Kenapa Menggaruk Terasa Begitu Nikmat hingga Sulit Ditahan

Stories | Rabu, 2 September 2026 09:32

Reporter : Abidah

Menggaruk tubuh bisa memberi sensasi memuaskan yang membuat kita kesulitan menahan dorongan untuk melakukannya.

DREAM.CO.ID - Dorongan kuat untuk menggaruk sering muncul begitu rasa gatal menyerang, entah dipicu gigitan serangga, alergi, atau kondisi kulit lain. Menggaruk terasa seperti solusi instan yang memuaskan. Namun meski kita paham bahwa menggaruk bisa memperburuk kondisi kulit, dorongan itu tetap sulit ditahan. Sebuah penelitian terbaru mengungkap alasan di balik fenomena ini, dan menunjukkan bahwa dorongan menggaruk sebenarnya menyimpan manfaat evolusioner.

Live Science melaporkan temuan dari studi yang terbit di jurnal Science ini. Menggaruk memang bisa memperburuk peradangan dan memicu masalah kulit, tetapi tindakan ini ternyata membawa tujuan yang menguntungkan tubuh. Penelitian ini menduga bahwa rasa puas saat menggaruk berkaitan dengan fungsi pertahanan tubuh melawan infeksi.

2 dari 4 halaman

Menggaruk dan Manfaat Evolusionernya

Kebanyakan saran medis meminta kita menahan diri dari menggaruk, terutama saat gatal dipicu kondisi kulit kronis atau gigitan serangga, karena tindakan ini merusak kulit dan meningkatkan risiko infeksi. Penelitian terbaru justru menemukan bahwa menggaruk, dalam beberapa kasus, memperkuat respons kekebalan tubuh dan membantu mencegah infeksi.

Dr. Daniel Kaplan, ahli dermatologi dan imunologi dari Universitas Pittsburgh, memimpin penelitian ini dan menemukan bahwa menggaruk meningkatkan peradangan sekaligus memperkuat respons imun di area kulit yang gatal. Tim peneliti melakukan eksperimen pada tikus yang neuron pemicu gatalnya sengaja dinonaktifkan. Mereka merangsang rasa gatal pada telinga tikus menggunakan alergen, lalu membandingkan reaksi tikus yang bebas menggaruk dengan tikus yang gerakannya dibatasi lewat kerah serupa "kerah malu" yang biasa dipakai anjing pascaoperasi.

Tikus yang bebas menggaruk telinganya menunjukkan pembengkakan di area yang digaruk. Peneliti menelusuri penyebabnya: neuron rasa sakit melepaskan zat yang mengaktifkan sel mast, komponen yang berfungsi sebagai alarm dalam sistem kekebalan tubuh. Sel mast lantas memicu peradangan dengan memanggil neutrofil, sel kekebalan yang bertugas mengendalikan infeksi.

Dr. Kaplan mempertanyakan logika di balik temuan ini: "Jika menggaruk itu buruk bagi kita, mengapa perasaan saat menggaruk bisa sangat memuaskan?" Baginya, rasa nikmat inilah yang mengisyaratkan manfaat tersembunyi di balik perilaku menggaruk sepanjang proses evolusi — manfaat yang membuat perilaku ini bertahan di berbagai spesies.

3 dari 4 halaman

Perlindungan terhadap Infeksi

Peneliti melanjutkan eksperimen dengan memaparkan zat pemicu gatal pada telinga tikus, lalu menyusulinya dengan bakteri Staphylococcus aureus, penyebab umum infeksi kulit. Tikus yang bisa menggaruk telinganya mencatat kadar bakteri S. aureus jauh lebih rendah dibanding tikus yang dibatasi geraknya. Temuan ini menegaskan bahwa menggaruk memperkuat pertahanan tubuh terhadap bakteri penyebab infeksi.

Temuan ini menjelaskan mengapa dorongan menggaruk muncul begitu kuat saat tubuh gatal. Kita kerap menganggapnya sebagai respons yang merugikan, padahal dalam kacamata evolusi, menggaruk berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alami yang membantu tubuh melawan potensi infeksi.

4 dari 4 halaman

Evolusi yang Tersembunyi dalam Rasa Gatal

Manusia bukan satu-satunya spesies yang memiliki perilaku ini. Penelitian ini menyoroti bagaimana dorongan menggaruk muncul di banyak spesies lain, menandakan bahwa perilaku ini berkembang lewat proses evolusi untuk tujuan tertentu.

Liwen Deng, imunolog dari Harvard Medical School yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan, "Perilaku ini sangat dipertahankan secara evolusioner, yang berarti kita menemukannya di banyak spesies. Namun, meskipun terlihat merugikan, sekarang kita mulai memahami bahwa menggaruk bisa menjadi respons yang bermanfaat."

Manfaat ini bukan berarti menggaruk selalu baik, apalagi jika dilakukan berlebihan. Pada kondisi kulit kronis, menggaruk justru memperparah peradangan, menghambat penyembuhan, dan merusak kulit lebih jauh. Menggaruk memang bisa memberi kelegaan sesaat, tetapi jika dilakukan berlebihan, efek buruknya bisa jauh melampaui manfaatnya.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id