Mengapa Kucing Sering Disebut Memiliki 9 Nyawa?
© Pexels.com/Alejandra Téllez Venegas
Reporter : Abidah
Faktanya, tidak ada bukti ilmiah bahwa kucing memiliki sembilan nyawa. Angka tersebut merupakan bagian dari mitos dan cerita rakyat.
DREAM.CO.ID - Seekor kucing jatuh dari tempat tinggi, terbangun setelah kecelakaan, atau berhasil meloloskan diri dari situasi yang tampaknya berbahaya sering membuat orang berkata bahwa hewan ini memiliki “sembilan nyawa”. Ungkapan tersebut telah menjadi bagian dari cerita rakyat di berbagai negara. Tentu saja, kucing hanya memiliki satu kehidupan seperti mamalia lainnya. Namun, kemampuan fisiknya untuk bertahan dari kondisi tertentu mungkin ikut membuat mitos tersebut terus bertahan selama berabad-abad.
Faktanya, tidak ada bukti ilmiah bahwa kucing memiliki sembilan nyawa. Angka tersebut merupakan bagian dari mitos dan cerita rakyat. Menariknya, jumlah “nyawa” kucing tidak selalu sama dalam setiap kebudayaan. Dalam beberapa tradisi berbahasa Spanyol, misalnya, kucing disebut memiliki tujuh nyawa. Sementara dalam cerita rakyat Arab, angka yang digunakan dapat berbeda lagi.
Lalu, dari mana angka sembilan berasal?
Salah satu kemungkinan berkaitan dengan posisi angka sembilan dalam berbagai tradisi kuno. Dalam sejumlah kebudayaan, sembilan dianggap sebagai angka yang memiliki makna khusus. Dalam tradisi Yunani kuno, misalnya, angka sembilan memiliki keterkaitan dengan kelompok sembilan Muses. Angka tersebut juga muncul dalam berbagai cerita dan sistem kepercayaan. Namun, hubungan langsung antara keyakinan mengenai angka sembilan dan mitos kucing memiliki sembilan nyawa tidak dapat dipastikan secara historis.
Ungkapan mengenai kucing yang memiliki banyak nyawa sendiri telah muncul dalam literatur Inggris selama berabad-abad. Salah satu rujukan terkenal terdapat dalam drama William Shakespeare, Romeo and Juliet. Dalam adegan antara Mercutio dan Tybalt, kucing disebut memiliki “sembilan nyawa”. Kemunculan ungkapan tersebut dalam karya Shakespeare menunjukkan bahwa gagasan tersebut sudah dikenal dalam masyarakat Inggris pada akhir abad ke-16.
Di luar cerita rakyat, ada alasan biologis mengapa kucing kerap dianggap sebagai hewan yang sangat pandai menyelamatkan diri. Tubuh kucing memiliki sejumlah karakteristik yang membantu mereka menghadapi situasi tertentu.
Salah satunya adalah refleks membalik tubuh atau righting reflex. Kucing memiliki kemampuan untuk memutar tubuh ketika jatuh sehingga bagian kaki berada di bawah dan tubuh berada dalam posisi yang lebih siap menghadapi pendaratan. Kemampuan ini mulai berkembang ketika anak kucing masih sangat muda dan biasanya sudah berfungsi dengan baik pada usia beberapa minggu.
Kucing juga memiliki struktur tulang yang relatif fleksibel dan tulang belakang yang memungkinkan tubuhnya bergerak dengan lincah. Kaki dan persendian mereka dapat membantu menyerap sebagian energi ketika mendarat. Selain itu, telapak kaki memiliki jaringan yang dapat memberikan bantalan.
Namun, kemampuan tersebut tidak berarti kucing kebal terhadap cedera. American Veterinary Medical Association mengingatkan bahwa jatuh dari ketinggian dapat menyebabkan berbagai cedera serius pada kucing, termasuk patah tulang, trauma pada organ dalam, dan cedera pada kepala. Bahkan kucing yang tampak baik-baik saja setelah jatuh tetap dapat mengalami masalah yang tidak langsung terlihat.
Fenomena kucing yang mampu bertahan dari jatuh juga pernah menarik perhatian dokter hewan. Dalam literatur kedokteran hewan terdapat istilah high-rise syndrome, yaitu kumpulan cedera yang dialami kucing setelah jatuh dari bangunan atau tempat tinggi. Penelitian mengenai kasus ini menunjukkan bahwa tingkat keparahan cedera sangat dipengaruhi oleh ketinggian, permukaan tempat mendarat, serta kondisi kucing ketika jatuh.
Menariknya, kucing tidak selalu lebih aman ketika jatuh dari tempat yang semakin tinggi. Pada ketinggian tertentu, kucing mungkin memiliki waktu untuk melakukan gerakan membalik tubuh dan menyesuaikan posisi. Tetapi semakin tinggi tempat jatuh, semakin besar pula energi yang harus ditanggung tubuh ketika mencapai permukaan.
Jadi, sembilan nyawa kucing tetap merupakan mitos, bukan fakta biologis. Angka sembilan kemungkinan bertahan karena memiliki posisi khusus dalam berbagai tradisi budaya dan karena kucing memang memiliki kemampuan fisik yang membuatnya terlihat luar biasa ketika menghadapi situasi tertentu.
Kemampuan refleks, tubuh yang fleksibel, keseimbangan, dan kelincahan membuat kucing memiliki peluang bertahan dalam sejumlah kondisi yang sulit. Namun, kemampuan tersebut memiliki batas. Kucing tetap dapat mengalami cedera serius bahkan dari satu kali jatuh.
Ungkapan “kucing punya sembilan nyawa” sendiri lebih tepat dipahami sebagai cara manusia menggambarkan ketangguhan dan kemampuan bertahan seekor kucing, bukan sebagai kenyataan bahwa hewan tersebut dapat hidup berkali-kali. Satu nyawa tetap satu nyawa, tetapi evolusi telah membuat kucing memiliki tubuh yang sangat terampil dalam menghadapi berbagai situasi.