5 Tipe Orang yang Suka Menunda Pekerjaan, Anda Termasuk yang Mana?

Reporter : Abidah
Minggu, 27 September 2026 16:00
5 Tipe Orang yang Suka Menunda Pekerjaan, Anda Termasuk yang Mana?
Kebiasaan menunda juga tidak otomatis berarti seseorang malas. Dalam banyak kasus, penundaan berkaitan dengan cara seseorang menghadapi rasa takut, cemas, bosan, atau keraguan terhadap dirinya sendiri

DREAM.CO.ID - Ada orang yang baru mulai mengerjakan laporan ketika tenggat tinggal beberapa jam. Ada pula yang menghabiskan waktu berhari-hari menyempurnakan rencana, tetapi tidak kunjung memulai. Sebagian lainnya justru sibuk membalas pesan, mengecek email, atau mengerjakan berbagai tugas kecil karena bingung menentukan mana yang harus didahulukan.

Semua perilaku tersebut dapat menjadi bentuk procrastination atau kebiasaan menunda pekerjaan. Menurut Lifehack, penelitian yang dikutip dalam artikel tersebut memperkirakan seseorang rata-rata kehilangan lebih dari 55 hari dalam setahun karena menunda pekerjaan, atau sekitar 218 menit setiap hari untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Namun, orang yang suka menunda ternyata tidak selalu memiliki pola yang sama. Ada sedikitnya lima tipe yang dapat dikenali.

1. Si Perfeksionis

Tipe ini terlalu memperhatikan detail. Keinginan menghasilkan pekerjaan yang sempurna justru membuatnya takut memulai karena khawatir melakukan kesalahan. Bahkan setelah pekerjaan dimulai, ia bisa berhenti terlalu lama pada bagian tertentu karena merasa semuanya harus benar.

Cara mengatasinya adalah menetapkan tujuan yang jelas dan batas waktu. Fokuslah pada hal yang benar-benar dibutuhkan untuk mencapai tujuan pekerjaan. Jika sebuah laporan bertujuan menunjukkan perubahan data, misalnya, perhatian utama seharusnya diberikan pada angka dan grafik, bukan terus-menerus memperbaiki pilihan kata yang tidak mengubah substansi laporan.

1 dari 2 halaman

2. Si Pemimpi

Si pemimpi senang membuat rencana dan membayangkan hasil ideal, tetapi kesulitan mengubahnya menjadi tindakan. Ia bisa memiliki banyak gagasan menarik tanpa pernah benar-benar menyelesaikannya.

Strateginya adalah mengubah tujuan besar menjadi target yang spesifik dan realistis. Kerangka SMART dapat digunakan untuk membuat tujuan lebih jelas. Setelah itu, pecah tujuan menjadi tugas-tugas kecil yang bisa segera dikerjakan. Dengan begitu, perhatian tidak berhenti pada rencana, tetapi bergerak menuju pelaksanaan.

3. Si Penghindar

Tipe ini cenderung menunda karena takut tidak mampu menyelesaikan tugas atau khawatir dinilai orang lain jika hasilnya buruk. Pekerjaan yang terasa sulit kemudian digantikan dengan aktivitas yang lebih mudah, seperti memeriksa email.

Salah satu cara mengatasinya adalah menghadapi pekerjaan yang paling menantang terlebih dahulu. Tugas besar juga dapat dipecah menjadi bagian kecil berdasarkan waktu dan energi yang dibutuhkan. Laporan 2.000 kata, misalnya, akan terasa lebih ringan jika dibagi menjadi bagian pendahuluan, tabel, analisis, studi kasus, dan kesimpulan.

2 dari 2 halaman

4. Si Pembuat Krisis

Tipe ini sengaja menunggu hingga mendekati tenggat karena merasa bekerja lebih baik di bawah tekanan. Deadline dianggap sebagai sumber motivasi utama.

Masalahnya, cara tersebut membuat seseorang tidak memiliki cukup waktu untuk memeriksa dan memperbaiki hasil pekerjaan. Salah satu strategi yang disarankan adalah teknik Pomodoro, yakni bekerja dalam sesi singkat dengan konsentrasi penuh, kemudian mengambil jeda sebelum kembali bekerja. Dengan memulai lebih awal, masih tersedia waktu untuk melakukan revisi.

5. Si Lebah Sibuk

Tipe terakhir justru terlihat sangat sibuk. Masalahnya bukan kekurangan pekerjaan, melainkan kesulitan menentukan prioritas. Terlalu banyak tugas membuatnya terus berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa menyelesaikan hal yang paling bernilai.

Kuncinya adalah membedakan sesuatu yang mendesak dengan sesuatu yang penting. Pesan dari klien yang meminta jawaban segera memang mendesak, tetapi memperbaiki masalah logistik yang menghambat seluruh proyek bisa jauh lebih penting. Karena waktu dan energi terbatas, pekerjaan yang memberikan dampak lebih besar perlu ditempatkan di depan.

Kebiasaan menunda juga tidak otomatis berarti seseorang malas. Dalam banyak kasus, penundaan berkaitan dengan cara seseorang menghadapi rasa takut, cemas, bosan, atau keraguan terhadap dirinya sendiri. Karena itu, langkah pertama untuk mengatasinya adalah mengenali pola yang paling sering muncul.

Setelah mengetahui tipe yang dominan, strategi dapat disesuaikan. Si perfeksionis perlu menurunkan standar yang tidak perlu, si pemimpi perlu lebih banyak bertindak, si penghindar perlu memecah tugas yang menakutkan, si pembuat krisis perlu mengelola waktu, sedangkan si lebah sibuk perlu belajar menentukan prioritas. Perubahan tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Memulai dari tugas kecil setiap hari dapat menjadi cara untuk membangun kebiasaan bekerja tanpa terus-menerus menunda.

Beri Komentar