Mengapa Soda yang Dikocok Lebih Banyak Mengeluarkan Buih?
© Pexels.com/The Full On Monet
Reporter : Abidah
Pada minuman bersoda, selama kaleng atau botol masih tertutup, tekanan membantu mempertahankan CO2 tetap berada di dalam minuman.
DREAM.CO.ID - Hampir semua orang yang pernah membuka botol atau kaleng soda mungkin pernah mengalami kejadian yang sama. Minuman baru saja dikocok, lalu tutup dibuka. Dalam hitungan detik, busa menyembur keluar dan membuat meja atau pakaian terkena percikan. Sebaliknya, soda yang dibiarkan tenang biasanya lebih mudah dibuka tanpa menghasilkan ledakan buih.
Mengapa perbedaan itu bisa terjadi? Jawabannya berkaitan dengan karbon dioksida (CO2), tekanan, dan terbentuknya gelembung kecil di dalam minuman. Soda sebenarnya menyimpan banyak gas CO2 yang sengaja dilarutkan ke dalam cairan menggunakan tekanan. Selama kaleng atau botol masih tertutup, tekanan membantu mempertahankan CO2 tetap berada di dalam minuman. Ketika kemasan dibuka, tekanan turun dan gas mulai mencari jalan untuk keluar.
CO2 yang Membuat Soda Berbuih
Rasa “bersoda” yang khas sebenarnya berasal dari karbon dioksida yang terlarut di dalam minuman. Ketika soda berada dalam kemasan tertutup, kondisi bertekanan membuat lebih banyak CO2 dapat bertahan di dalam cairan.
Begitu tutup dibuka, tekanan di atas permukaan minuman turun secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat cairan tidak lagi mampu mempertahankan seluruh CO2 yang sebelumnya terlarut. Gas kemudian mulai keluar dalam bentuk gelembung.
Jika soda dibiarkan tenang, proses keluarnya gas relatif lebih lambat. Sebagian CO2 tetap berada dalam cairan dan baru perlahan-lahan keluar melalui gelembung yang terbentuk. Lama-kelamaan, semakin banyak CO₂ yang hilang dan soda menjadi flat, atau tidak lagi memiliki sensasi berkarbonasi yang kuat.
Mengapa Mengocok Soda Membuatnya Lebih Berbusa?
Mengocok kaleng atau botol membuat cairan bergerak dengan kuat. Gerakan tersebut menghasilkan banyak gelembung kecil dan kantong-kantong gas di dalam soda.
Gelembung-gelembung kecil ini sangat penting karena CO2 yang sudah terlarut tidak perlu lagi memulai proses pembentukan gelembung dari nol. Gas dapat langsung bergabung dengan gelembung yang sudah ada, kemudian membuatnya membesar dan bergerak menuju permukaan.
Dengan kata lain, mengocok soda menyediakan banyak “tempat pelarian” bagi CO2. Hal serupa dapat terjadi ketika soda dituangkan dengan cepat ke dalam gelas. Turbulensi atau gerakan cairan menciptakan kondisi yang membantu terbentuknya gelembung sehingga CO2 lebih cepat meninggalkan minuman.
Ada Hambatan Saat Gelembung Pertama Kali Terbentuk
Mengapa CO2 tidak langsung berubah menjadi gelembung di seluruh bagian soda setelah kaleng dibuka?
Salah satu alasannya adalah tegangan permukaan. Molekul-molekul cairan saling tarik-menarik sehingga pembentukan gelembung baru membutuhkan energi. Gelembung yang masih sangat kecil menghadapi hambatan lebih besar karena permukaannya relatif besar dibandingkan volumenya.
Setelah sebuah gelembung berhasil terbentuk dan mencapai ukuran tertentu, pertumbuhannya menjadi lebih mudah. Molekul CO2 lain dapat masuk ke dalam gelembung tersebut sehingga ukurannya semakin besar. Karena itu, tahap paling sulit bukan membuat gelembung yang sudah ada menjadi lebih besar, melainkan memulai terbentuknya gelembung.
Dalam ilmu fisika, proses awal pembentukan gelembung ini berkaitan dengan nukleasi. Permukaan yang memiliki celah atau ketidaksempurnaan mikroskopis dapat menjadi tempat CO2 berkumpul dan mulai membentuk gelembung. Penelitian mengenai minuman berkarbonasi menunjukkan bahwa kotoran atau partikel mikroskopis juga dapat menjadi lokasi nukleasi gelembung.
Itulah Mengapa Soda yang Dikocok Bisa Menyembur
Ketika soda dikocok, banyak gelembung kecil terbentuk di dalam cairan. Begitu kaleng atau botol dibuka, tekanan turun dan CO2 yang terlarut semakin terdorong keluar. Gas kemudian masuk ke gelembung-gelembung yang sudah terbentuk, membuatnya membesar dengan cepat.
Gelembung yang membesar juga bergerak menuju permukaan. Ketika jumlahnya sangat banyak dalam waktu singkat, cairan ikut terdorong ke atas sehingga terbentuk busa dan semburan.
Jadi, mengocok soda tidak menciptakan lebih banyak karbon dioksida. Gas tersebut memang sudah berada di dalam minuman. Mengocok hanya membuat CO2 lebih mudah keluar dengan menyediakan banyak gelembung sebagai tempat awal.
Fenomena serupa sebenarnya dapat ditemukan pada berbagai minuman berkarbonasi. Gelembung muncul ketika CO2 yang terlarut keluar dari cairan, kemudian tumbuh dan bergerak menuju permukaan. Bahkan permukaan kasar suatu benda, seperti kristal garam atau gula, dapat menyediakan lokasi nukleasi yang membantu gelembung terbentuk lebih cepat.
Jadi, jika ingin membuka soda tanpa membuat dapur berubah menjadi arena semburan busa, jangan mengocoknya terlebih dahulu. Semakin banyak gelembung kecil yang terbentuk di dalam minuman, semakin mudah pula karbon dioksida menemukan jalan keluar ketika tekanan dilepaskan.