Mengapa Mencetak Uang Lebih Banyak Tidak Bisa Membuat Negara Lebih Kaya?
© Pexels.com/Defrino Maasy
Reporter : Abidah
Dalam ekonomi, kondisi ketika jumlah uang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi menghasilkan barang dan jasa dapat mendorong inflasi.
DREAM.CO.ID - Bayangkan suatu pagi pemerintah mengumumkan bahwa jumlah uang beredar akan dilipatgandakan. Semua orang tiba-tiba memiliki uang lebih banyak di rekening. Gaji naik, tabungan bertambah, dan rasanya kehidupan akan menjadi lebih sejahtera. Kalau uang bisa dibuat sebanyak yang kita mau, mengapa masih ada kemiskinan?
Masalahnya, kekayaan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dicetak, tetapi oleh seberapa banyak barang dan jasa yang dapat dihasilkan. Uang pada dasarnya adalah alat untuk menukar dan mengukur nilai. International Monetary Fund (IMF) menjelaskan bahwa nilai uang modern sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap mata uang tersebut.
Bayangkan Ada 100 Roti
Untuk memahami persoalan ini, gunakan contoh sederhana. Misalnya, dalam sebuah kota hanya ada 100 roti yang dijual dan jumlah uang yang dimiliki seluruh warga mencapai Rp1 juta.
Jika pemerintah kemudian menambah uang beredar menjadi Rp2 juta, tetapi jumlah roti tetap 100, apakah warga mendapatkan lebih banyak makanan? Tidak. Mereka memang memiliki lebih banyak uang, tetapi jumlah roti tidak bertambah. Akibatnya, orang-orang akan bersaing mendapatkan roti tersebut. Penjual pun memiliki ruang untuk menaikkan harga.
Jika sebelumnya satu roti rata-rata dihargai Rp10.000, harga tersebut dapat meningkat karena jumlah uang yang mengejar barang tetap semakin besar. Dalam ekonomi, kondisi ketika jumlah uang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan ekonomi menghasilkan barang dan jasa dapat mendorong inflasi. IMF menjelaskan bahwa ketika jumlah uang dalam perekonomian terlalu besar dibandingkan ukuran ekonomi, daya beli mata uang dapat turun dan harga-harga naik.
Jadi, mencetak uang tidak otomatis membuat jumlah barang bertambah. Uang bertambah, tetapi kekayaan riil belum tentu bertambah.
Uang Bukan Kekayaan Itu Sendiri
Kesalahpahaman ini muncul karena kita sering menyamakan uang dengan kekayaan. Padahal, uang hanyalah salah satu cara untuk mengakses kekayaan.
Bayangkan seseorang memiliki saldo Rp10 juta. Ia terlihat memiliki banyak uang. Namun, nilai sebenarnya dari Rp10 juta tersebut bergantung pada apa yang bisa dibeli dengan uang itu.
Jika harga makanan, transportasi, rumah, pendidikan, dan kebutuhan lain meningkat dua kali lipat, saldo Rp10 juta tetap tertulis Rp10 juta. Namun, kemampuan membeli barang dan jasa menjadi jauh lebih kecil.
Inilah yang disebut daya beli. IMF menyebut inflasi dapat menurunkan pendapatan riil ketika pendapatan seseorang tidak meningkat secepat harga barang. Akibatnya, seseorang bisa menerima nominal uang yang lebih besar tetapi justru mampu membeli lebih sedikit.
Lalu Mengapa Negara Tidak Mencetak Uang Secukupnya Saja?
Pertanyaan berikutnya mungkin muncul: kalau begitu, mengapa pemerintah tidak mencetak uang secara hati-hati agar semua orang menjadi lebih kaya?
Jawabannya karena menambah uang memang dapat membantu perekonomian dalam kondisi tertentu, terutama ketika aktivitas ekonomi sedang lemah. Dalam jangka pendek, perubahan jumlah uang dan kebijakan moneter dapat memengaruhi konsumsi, investasi, produksi, dan lapangan kerja. Namun, efek tersebut tidak berarti uang tambahan bisa menciptakan kekayaan tanpa batas.
Jika perekonomian masih memiliki banyak kapasitas yang belum digunakan, tambahan permintaan dapat mendorong perusahaan meningkatkan produksi. Tetapi ketika pabrik sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimal, pekerja terbatas, bahan baku sulit diperoleh, dan jumlah barang tidak dapat bertambah dengan cepat, tambahan uang lebih mudah berujung pada kenaikan harga.
Karena itu, bank sentral harus menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan kestabilan harga.
Kekayaan Negara Datang dari Apa?
Kalau bukan dari mencetak uang, lalu apa yang benar-benar membuat negara menjadi lebih kaya?
Jawabannya adalah kemampuan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa yang bernilai. Negara menjadi lebih sejahtera ketika produktivitas pekerja meningkat, teknologi berkembang, perusahaan menghasilkan produk yang lebih baik, infrastruktur mendukung kegiatan ekonomi, dan masyarakat memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
Bayangkan sebuah negara memiliki 100 petani yang sebelumnya mampu menghasilkan 1.000 ton beras. Setelah menggunakan teknologi pertanian yang lebih baik, irigasi, benih berkualitas, dan pengetahuan baru, mereka mampu menghasilkan 1.500 ton. Inilah peningkatan kekayaan riil.
Jumlah uang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan perekonomian, tetapi uang tambahan tanpa peningkatan produksi tidak menciptakan 500 ton beras baru.
Pada akhirnya, mencetak uang lebih banyak ibarat menambah jumlah tiket tanpa menambah jumlah kursi di stadion. Tiket memang semakin banyak, tetapi kursinya tetap sama. Jika semua orang ingin mendapatkan kursi, harga tiket justru bisa semakin mahal.
Itulah sebabnya negara tidak bisa menjadi kaya hanya dengan mencetak uang. Yang membuat masyarakat benar-benar lebih sejahtera bukan semakin banyak angka di rekening, melainkan semakin besar kemampuan ekonomi untuk menghasilkan barang, jasa, teknologi, dan pekerjaan yang bernilai.