1537 dia bikin versi astronomis dari konstruksi itu.

Pada masa-masa awal dalam Riwayat bikin peta ini, peta pertama karya Mercator adalah tentang Palestina. Tidak disebutkan alasannya, tapi oleh Mercator peta itu dipersembahkan kepada Frans Van Cranevelt dan untuk penasihat Kaisar Charles V.

Kaisar Charles ini sohor disebut Karl V atau Carlos I dari Spanyol. Dia adalah Raja Spanyol dari tahun 1516 hingga 1556. Penguasa paling kuat pada masanya, dan wilayah kekuasannya dilukiskan hingga yang “tidak pernah terbenam matahari.”

Sesudah peta Palestina itu, Mercator bikin peta dunia. Ukurannya kecil. Serta dipersembahkan untuk sahabatnya bernama Johan Drusius. Dan pada Agustus 1569, dia melansir peta dunia. Peta itu diberi nama Nova et aucta orbis terrae descriptio ad usum navigantium emendate accomodata. Yang kurang lebih bermakna sebagai gambaran tentang bumi, yang baru dan diperluas, disesuaikan secara benar untuk digunakan oleh para navigator. Peta ini dibikin sebagai alat bantu navigasi.

Dalam sampul buku karyanya, Mercator memakai gambar Atlas, dewa Titan dalam mitologi Yunani kuno, yang dihukum oleh Dewa Zeus dengan cara menopang bola langit di pundaknya. Atlas kemudian- begitu kisah dalam mitologi itu – digambarkan sebagai raksasa super kuat oleh karena sanggup memikul langit. Dari buku Mercator itu, hari ini pet akita sebut sebagai Atlas.

Pembaruan oleh PBB September 2026

Semenjak dilansir oleh Mercator, peta dunia yang kita lihat hari ini sudah berusia lebih dari 450 tahun. Sepanjang itulah peta itu jadi rujukan, tapi sepanjang itu pula dunia berubah termasuk ilmu pengetahuan terutama teknologi, yang menjadi jendela bagi dunia melihat bumi secara lebih rinci dan akurat.

Dan pemerintah Kongo melihat lewat jendela itu. Peta bikinan Mercator atau merujuk pada Mercator itu dinilai kurang akurat, terutama dari sisi luas wilayah. Ada distorsi kutub pada peta itu. Semakin jauh suatu wilayah dari garis khatulistiwa ukurannya tidak proporsional, dan malah semakin luas.

Benua Afrika digambarkan begitu kecil, sama luasnya dengan Greenland, padahal luas benua itu 14 kali lipat dari Greenland. Seluas 30,3 juta kilometer persegi. Dan itu berarti seluas segenap wilayah Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar Eropa. Dan menurut Kongo peta ini penuh bias dan warisan kolonialisme.

Pemerintah Kongo membawa usulan perubahan ke forum negara-negara Uni Afrika dan secara bersama mereka kemudian membawa usulan itu ke PBB, yang dikenal dengan nama Correct The Map.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id